Kapten Anumerta Pierre Tendean
Kapten Anumerta Pierre Tendean (Foto: Istimewa)

NEWSWANTARA – Jika kita mengingat tragedi Gerakan 30 September atau G30S, nama Pierre Tendean tentu cukup melekat karena ia telah menjadi salah satu korban dari gerakan tersebut. Saat itu, Pierre Tendean tengah menjadi ajudan Jenderal Nasution.

Seorang pria gagah, putra dari Aurelius Lammert Tendean dan Maria Elizabeth Cornet merupakan pria berdarah campuran Minahasa dan Perancis. Meski begitu, ia telah memiliki tekad kuat untuk menjadi seorang tentara sejak kecil. Di usia muda, ia telah tergabung dalam operasi penumpasan PRRI di Sumatera dengan pangkat Kopral Taruna.

(Baca Juga: Frans Kaisiepo, Pahlawan Nasional Pencetus Nama Irian)

Sepanjang perjalanan karirnya, seorang Pierre adalah pemuda yang penuh semangat. Siapapun yang melihatnya tentu akan berpikir bahwa ia akan menapaki jalan karir yang terus meningkat. Namun, peristiwa yang terjadi pada 1 Oktober 1965 telah memupus semua perjuangan yang pernah dilaluinya.

Pierre Tendean menjadi satu di antara tujuh Pahlawan Revolusi yang menjadi korban Gerakan 30 September 1965. Pierre merupakan anak bungsu dari tiga bersaudara, sejak kecil ia telah menjadi putra kesayangan karena sifat dan sikapnya yang cerdas.

Ia tumbuh di lereng Gunung Merapi, Jawa Tengah, bergaul dengan anak-anak kampung yang memiliki aneka macam kebudayaan. Ia pun menempuh pendidikan Sekolah Dasar di Magelang dan menempuh pendidikan Sekolah Menengah Pertama di Semarang.

(Baca Juga: Belajar Sikap Patriotisme Dari Nurtanio Pringgoadisuryo)

Tak hanya sekedar tampan, Pierre juga memiliki hasil prestasi yang menonjol. Ia pun semakin bertekad untuk menjadi tentara karena kecintaannya pada negara, meski ayahnya berharap ia dapat melanjutkan pendidikan di perguruan tinggi di Fakultas Kedokteran.

Akhirnya, ia memutuskan untuk mengikuti tes masuk ke Akademi Militer jurusan teknik juga tes masuk ke Fakultas Kedokteran. Namun, Pierre lebih memilih masuk ke Akademi Militer ketika diterima di Akademi Militer Teknik Angkatan Darat (Aktekad) Bandung pada 1958.

Pada tahun 1962 ia lulus dan dilantik sebagai Letnan Dua. Karirnya semakin berkembang dengan baik. Pierre tak hanya cerdas secara akademik, di bidang olahraga ia pun selalu menjadi pusat perhatian terutama dalam pertandingan voli dan bola basket. Karena ketampanannya, Pierre bahkan sering dijuluki sebagai Robert Wagner, seorang bintang film terkenal di Amerika.

Pierre dikenal sebagai sosok yang humble sehingga mudah bergaul. Hal itu memudahkannya menjalin relasi di dunia militer. Ia pernah ditempatkan dalam kesatuan Zeni tempur dalam Operasi Sapta Marga. Sementara jabatan berikutnya ialah sebagai Komandan Peleton di Batalyon Zeni Tempur 2/DAM II Medan.

Pierre bahkan pernah menelusup ke Malaysia sebanyak tiga kali dengan menyamar sebagai turis dan masuk ke Dinas Pusat Intelijen Angkatan Darat atau DIPLAD. Hingga ketiga kalinya ia sempat dikejar oleh tentara Inggris, namun berhasil lolos akibat kecerdikannya.

Sebelum menjadi ajudan Jenderal A.H. Nasution, Pierre sempat diperebutkan untuk menjadi ajudan Jenderal Dandi Kadarsan dan Jenderal Hartawan hingga akhirnya resmi menjadi ajudan Jenderal A.H. Nasution pada 15 April 1965 dengan bergelar pangkat Letnan I.

Sebelum pada akhirnya menjadi korban Gerakan 30 September, Pierre telah berhubungan dengan seorang gadis bernama Rukmini dan hendak menikahinya. Namun, ketentuan Tuhan telah berkata lain, kini namanya dikenang sebagai salah satu Pahlawan Revolusi.