pict : youtube.com

NEWSWANTARA – Musabaqah Hifzil Quran Internasional (MHQ) yang digelar di Sharm El-Sheikh, Mesir pada 10-14 April 2016 yang lalu diikuti oleh 80 orang yang berasal dari 60 negara. Dalam ajang perlombaan tersebut Indonesia mengirimkan utusannya yang diwakili oleh Musa La Ode Abu Hanafi yang waktu itu usianya baru menginjak 7 tahun.

Selain Indonesia dan tuan rumah Mesir, terdapat beberapa negara yang turut berpartisipasai dalam ajang perlombaan tersebut, diantaranya adalah, Sudan, Arab Saudi, Kuwait, Maroko, Chad, Mauritania, Bahrain, Nigeria, Malaysia, Brunei Darussalam, Filipina, Thailand, Australia, Ukraina, Yaman, Aljazair

Musa La Ode bukanlah yang pertama membawa harum nama Indonesia, tapi musa menjadi salah satu peserta yang istimewa karena usianya yang tegolong masih belia. Andai saja musa ikut kejuaraan tersebut dalam beberapa tahun kemudian, bukan hal yang tidak mungkin jika dirinya akan menjadi yang terbaik.

Dengan usianya yang masih masih belia, Musa La Ode masih memiliki kendala untuk melafalkan huruf “R”, tapi jangan tanya soal hafalan al-Qur’an, Musa kecil berhasil membuat pemerintah Mesir takjub. Selain mendapat juara 3, Musa mendapat undangan kehormatan dari pemerintah Mesir untuk menghadiri peringatan Malam Lailatul Qadar yang diadakan pada Ramadhan tahun ini.

Disebutkan juga bahwa Presiden Mesir akan secara langsung memberikan penghargaan kepada Musa La Ode. Prestasi yang ditorehkan musa membuat takjub para undungan tidak terkecuali Presiden Mesir. Pemerintah Mesir akan menanggung biaya tiket dan akomodasi selama mereka berada di Mesir.

Koordinator Fungsi Pensosbud KBRI Kairo, Lauti Nia Astri Sutedja merilis beberapa keterangan kepada media bahwa, Prof. Dr. Mohamed Mochtar Gomaa yang merupakan Menteri Wakaf Mesir juga turut menyampaikan ketakjubannya kepada Musa La Ode sebagai peserta berusia paling kecil dan tidak bisa berbahasa Arab, tapi mampu menghapal Al-Qur’an dengan sempurna.

Dalam perlombaan tersebut, Musa berhasil melewati berbagai soal yang diujikan, dan juga membuat takjub para dewan hakim. Musa La Ode, biasa disapa Abang Musa. Adalah putra dari pasangan Laode Abu Hanifa dan Yulianti.

Ibunda Musa, Yulianti mengaku sangat gembira mendengar kabar tentang anaknya yang telah berhasil menjadi juara di Mesir. Musa La Ode yang Lahir di Bangka Barat pada 26 Juli 2008, merupakan anak pertama dari empat bersaudara yang segaligus kakak dari Lukman, Hindun dan Zainal.

Seperti layaknya anak kecil, musa pun mengalami kesulitan saat pertama bejalar al Qur’an. Seperti yang disampaikan ibunya pada salah satu media online, “awalnya Musa susah belajar Al-Qur’an, tapi karena Abinya yang tetap istiqomah dan bersabar dalam mendidik ilmu agama alhamdulillah hasilnya bagus”.

Keberhasilan yang didapatkan Musa datang berkat dukungan penuh dari kedua orang tuanya. Menanamkan disiplin yang tinggi salah satu kunci keberhasilan Musa. Nilai disiplin yang ditekankan orang tua Musa dapat dilihat dari pembagian waktu yang diberikan kepada anak-anaknya.

Seperti untuk satu minggu, anak-anaknya diberi kesempatan satu hari untuk bermain, selebihnya belajar. Walaupun prestasi Musa telah diakui, kedua orang tua Musa selalu menekankan kepada anak-anaknya untuk terus belajar. Bersabar mengajarkan anak-anaknya untuk menjadikan anak yang patuh dijadikan tantangan untuk terus berbuat.

Potensi Musa yang telah diakui Dunia diharapan bisa menginspirasi para orang tua lainnya dari apa yang telah dilakukan oleh kedua orang tua Musa. Pesan orang tua Musa Kepada para orang tua, jangan pernah patah semangat untuk terus mendidik ilmu agama kepada anaknya.


Baca Juga :

Berikan Komentar Anda

avatar