Presiden ketiga Republik Indonesia Bacharuddin Jusuf (BJ) Habibie.
Mendiang Presiden ketiga Republik Indonesia Bacharuddin Jusuf (BJ) Habibie. (Foto: CNN Indonesia/Safir Makki)

NEWSWANTARA – Sosok mendiang Presiden ketiga Republik Indonesia Bacharuddin Jusuf (BJ) Habibie dinilai telah berjasa besar terhadap kemajuan industri dirgantara di Indonesia. Pada tahun 1976, ia mendirikan pabrik pesawat dengan nama PT Indonesia Pesawat Terbang Nurtanio, yang kala itu menjadi satu-satunya pabrik pesawat di Asia Tenggara. Pabrik itu kemudian berganti nama menjadi Industri Pesawat Terbang Nusantara (IPTN) pada tahun 1985, sampai akhirnya sekarang dikenal sebagai PT Dirgantara Indonesia.

Lewat pabrikan pesawat tersebut, Habibie menjadi pelopor kemajuan era teknologi industri penerbangan modern di Indonesia. Jenis mesin pesawat terbang yang dikembangkannya adalah turbo propeller. Kebanyakan pesawat rancangan Habibie digunakan sebagai pesawat patroli laut.

(Baca Juga: Mengenang Sejarah Pesawat Indonesia Pertama Dakota RI-001)

Habibie mampu menangkap pangsa pasar yang besar dari keadaan Indonesia yang merupakan negara kepulauan yang mempunyai bandara kecil berjumlah hampir 200-an yang dapat didarati oleh pesawat jenis propeller. Belum lagi di ASEAN.

Karena keandalannya, di era 90-an, Indonesia mampu mengekspor pesawat buatan Habibie ke sejumlah negara di dunia diantaranya yaitu Qatar, Kuwait, Korea Selatan, Pakistan, Thailand, dan Filipina. Bahkan, Amerika juga pernah membeli. Tidak hanya sebagai pesawat patroli laut, pesawat keluaran IPTN juga dipakai untuk kepentingan militer dan komersial.

(Baca Juga: Belajar Sikap Patriotisme Dari Nurtanio Pringgoadisuryo)

Industri penerbangan yang dirintis Habibie sempat terkena pukulan di era krisis moneter tahun 1997-1998. Ketika itu, pemerintah Indonesia harus menutup IPTN karena dianggap sebagai industri mercusuar oleh Dana Moneter Internasional (IMF). Salah satu persyaratan dari IMF agar mau memberikan bantuan ialah Indonesia diwajibkan untuk menghentikan proyek mercusuar, salah satunya industri pesawat terbang milik Habibie harus diberhentikan.

Saat ini, PT Dirgantara Indonesia (Persero) telah berkembang dan menjadi pabrikan pesawat terbang yang cukup handal. Beberapa produk dari PT Dirgantara Indonesia antara lain pesawat CN-235 dan Heli Super Puma.

Dengan dukungan dari pemerintah, perusahaan tengah menjajaki untuk memproduksi pesawat tipe C295 dan N219. Tidak hanya itu saja, perusahaan juga telah bekerja sama dengan Korea Selatan untuk mengembangkan jet tempur generasi 4,5 yang dirancang dengan mengadopsi teknik geometri pesawat siluman KFX/IFX.