Tanaman Gandum
Gandum (Triticum aestivum L) merupakan serealia dari famili Graminae (Poaceae) dan merupakan salah satu bahan makanan pokok manusia selain beras. Menariknya, gandum mengandung protein lebih tinggi daripada beras. (Foto: Pixabay)

NEWSWANTARA – Walaupun gandum bukanlah makanan pokok masyarakat Indonesia, akan tetapi seiring dengan semakin meningkatnya tren masyarakat terhadap kebutuhan pangan pengganti nasi sebagai sumber karbohidrat, tanaman gandum kini menjadi salah satu alternatif yang bisa dikembangkan di Indonesia, khususnya di wilayah Nusa Tenggara Timur (NTT) dan Papua.

Wilayah Indonesia Timur seperti NTT (Soe) dan Papua (Merauke) dinilai mempunyai prospek yang cukup bagus bagi pengembangan gandum karena memiliki dataran rendah sampai dataran tinggi dengan suhu rendah pada periode tertentu dan sebagian wilayah Papua memiliki iklim mikro yang cocok untuk pertanaman gandum.

(Baca Juga: Optimisme Indonesia Untuk Menjadi Lumbung Pangan Dunia 2045)

Untuk memenuhi kebutuhan gandum ini diperlukan penyediaan varietas yang mempunyai sifat unggul dan beragam. Ketersediaan plasma nutfah yang memiliki variasi yang besar merupakan sumber gen yang mendukung pembentukan varietas baru yang berdaya hasil tinggi, tahan hama penyakit, umur genjah dan sifat lainnya.

Menurut data Balai Besar Sumber Daya Lahan Pertanian (BBSDLP) Kementan, potensi pertanaman gandum paling besar di Papua sekitar 976 ribu hektare, di NTT bisa dikembangkan sampai 52 ribu hektare. Namun hingga saat ini kedua wilayah tersebut belum terdata hamparan gandumnya karena masih dalam spot kecil-kecil.

(Baca Juga: Menggerek Buah Manggis Ke Pasar Internasional)

Dalam hal pengembangan tanaman gandum di Indonesia masih terdapat banyak tantangan dalam usaha pengembangannya. Salah satu kendala dalam upaya pengembangan tanaman gandum adalah terbatasnya ketersediaan galur-galur gandum yang cocok ditanam di Indonesia, sesuai dengan karakteristik masing-masing lahan di Indonesia.

Jika saja lebih banyak penelitian tentang galur-galur tanaman gandum di beberapa tempat yang potensial untuk pengembangan gandum, diharapkan kedepannya kebutuhan akan gandum bisa disediakan di dalam negeri dan tidak banyak yang diimpor dari luar negeri.

(Baca Juga: Memanfaatkan Batang Pohon Pepaya Sebagai Sumber Pangan Baru)

Berdasarkan penelitian di beberapa daerah lainnya di Indonesia juga membuktikan bahwa gandum dataran rendah (tropis) dapat berbunga lebih cepat yakni 35 sampai 51 hari dibandingkan dengan gandum dataran tinggi 55 hingga 60 hari.

Sejumlah 15 galur atau varietas gandum yang dikembangkan di dataran rendah (< 400 m dpl) di Merauke memberikan hasil 1,3-2,4 ton per hektare. Hasil tertinggi 2,4 ton per hektare diperoleh pada varietas introduksi OASIS/SKAUZ//4*BCN. Hasil tersebut lebih tinggi jika dibandingkan dengan varietas unggul nasional Selayar, Nias, dan Dewata dengan hasil masing-masing hanya 1,9 ton, 1,6 ton, dan 1,3 ton per hektare.

Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), impor gandum dan biji meslin Indonesia dari Australia di tahun 2018 tercatat mencapai 2,41 juta ton, turun dari 2017 yang mencapai 5,10 juta ton. Australia menjadi negara penyuplai gandum terbanyak bagi pasar Indonesia.

Sementara itu, total impor gandum Indonesia pada tahun 2018 mencapai 10,09 juta ton, turun dari realisasi 2017 sebanyak 11,43 juta ton. Dengan demikian jika pengembangan gandum dilakukan dengan serius, maka akan menjadi kesempatan bagi Indonesia untuk mengembangkan produksi gandum dalam negeri.