pict : twitter.com

NEWSWANTARA – Sejak kecelakaan menimpahnya, harapan seakan menjadi angan untuk segera dapat mewujudkannya. Mobil yang ditumpanginya mengalami kecelakaan dalam perjalan menuju daerah Ciputat, Tangerang.

Indera penglihatan Sikdam normal sejak ia lahir pada 5 Juli 1989 sampai dia berumur 21 tahun. Semua baru berubah pada suatu siang sekitar tahun 2010. Saat itu adalah saat terakhir Sikdam Hasyim bisa menikmati indahnya warna-warni dunia melalui kedua matanya.

Satu setengah tahun terkungkung dalam depresi, stres berat, sampai keinginan bunuh diri sempat terlintas di dalam benaknya. Dia merasa hidup tidak lagi berguna, masa depan tak berarti tanpa mata.

Titik baliknya ketika ibunda Sikdam membawanya ke panti-panti penyandang disabilitas. Di sana dia diberi tahu tentang penghuni panti yang tidak bisa melihat, tidak bisa berjalan, mengalami keterbelakangan mental, dan tidak mendapat rasa kasih sayang dari keluarga.

Kejadian itulah yang membuat semangat Sikdam kembali. Perlahan dia mulai bangkit, melakukan apa yang sebelumnya pernah dia lakukan dalam keadaan dengan pengelihatan yang normal, berorganisasi dan terlibat dalam forum diskusi.

Sikdam Hasim yang merupakan seorang sarjana Bahasa Inggris itu juga mengajarkan Bahasa Inggris ke anak-anak kurang mampu dan menjadi relawan di beberapa yayasan tanpa mengharap bayaran.

Lewat upaya-upayanya, juga prestasinya, Sikdam ingin menyuarakan kepentingan para penyandang disabilitas, membawa sedikit terang ke dunia gelap mereka. Keterlibatan Sikdam dalam banyak kegiatan sosial, baik terkait disabilitas maupun tidak, membawanya namanya mencuat di kancah internasional.

Tahun 2013 dia mewakili Indonesia di Konferensi Global Pemuda Penyandang Disabilitas di Kenya, Afrika. Tahun itu dia juga membentuk Disabilities Youth Centre Indonesia yang diketui oleh dia sendiri. Lembaga swadaya beranggotakan ribuan penyandang disabilitas usia 12-30 tahun dari Aceh sampai Papua itu dibentuk untuk membela kepentingan kaum difabel.

Dedikasi seorang Sikdam Hasyim yang tinggi dalam memperjuangkan hak-hak para penyandang disabilitas dia mendapat International Award for Young People dari Pangeran Philip, Duke of Edinburgh pada tahun 2014.

Ajang penghargaan yang telah diselenggarakan sejak 70 tahun lalu itu, diakui di 140 negara di dunia. Tidak hanya itu, menjadi pembicara di Indonesia Youth Day Conference, serta mengikuti International Study Program 2015 di Korea Selatan dan dua kali berkesempatan menyampaikan pidato tentang disabilitas di hadapan parlemen Korea Selatan.

Sikdam merasa lebih banyak mendapatkan tempat untuk menyuarakan kepentingan kaum difabel di kancah internasional ketimbang di dalam negeri. Pengalaman berkeliling dunia menyuarakan kepentingan penyandang disabilitas membuat Sikdam menyimpulkan bahwa Indonesia tidak ramah terhadap kaum difabel dengan pola pikir masyarakat yang cenderung diskriminatif dan pemerintah yang kurang peduli.

Padahal, menurut pria yang gemar membaca buku biografi tokoh dunia itu penyandang disabilitas bisa menjadi aset berharga jika pemerintah peduli dan memberikan perhatian yang dibutuhkan.

Atas prestasinya yang membanggakan, Sikdam kini diberi kesempatan untuk mengajar bahasa inggris di SMA Adria Pratama Mulyah (APM), Tigaraksa, Tangerang. Sekolah yang di bawah yayasan pendidikan milik Marciano Norman, mantan Kepala Badan Intelijen Negara (BIN).

Kesempatan itu terbuka saat Sikdam Hasyim diundang untuk berbicara tentang penyandang disabilitas di kantor BIN. Kemampuan dan kepercayaan diri Sikdam membuatnya banyak orang terkesan hingga istiri dari Marciano Norman meminta Sikdam untuk mengajar di sekolah tersebut.

Memandang kaum disabilitas bukanlah hanya dari kekurangannya, melainkan melihatnya sebagai aset berharga dari potensi yang dimiliki. Memberi kesempatan adalah cara untuk mengetahui potensi yang terpendam dalam diri mereka. Bukan objek yang hanya dijadikan sebagai proyek untuk dikesampingkan.

Memberi pendidikan dan kesempatan merupakan kata kunci utama untuk membantu mereka terus berkembangkan dan menemukan dunia mereka masing-masing yang saat ini masih terpinggirkan. Harapan Sikdam, bagi penyandang disabilitas tidak berkecil hati dengan kondisi dalam negeri saat ini. Yang Maha Esa tidak akan mengubah nasib sebelum kita berusaha mengubah nasib kita sendiri. Mari tunjukkan prestasi!

Berikan Komentar Anda

avatar