Pict : br-online.co

NEWSWANTARA – Pesawat N250 produksi IPTN (saat ini PT Dirgantara Indonesia) pernah berjaya saat lahir pada tahun 1995 silam. Pesawat yang menjadi kebanggaan bangsa Indonesia merupakan murni karya anak bangsa.  Keberadaan pesawat N250 ini tidak lepas dari tangan dingin Habibie. Pria kelahiran pare-pare dengan nama lengkap Dr. Ing. Bacharuddin Jusuf Habibie lahir di Sulawesi Selatan, pada 25 Juni 1936.

Prestasi B.J. Habibie telah diakui oleh dunia internasional, menemukan rambatan titik crack adalah salah satunya. Titik crack merupakan titik rawan kelelahan pada sambungan antara sayap dan badan pesawat terbang atau antara sayap dan dudukan mesin. Elemen inilah yang mengalami guncangan keras dan terus-menerus, baik ketika tubuhnya lepas landas maupun mendarat. Ketika lepas landas, sambungannya menerima tekanan udara (uplift) yang besar.

Ketika menyentuh landasan, bagian ini pula yang menanggung hempasan tubuh pesawat. Kelelahan logam pun terjadi, dan itu awal dari keretakan (crack). Perhitungannya yang dilakukannya sangat rinci, sampai pada hitungan atomnya.

Oleh dunia penerbangan, teori Habibie ini lantas dinamakan crack progression theory. Dari sinilah Habibie mendapat julukan sebagai Mr. crack. Tentu teorinya ini membuat pesawat lebih aman. Tidak saja bisa menghindari risiko pesawat jatuh, tetapi juga membuat pemeliharaannya lebih mudah dan murah.

Berkat prestasinya yang gemilang, Bacharuddin Jusuf Habibie dipercaya menjadi Kepala Departemen Riset dan Pengembangan Analisis Struktur di Hamburger Flugzeugbau (HFB). Kala itu tugas utamanya adalah memecahkan masalah kestabilan konstruksi bagian belakang pesawat Fokker 28. Hebatnya, hanya dalam kurun waktu 6 bulan, persoalan tersebut mampu dipecahkan.

Habibie hanya sampai tahun 1969 saja di HFB, karena dilirik oleh Messerschmitt Boelkow Blohm Gmbh (MBB), industri pesawat terbesar yang bermarkas di Hamburg. Di tempat yang baru ini, karier Habibie meroket. Jabatan Vice President/Direktur Teknologi MBB disabetnya tahun 1974. Hanya Habibie-lah, orang diluar kebangsaan Jerman yang mampu menduduki posisi kedua tertinggi itu.

Dalam bentuk penghargaan, Habibie menerima Award von Karman (1992) yang di bidang kedirgantaraan boleh dibilang gengsinya hampir setara dengan Hadiah Nobel. Dan dua tahun kemudian menerima penghargaanyang tak kalah bergengsi, yakni Edward Warner Award.

Beliau juga mendapat gelar Doktor Kehormatan (Doctor of Honoris Causa) dari berbagai Universitas terkemuka dunia, antara lain Cranfield Institute of Technology dan Chungbuk University.

Memegang 46 hak paten di bidang Aeronautika dunia, tidak membuatnya lupa dengan tanah kelahirannya. Tahun 1978, Habibie kembali ke Indonesia dan kemudian berkiprah dalam upaya pengembangan teknologi kedirgantaraan di Indonesia, Hasilnya antara lain pesawat terbang pertama buatan Indonesia CN-235 dan N-250. Prestasi keilmuan Habibie mendapat pengakuan di dunia internasional.

Ia menjadi anggota kehormatan berbagai lembaga di bidang dirgantara hingga membuat raksasa produsen pesawat dunia boeing dan airbus ketar-ketir. sukses melahirkan N-250 pada Agustus 1996, PT Dirgantara Indonesia (PT DI) di bawah besutan B.J Habibie pernah berencana melahirkan prototipe pesawat lebih maju. Proyek N-2130 hanya tinggal secarik kertas yang tak pernah terwujud barangnya.

Pesawat CN-235 besutan Habibie yang kini telah digunakan oleh angkatan udara di beberapa negara dunia, pict : id.wikipedia.org
Pesawat CN-235 besutan Habibie yang kini telah digunakan oleh angkatan udara di beberapa negara dunia, pict : id.wikipedia.org

Mengejar ketinggalan yang ada, habibie kembali merancang pesawat R80 yang ditargetkan akan dibuat pada tahun 2016. Pesawat ini diklaim lebih unggul dari pesawat jenis ATR 72-600 buatan Perancis-Italia. Pesawat yang memiliki banyak kelebihan pada jenisnya dikembangkan oleh Mantan Presiden B.J Habibie dan putranya ini diklaim bisa menghemat 10-15% konsumsi bahan bakarnya dibanding ATR 72.

Gagasan yang telah digulir hingga wacana yang telah disusun diharapkan membawa harapan baru pada dunia penerbangan nasional. Prestasi yang mengangkat wibawa bangsa pernah ditorehkan oleh anak bangsa, berjalan proyek R80 ini diharapkan mengembalikan nawacita bangsa menuju bangsa yang disegani serta dihormati di dunia internasional

Berikan Komentar Anda

avatar