Pict : pedasmag.com

NEWSWANTARA – Banyak yang beranggapan bahwa dongeng atau cerita rakyat kini keberadaannya sudah tidak diminati lagi oleh masyarakat Indonesia, terutama anak-anak dan orang tua yang hidup pada generasi saat ini.

Dongeng bahkan sudah dianggap sesuatu yang ketinggalan zaman dan tak layak untuk dinikmati oleh anak-anak, karena perannya sudah digantikan oleh dunia hiburan atau materi pendidikan lain yang lebih modern dengan berbasis elektronik.

Namun hal tersebut tidak berlaku bagi Made Taro, seorang seniman bali sekaligus pendongeng kelahiran Desa Sengkidu, Kecamatan Manggis, Kabupaten Karangasem, Bali tahun 1939. Bersama Sanggar Kukuruyuk yang didirikannya, Made Taro berhasil mempopulerkan konsep mendongeng sambil bermain bagi anak-anak.

Made Taro yang pernah mengenyam pendidikan Arkeologi di Fakultas Sastra Universitas Udayana tersebut meyakini bahwa, dongeng merupakan salah satu media yang paling efektif dalam membangun kepribadian dan karakter anak.

Perjalanan mendongengnya dimulai pada tahun 1973, pada saat usianya 40 tahun ia melihat seorang anak yang sedang termenung di depan rumah guru SMA-nya. Kemudian dia berpikir untuk mengumpulkan anak-anak usia 4-10 tahun dan yang terkumpul hanya 8 orang saja.

Made Taro kemudian mengajak mereka membuat baling-baling, layang-layang, dan bermain petak umpet. Mereka pun langsung ceria dan tertawa bersama Pak Made. Tak hanya itu, sebagai tujuan utamanya dalam membangun pribadi anak, beliau juga membacakan dongeng rakyat untuk mereka.

Disetiap dongengnya, Made Taro selalu menanamkan nilai-nilai akan kejujuran, percaya diri, mandiri, saling mengasihi dan rasa hormat pada orang tua. Karena pada hakikatnya dongeng merupakan sebuah cerita yang mengandung nilai-nilai budi pekerti yang diperdengarkan oleh para orang tua kepada anak-anaknya.

Sudah lebih dari 30 tahun Made Taro mengabdikan dirinya untuk mendongeng, menulis cerita, lagu anak-anak, juga melestarikan, memodifikasi, dan menciptakan berbagai permainan tradisional. Hingga saat ini, belum pernah sekalipun terbersit di benaknya untuk berhenti.

Suami dari Wayan Wati itu mengaku melakoni semuanya karena senang, karena itu pula karya-karyanya terus menerus mengalir. Daya kreatif dan imajinasinya tetap bergerak, seakan tak berbatas. Seperti kenangan masa kanak-kanaknya yang terus berkelindan, tak henti-hentinya mengusik dan mengundang kreatifitasnya.

Beberapa alat musik tradisional yang diciptakannya di antaranya tumbung, toktek, dan kempli. Umumnya kempli dibuat dari perunggu atau logam, hanya saja ia lebih senang menggunakan bambu.

Ditengah usianya yang semakin renta, Made Taro tak pernah berhenti untuk dekat dengan dunia anak-anak. Kini setiap hari Rabu dan Minggu, Taro tetap datang ke Sekolah Dasar 18 Dauh Puri Denpasar, mengajak anak-anak untuk bermain, mengolah tubuh, berlarian kesana kemari, sambil berdendang, menyanyikan lagu-lagu rakyat, yang membuat hari-harinya menjadi semakin berguna.

Dengan perkembangan zaman sekarang sudah semakin modern serta kondisi fisik yang semakin tua bukan menjadi alasan untuk berhenti mengabdi membangun anak bangsa yang berkarakter. Kecintaannya terhadap dunianya mengalahkan kondisi fisiknya yang semakin rentan diterpa zaman.

Meskipun minat masyarakat pada dongeng yang semakin merosot, tetapi Made Taro optimis bahwa hal tersebut hanya berlangsung sementara. Dongeng dan nilai-nilai luhur yang ada di dalamnya nantinya akan diingat kembali oleh masyarakat. Selain itu, Made Taro juga berharap, dongeng maupun permainan tradisional akan tetap berkembang dan diminati oleh masyarakat Indonesia.

Berikan Komentar Anda

avatar