Rohana Kudus Sang Pelopor Jurnalistik Kaum Perempuan
Rohana Kudus Sang Pelopor Jurnalistik Kaum Perempuan (Foto: Istimewa)

NEWSWANTARA – Dunia jurnalistik adalah dunia yang menarik. Najwa Shihab adalah salah satu seorang jurnalis yang cukup dikenal. Sosok yang kerap menjadi gambaran jurnalis dengan nyali besar. Saat ini, perempuan memiliki kebebasan untuk menggali potensi, salah satunya dengan menjadi seorang jurnalis.

Namun, mari sejenak kita sedikit menilik ke belakang. Siapakah sosok yang menjadi pelopor munculnya jurnalis perempuan di Indonesia, karena kita tahu, tak mudah bagi wanita untuk memperoleh kesempatan dan kebebasan mengekspresikan dirinya di depan khalayak dengan adanya catatan sejarah bahwa kaum wanita di Indonesia pernah dikekang.

(Baca Juga: Marsinah, Kartini Yang Dibungkam Karena Suara dan Perjuangannya)

Tanah Minang adalah tempat lahirnya seorang wanita bernama Roehana Koeddoes (Rohana Kudus). Ialah salah satu tokoh yang menggerakkan emansipasi kaum wanita. Meski tak seterkenal R.A. Kartini, kebebasan karir para jurnalis perempuan masa kini adalah bukti nyata hasil perjuangannya.

Dialah perempuan pertama yang menjadi jurnalis di Indonesia. Dia pulalah yang menjadi
pelopor bagi para jurnalis perempuan tanah air. Perempuan ini lahir di Kota Gadang, 20
Desember 1884. Ia merupakan putri dari Kiam dan Mohamad Rasjad Maharadja Soetan.

Perempuan ini merupakan saudara tiri dari Sutan Sjahrir, bersepupu dengan K.H. Agus Salim dan merupakan bibi dari Chairil Anwar. Ayahnya adalah seorang jurnalis. Sejak berusia 8 tahun, Roehana sudah mulai membaca surat kabar. Dari sanalah wawasannya menjadi terbuka, kala itu anak-anak perempuan minang tidak diperkenankan mengenyam pendidikan, sedang menurut Roehana kaum perempuan harus memeroleh pendidikan dengan belajar di sekolah.

(Baca Juga: Tirto Adhi Soerjo, Pahlawan Pers Yang Tersingkir Dari Sejarah)

Saat beranjak dewasa, Roehana hidup secara mandiri dan tidak bergantung kepada
orangtuanya. Ia pindah ke kota Medan hingga akhirnya dinikahi oleh Abdul Kudus, seorang
notaris berusia 24 tahun. Setelah menikah, Roehana sama sekali tidak dikekang dan mendapat dukungan kuat dari sang suami untuk memperjuangkan hak-hak perempuan.

Di usia 27 tahun, perjuangan Roehana tidak lagi dilakukan sendirian, Ia memiliki seorang
teman bernama Ratna Puti yang merupakan istri dari seorang Jaksa Kayutanam. Roehana pun mendirikan sebuah sekolah bernama Kerajinan Amai Setia atau KAS pada tahun 1911 dengan dukungan Ratna Puti. Di tempat inilah para perempuan diajarkan membaca, menulis dan berhitung. Tak hanya itu, Roehana juga mengajarkan berbagai macam keterampilan seperti menyulam dan menjahit.

Semenjak gemar membaca surat kabar, Roehana sering menulis puisi dan artikel, hingga saat ia mendirikan Sekolah Kerajinan Amai Setia Roehana masih terus menulis puisi dan artikel. Pada bulan Juli 1912, ia pun membuat sebuah surat kabar pertamanya yang sekaligus menjadi surat kabar perempuan pertama di tanah air. Surat kabar tersebut ia sebut dengan nama Sunting Melayu dimana pemimpin redaksi, redaktur dan penulisnya adalah kaum perempuan.

Pada tahun 1916 Ia dituduh melakukan penyelewengan keuangan oleh muridnya sendiri
dengan tujuan ingin menjatuhkannya dari jabatan Direktris dan Peningmeester. Persidangan dilaksanakan di Bukittinggi. Namun, ia tidak terbukti bersalah hingga kemudian jabatan tersebut dikembalikan padanya.

Setelah kejadian itu, Roehana menetap di Bukittinggi dan mendirikan Roehana School. Ia
pun mengajar sembari terus menjadi jurnalis dan memimpin koran Perempuan Bergerak serta menjadi redaktur koran Radio dan Cahaya Sumatera. Pada 17 Agustus 1972, Roehana wafat di Jakarta.

Perputaran zaman tidak akan pernah membuat perempuan menyamai laki-laki. Perempuan tetaplah perempuan dengan segala kemampuan dan kewajibannya

~Roehana Koddoes~