Tjokroaminoto

NEWSWANTARA – Dalam banyak literatur, Bung Karno selalu menyebut nama Tjokroaminoto sebagai guru sekaligus pujaannya di kala mudanya. Bung Karno tidak pernah menafikan peran Tjokroaminoto yang menggembleng Soekarno muda dengan sekeras-kerasnya.

Bung Karno sering membuntuti Tjokro yang ketika itu berusia 30-an tahun, berkeliling dari satu daerah ke daerah lain, menjadi guru ngaji, tetapi juga menyelipkan pesan-pesan perjuangan, tebaran-tebaran semangat untuk merdeka, lepas dari penindasan bangsa Belanda kala itu.

“Jika kamu ingin menjadi pemimpin besar, menulislah seperti wartawan dan berbicaralah seperti orator”  

~H.O.S Tjokroaminoto~

Salah satu kalimat yang memberikan pesan kepada generasi penerus untuk tetap bersemangat menggapai apa yang diinginkan, menyuarakan semangat pembaharuan agar bisa menjadi pemimpin di masa sekarang maupun di masa yang akan datang, paling tidak mampu memimpin dirinya sendiri. 

Raden Hadji Oemar Said Tjokroaminoto atau H.O.S Cokroaminoto lahir di Ponorogo, Jawa Timur, 16 Agustus 1882 dan meninggal di Yogyakarta, 17 Desember 1934 pada umur 52 tahun. Tjokroaminoto adalah anak kedua dari 12 bersaudara dari ayah bernama R.M. Tjokroamiseno, salah seorang pejabat pemerintahan pada saat itu. Kakeknya, R.M. Adipati Tjokronegoro, pernah juga menjabat sebagai bupati Ponorogo.

Sebagai salah satu pelopor pergerakan nasional, ia mempunyai beberapa murid yang selanjutnya memberikan warna bagi sejarah pergerakan Indonesia, yaitu Musso yang sosialis/komunis, Soekarno yang nasionalis, dan Kartosuwiryo yang agamis. Namun ketiga muridnya itu saling berselisih.

Baca Juga : Tirto Adhi Soerjo, Pahlawan Pers Yang Tersingkir Dari Sejarah

Pada bulan Mei 1912, Tjokroaminoto bergabung dengan organisasi islam yaitu Sarekat Islam. Dalam perjuangan membela bangsa, negara dan menegakkan Islam di Indonesia, Umat Islam mendirikan berbagai organisasi dan partai politik dengan corak dan warna yang berbeda-beda.

Ada yang bergerak dalam bidang politik, sosial budaya, pendidikan, ekonomi dan sebagainya. Namun semuanya mempunyai tujuan yang sama, yaitu memajukan bangsa Indonesia khususnya umat Islam dan melepaskan diri dari belenggu penjajahan.

Tercatat dalam sejarah, bahwa dari lembaga-lembaga tersebut telah lahir para tokoh dan pejuang yang sangat berperan baik di masa perjuangan mengusir penjajah, maupun pada masa pembangunan  Tjokroaminoto bukan “mengajar”, tapi dia mendorong anak didiknya untuk bisa menentukan tujuannya sendiri (self direction). Ia tidak pernah takut menjadi berbeda dan memiliki warna sendiri, walaupun risikonya adalah penolakan dan perlawanan dari lingkungan (risk taker).

Di luar segala kontroversi tentang tokoh-tokoh tersebut, bisa dilihat keberagaman murid-murid Cokroaminoto: Soekarno yang nasionalis, Semaun yang sosialis, dan Kartosuwiryo yang Islam fundamentalis. 

Guru yang hebat bukanlah guru yang mengharuskan muridnya memberi warna merah untuk bunga mawar atau biru untuk laut. Guru yang hebat bukan karena semua muridnya pemenang olimpiade Matematika, bukan karena semua muridnya diterima di perguruan tinggi negeri. Bukan juga karena semua muridnya jadi dokter atau insinyur. Guru yang hebat bukan pula guru yang menghasilkan murid ‘seragam’, tapi murid yang ‘beragam’.

Berikan Komentar Anda

avatar