NEWSWANTARA – Dalam buku berjudul Sang Pemula dan Tetralogi Buru (Bumi Manusia, Anak Semua Bangsa, Jejak Langkah, Rumah Kaca), yang merupakan hasil karya sastrawan paling fenomenal, Pramoedya Ananta Toer telah berhasil menghidupkan kembali sebuah kisah seorang tokoh nyata ke dalam roman bertemakan sejarah.

Tetralogi Buru menceritakan seorang tokoh bernama Minke (diambil dari kata monkey), seorang tokoh di masa awal perjuangan kemerdekaan, yang data-data kepahlawanannya diceritakan terhapus (dan sengaja dihapus) oleh jaman.

Pram mengangkat sepak terjang tokoh yang digelari Bapak Pers Nasional, yaitu Raden Mas Djokomono Tirto Adhi Soerjo (a.k.a Minke), seorang putra bangsawan Jawa kelahiran Blora, Jawa Tengah 1880 yang lebih dikenal dengan nama kecilnya Djokomono.

Pada Bumi Manusia, Pram menggambarkan awal kisah cinta dramatis Minke dengan Annelies, Bunga Akhir Abad, seorang peranakan Belanda dengan pribumi bernama Sanikem yang kemudian lebih dikenal dengan nama Nyai Ontosoroh. Sosok Nyai Ontosoroh yang tegar dan lebih terpelajar ketimbang orang Belanda kemudian menjadi guru panutan Minke di kemudian hari.

Ayahnya, Raden Ngabehi Muhammad Chan Tirtodipuro adalah seorang petugas pajak, sedangkan kakeknya adalah Bupati Bojonegoro, Raden Mas Tumenggung Tirtonoto. Meski terlahir sebagai putra bangsawan Jawa, sosok Minke adalah tokoh yang berjuang dari bawah untuk mengangkat harkat dan martabat bangsanya di hadapan penjajah Belanda.

Sikap Tirto yang berbeda dari watak kebanyakan kastanya (bicara lugas, berani menentang ketidakadilan) membuatnya tersisih dari pergaulan saudara-saudaranya. Terutama, setelah ia menolak mentah-mentah meneruskan jabatan ayahnya.

Kegemarannya menulis mampu menghantarkannya pada dunia baru yang agung dan gemilang. Ia adalah seorang jurnalis pribumi pertama yang menulis dengan bahasa Melayu lingua franca. Ia adalah jurnalis dengan jangkauan gagasannya melambung jauh melebihi keadaan jamannya.

Baca Juga : Guru Bangsa Tjokroaminoto

Tirto menerbitkan surat kabar Soenda Berita (1903-1905), Medan Prijaji (1907) dan Putri Hindia (1908). Tirto juga mendirikan Sarikat Dagang Islam. Medan Prijaji kemudian dikenal sebagai surat kabar nasional pertama karena menggunakan bahasa Melayu (bahasa Indonesia), dan seluruh pekerja mulai dari pengasuhnya, percetakan, penerbitan dan wartawannya adalah pribumi Indonesia asli.

Medan_Prijaji

Di bawah judul surat kabar harian “Medan Prijaji” selalu tertulis moto: “Orgaan boeat bangsa jang terperentah di H.O. Tempat akan memboeka swaranya Anak-Hindia”. Pada zaman itu, mencantumkan moto seperti itu merupakan sebuah keberanian yang sangat luar biasa .

Tirto adalah orang pertama yang menggunakan surat kabar sebagai sebagai alat pergerakan serta media pengaduan bagi setiap pribumi yang diperlakukan tidak adil oleh kekuasaan. Dia juga berani menulis kecaman-kecaman pedas terhadap pemerintahan kolonial Belanda dan menentang paham-paham kolot pada masa itu.

Berita-berita yang dimuat diharian Medan Prijaji seringkali dianggap menyinggung pemerintahan Kolonial Hindia Belanda saat itu sehingga pada tahun 1912 Medan Prijaji terkena delik pers karena dianggap menghina Residen Ravenswaai dan Residen Boissevain yang dituduh menghalangi putera R. Adipati Djodjodiningrat (suami Raden Adjeng Kartini) menggantikan ayahnya.

Akhirnya Tirto ditangkap dan disingkirkan dari Pulau Jawa dan dibuang ke Pulau Bacan, dekat Halmahera (Provinsi Maluku Utara). Agustus 1912 Medan Prijaji akhirnya runtuh satu per satu dan omsetnya terus merosot, setoran dari para pelanggannya macet dan beberapa perusahaan menolak untuk memasang iklan.

Pada tanggal 7 Desember 1918 Tirto Adhi Soerjo sang pelopor jurnalistik tutup usia, dengan diantar rombongan sangat kecil jenazahnya dibawa ke peristirahatan terakhirnya di Mangga Dua kemudian dipindahkan ke Bogor pada tahun 1973. Tak satupun koran yang memuat kabar tentang kematiannya. Ia benar-benar telah dilupakan oleh bangsanya.

Pada 1973 Dewan Pers RI mengukuhkannya RM. Tirto Adhi Soerjo sebagai Bapak Pers Nasional karena jasa-jasanya sebagai Perintis Pers Indonesia. Lalu pada tanggal 3 November 2006, Tirto mendapat gelar sebagai Pahlawan Nasional dan Tanda Kehormatan Bintang Maha Putra Adipradana, melalui Keppres RI no 85/TK/2006.

”Seperti jamak menimpa seorang pemula, terbuang setelah madu mulia habis terhisap, sekiranya ia tak mulai tradisi menggunakan pers sebagai alat perjuangan dan pemersatu dalam masyarakat heterogen seperti Hindia, bagaimana sebuah nation seperti Indonesia akan terbentuk?”

~Pramoedya Ananta Toer~

Berikan Komentar Anda

avatar