Sayuti Melik & SK Trimurti
Sayuti Melik dan SK Trimurti dengan kedua anaknya (Dok. Keluarga SK Trimurti)

NEWSWANTARA – Di antara sekian banyak kisah cinta, asmara Sayuti Melik dan SK Trimurti merupakan salah satu kisah yang menggugah. Mengulik kisah cinta antara sepasang pejuang tentu tidak sesederhana kisah cinta anak muda zaman sekarang.

Sebagian besar dari kita mengenal Sayuti Melik sebagai seorang yang berjasa mengetik teks Proklamasi Kemerdekaan Indonesia. Namanya selalu muncul di buku-buku sejarah
Indonesia.

(Baca Juga: Cerita Tentang Kesederhanaan dan Kejujuran Mohammad Hatta)

Pada tahun 1937 ia bertemu dengan Trimurti saat bekerja sebagai penulis di salah satu media publikasi bernama Harian Sinar Selatan. Dalam karir perjuangannya, ia jatuh cinta pada Trimurti yang seorang anggota pasukan pengibar bendera pusaka yang pertama. Seorang gadis yang lahir di Boyolali pada 11 Mei 1912.

Gadis lulusan Fakultas Ekonomi UI ini telah aktif di Partai Indonesia atau Partindo. Tak
hanya itu, ia pun berprofesi sebagai guru SD. Semasa remaja, keduanya sering
mendiskusikan berbagai macam hal mulai dari teori, strategi hingga siasat dalam perjuangan.

Hingga pada suatu ketika, Sayuti mengutarakan isi perasaannya kepada Trimurti. Namun,
meski telah menyatakannya dengan berani, cinta Sayuti tak lantas langsung diterima.
Trimurti meminta waktu untuk menjawabnya.

(Baca Juga: Soenoe Soemosoesastro, Sang Pejuang Tambang dan Geologi Nasional)

Keduanya memang kerap berbeda pendapat soal pandangan politik. Bahkan masih muncul
pertanyaan di benak masing-masing apakah mereka saling mencintai. Hingga akhirnya
Trimurti memutuskan untuk menerima pernyataan Sayuti dan mereka menikah setahun
setelah mereka bertemu tepatnya pada 19 Juli 1938.

Meski akhirnya bisa bersatu, kehidupan pernikahan mereka tak selalu bisa dijalani bersama-sama karena dua orang ini sering menjadi sasaran untuk dijebloskan ke penjara. Mereka menjalankan kehidupan pernikahan dengan saling membagi tugas untuk menjaga buah hati mereka.

Meski banyak lika-liku kehidupan yang mereka lalui, keduanya tak pernah lupa dengan misi
kemerdekaan. Dengan tetap saling melindungi, mereka memperjuangkan kemerdekaan
dengan cara masing-masing.

Setelah kemerdekaan Republik Indonesia terwujudkan, barulah mereka bisa merasakan
keutuhan sebuah rumah tangga setelah sebelumnya sering terpisah akibat perjuangan.
Sebagai manusia, keduanya juga bisa merasakan rindu yang teramat-sangat. Pada tahun 1950 saat berada di Jakarta, Trimurti mendapatkan sebuah pesan yang menyatakan bahwa Sayuti tengah mengalami sakit parah.

Ia pun segera bergegas menuju Yogyakarta. Sesampainya di sana, ia dapati Sayuti tak sakit sedikitpun. Rupanya, suaminya itu hanya ingin bertemu dengan Trimurti untuk menyeka rindunya pada sang istri.

Romantika cinta mereka sering terbatas oleh jarak dan waktu, hingga akhirnya Sayuti jatuh cinta pada Siti Rancari. Ia pun bercerai dengan Trimurti pada 8 Juli 1969. Meski kisah cinta mereka harus berakhir, tak ada keributan setelah perceraian tersebut. Mereka hidup masing-masing dalam kedamaian.

Pada tahun 1989, Sayuti meninggal setelah mengalami sakit selama setahun tepatnya pada tanggal 24 Februari. Ia dimakamkan di TMP Kalibata. Sedangkan Trimurti tutup usia pada 20 Mei 2008 tepat pada umur ke 96 tahun dan dimakamkan di pemakaman yang sama.