Sani Tawainella, pict : 21cineplex.com

NEWSWANTARA – Cahaya dari Timur, Beta Maluku, sebuah film inspirasi yang diangkat dari kisah nyata seorang Sani Tawainella (diperankan Chico Jericho) sebagai seorang pesepak bola yang memutuskan pulang kampung saat gagal menembus timnas Baretti di era 1990-an.

Kakak Sani sempat mewakili Indonesia pada Piala Asia 1996, namun kakak Sani tak mampu melangkah ke jenjang yang lebih tinggi setelah gagal merintis karir profesional dan kemudian memutuskan untuk kembali ke kampung halamannya, di Desa Tulehu, Kecamatan Salahutu, Provinsi Maluku dan menghidupi keluarganya dengan menjadi tukang ojek.

Film yang berhasil menginspirasi masyarakat Indonesia ini, disutradarai oleh Angga Dwimas Sasongko. Cahaya dari Timur, Beta Maluku merupakan film yang mampu membuka wawasan masyarakat Indonesia dalam memaknai arti dari sebuah sepak bola. Film ini juga didaulat sebagai film terbaik dalam ajang Festival Film Indonesia (FFI) di tahun 2014. Kesuksesan film ini tidak lepas dari peran kakak Sani, sebutan akrab dalam film Beta Maluku.

Cerita dari film Beta Maluku ini bermula di awal tahun 2000, konflik melanda Ambon. Ketegangan yang dipicu oleh konflik agama menyebabkan daerah tersebut porak-poranda. Sani, seperti kebanyakan orang Ambon lainnya berusaha tetap menjalani kehidupan di tengah situasi yang kian sulit dan serba kekurangan.

Teladan yang dicerminkan kakak Sani membuka sudut pandang baru dalam memaknai sepak bola. Bahkan, di tengah kerja kerasnya untuk menghidupi keluarga dengan menjadi tukang ojek, Sani masih sempat melatih sepak bola demi menghindarkan anak-anak dari konflik di lapangan Mato waru, Tulehu tanpa dibayar sepersen pun, dia melukukan ini semua secara cuma-cuma. Sani percaya bahwa, sepakbola bisa menjadi ingatan baik untuk anak-anak dan juga menghilangkan ingatan anak-anak dari trauma konflik.

Kerja keras sani membuahkan hasil, anak didiknya berhasil menjuarai kompetisi PSSI liga remaja tingkat nasional. Prestasi yang diukir Kakak Sani berhasil membuka sudut pandang baru mengenai sepak bola. Sepak bola digambarkan sebagai pemersatu masyarakat Maluku yang terlihat dari scene film Beta Maluku pada saat nonton bareng.

Momen ini adalah terputusnya siaran langsung dari televisi. Masyarakat Maluku menggelar nonton bareng di semua sudut kota. Terhentinya siaran ini membuat mereka bingung. Dari sini, siaran berubah menjadi laporan via telpon yang di sebarkan lagi melalui mimbar masjid dan gereja dengan pengeras suara.

Dramatis, hasil akhir untuk pertandingan ini. Diluar dari kemenangan Maluku, ini adalah kemenangan keragaman, sebuah kesatuan tekad dalam semangat rekonsiliasi daerah konflik. Tidak heran film ini banjir penghargaan. Sebagai sebuah film dengan muatan yang kompleks, film ini terlihat lengkap, sehingga film ini menjadi sebuah film yang sangat direkomendasikan untuk ditonton.

Pict : cahayadaritimur.com
Pict : cahayadaritimur.com

Tercatat nama-nama yang pernah memperkuat tim nasional Indonesia seperti, Rizky Ahmad Sanjaya Pellu, Alfin Tuassalamony, Hendra Adi Bayauw serta Sadek Sanaky, Hari Zamhari, merupakan pemain hasil didikan dari tangan dingin Sani Tawainella. Bagi Sani, sepakbola bukan hanya soal menang atau kalah, tapi tentang persaudaraan dan perdamaian dalam kehidupan.

Semangatnya dalam menjadikan sepak bola dianggap telah mewakili semangat awal dari perhelatan Piala Dunia kala itu. Semangat Sani Tawainella ini sesuai dengan visi Piala Dunia yakni menyatukan seluruh dunia dalam kedamaian. Sehingga sponsor utama untuk Piala Dunia memasukkan cerita Sani Tawainella sebagai nominator yang akan membintangi iklan pada Piala Dunia 2014 dan yang membanggakan lagi, video iklan Sani Tawainella di tayangkan kurang lebih di 48 negara.

Berikan Komentar Anda

avatar