Soenoe Soemosoesastro
Soenoe Soemosoesastro, tokoh geologi dan pertambangan nasional [Arsip Museum Geology Esdm]

NEWSWANTARA – Soenoe Soemosoesastro lahir di Klaten, Jawa Tengah pada 5 Oktober 1913 sebagai anak kedua dari lima bersaudara. Meskipun dirinya bergelar raden, Soenoe sebenarnya bukanlah seseorang yang memiliki darah ningrat.

Ayah Soenoe yang seorang guru mendapatkan gelar raden dari keraton Yogyakarta karena dinilai telah berjasa kepada keraton. Status Soenoe yang demikian itu membuatnya dapat mengenyam pendidikan di sekolah berbahasa Belanda yang diperuntukkan bagi kaum bangsawan pribumi dan pedagang kaya pada masa itu.

Soenoe berhasil menyelesaikan pendidikan dasar dan menengahnya di kota Malang (Jawa Timur). Kesempatan langka tersebut didukung pula oleh catatan leluhur Soenoe yang “bersih” dari unsur pemberontakan terhadap pemerintah kolonial Belanda.

Soenoe Soemosoesastro merupakan salah seorang tokoh geologi nasional yang menjadi peserta dalam Asistent Geologen Cursus (Kursus Asisten Geologi) angkatan pertama yang diselenggarakan oleh Dienst van den Mijnbouw (1939-1941).

Baca Juga : Rekam Jejak Sejarah Pertambangan di Indonesia

Bersama pemuda Indonesia lainnya (Arie Frederik Lasut), mereka mengambil alih kantor Chishitsu chosacho dari penguasa Jepang, sebulan setelah diproklamirkan kemerdekaan Republik Indonesia pada tanggal 17 Agustus 1945.

Jasa terbesar Soenoe bagi dunia geologi dan pertambangan di Indonesia adalah kepeloporannya dalam pengalihan istilah geologi dan pertambangan dari Bahasa Belanda ke Bahasa Indonesia.

Soenoe berpendapat bahwa dalam geologi harus ada wadah dan salah satu wadahnya adalah istilah. Melalui istilah inilah akan terbangun sebuah kesamaan persepsi tentang suatu fenomena di kalangan ahli geologi dan pertambangan Indonesia.

Dia memberikan dasar-dasar untuk pembentukan istilah geologi sementara Arie tidak begitu menaruh perhatian pada masalah ini. Soenoe juga membuat istilah untuk pembagian zaman dalam skala waktu geologi menjadi masa, zaman, kala, dan waktu.

Selain mengajar Soenoe juga mendidik, dia tidak hanya mendidik di kelas tetapi juga di lapangan. Dia orang pertama yang mengajak mahasiswa ke lapangan. Segi lapangan dari segi geologi tambang adalah usaha Soenoe memperkenalkan geologi kepada siswanya.

Bagi seorang Soenoe Soemosoesastro, geologi merupakan salah satu cara untuk menanamkan rasa cinta kepada Tanah Air, dan kunjungan ke lapangan akan menunjang tumbuhnya rasa cinta tersebut.

Soenoe wafat di Bandung pada tanggal 2 Maret 1956 setelah menjalani operasi batu ginjal di RS. Rancabadak (sekarang RS. Hasan Sadikin). Atas jasa-jasanya pemerintah Republik Indonesia menganugerahinya Bintang Jasa Karya Satya pada tahun 1981. Pada 17 Agustus 1995 Departemen Pertambangan dan Energi menganugerahinya Bintang Dharma Karya.


Sumber : Arsip museum geology Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral

Berikan Komentar Anda

avatar