Frans Kaisiepo
Frans Kaisiepo

NEWSWANTARA – Sejarah Papua tak lepas dari tokoh Frans Kaisiepo yang dikenal sebagai pencetus nama Irian dalam Konferensi Malino tahun 1946 di pegunungan Lompobattang, Sulawesi Selatan. Saat itu, Ia menjadi salah satu anggota delegasi RI satu-satunya yang berasal dari Papua.

Baca Juga:

Konferensi yang digagas oleh pimpinan NICA Jenderal Van Mook tersebut bertujuan untuk membentuk negara federal. Frans Kaisiepo mengganti nama Papua karena dianggap merendahkan martabat masyarakatnya.

Ide Frans Kaisiepo merubah nama Papua menjadi Irian karena memiliki arti “Negeri Diatas Awan”, nama Irian bahkan diberi makna menjadi ikut Republik Indonesia anti Netherland, namun pada tahun 2002 Presiden Abdurrahman Wahid kembali menggunakan nama Papua.

Frans Kaisiepo lahir di Wardo, Biak, Papua, 10 Oktober 1912. Peran Frans sangat penting dalam mempersatukan Indonesia dan Irian Barat yang kala itu masih di bawah kekuasaan Belanda. Ia bersama Pemuda Republik mengibarkan bendera merah putih dan menyanyikan Indonesia Raya pertama kali di bumi Cendrawasih setelah Soekarno-Hatta memproklamasikan kemerdekaan Indonesia.

Upaya Belanda untuk tetap menguasai Papua dan menjadikannya negara boneka digagalkan Indonesia dengan operasi Trikora (Tri Komando Rakyat) pada 1 Desember 1961. Kala itu, Belanda menetapkan wilayah itu dengan nama Papua Barat.

Mereka juga memerintahkan masyarakat untuk mengibarkan bendera baru, Bintang Kejora. Bentuknya, bintang putih dengan latar merah berpadu dengan garis-garis biru-putih horizontal. Pada 1 Mei 1963, wilayah ini dikembalikan dari Kerajaan Belanda ke NKRI. Pemerintah Republik Indonesia kemudian merubah nama Papua Barat menggunakan nama warisan dari Frans, Irian Barat.

Karir Frans sebagai aktivis dan politikus melesat ketika dirinya menjabat sebagai gubernur Irian Jaya (tahun 1964 hingga 1973) dan ikut dalam Penentuan Pendapat Rakyat (PEPERA) tahun 1969. PEPERA akan menentukan apakah rakyat Papua pemilih tetap dalam wilayah Republik Indonesia atau berpisah meski hasil PEPERA masih dianggap kontroversi.

Setelah bergabungnya tanah Papua ke wilayah NKRI, Frans ditugaskan ke Jakarta sebagai anggota MPR RI perwakilan daerah Papua pada tahun 1972. Terakhir dirinya menjabat sebagai Dewan Pertimbangan agung sampai tahun 1979.

Frans Kaisiepo tutup usia pada 10 April 1979 di Jakarta. Jasadnya disemayamkan di Taman Makam Pahlawan Cendrawasih, Biak, Papua. Namanya kini telah diabadikan menjadi nama Bandar Udara Internasional Biak, tak hanya itu Balai Pendidikan dan Pelatihan Pelayaran Sorong menyematkan nama Frans Kaisiepo untuk kapal latihan.

Ia kemudian ditetapkan sebagai Pahlawan Nasional menurut Keputusan Presiden nomor 077/TK/1993, bertepatan dengan 30 tahun Papua kembali ke Indonesia. Dia juga dikenang sebagai satu dari penerima penghargaan Bintang Maha Putera Adi Pradana Kelas Dua.

Desember 2016 Bank Indonesia bersama Presiden Joko Widodo meresmikan peluncuran uang Rupiah kertas dan Logam tahun emisi 2016. Untuk pertama kalinya, Frans Kaisiepo, pahlawan nasional asal Papua ini menjadi tokoh utama dalam pecahan uang Rp10.000.

Berikan Komentar Anda

avatar