Pict : bppp-tegal.com

NEWSWANTARA – Memiliki garis pantai terpanjang kedua di dunia, dengan luas lautan 3.257.483 km² yang artinya 2/3 wilayah indonesia adalah lautan. Selain keanekaragaman hayati lautan dan sumber daya yang ada di dalamnya, Indonesia berpeluang menjadi salah satu negara penghasil garam terbaik di dunia dengan kondisi geografis yang terdapat di dalamnya.

Laut yang telah disediakan Indonesia menunggu dikelola untuk dapat dioptimalkan. Hingga sampai saat ini pemerintah sebagai pemilik otoritas belum mampu membantu masyarakat untuk memanfaatkan potensi tersebut secara baik. Buktinya pada 2015 Indonesia masih mengimpor garam dari negara-negara tetangga untuk mencukupi kebutuhan nasional.

Bahkan Indonesia mengimpor dari Singapura yang garis pantainya jauh lebih kecil. Kebutuhan garam konsumsi dan garam industri masih diimpor dari luar negeri. Derasnya impor terjadi pada tahun 2011, produksi garam rakyat pada 2010 sebagai upaya pemenuhan garam konsumsi hanya mampu berproduksi sebesar 30.600 ton. Di sisi lain, kebutuhan garam konsumsi nasional pertahun sebesar 1,4 juta ton, hal ini menyebabkan impor garam pada 2011.

Di Indonesia terdapat beberapa wilayah yang berpotensi menghasilkan garam kualitas terbaik dunia seperti Demak, Pasuruan, Jeneponto, Bima, Kupang, Rembang, Pati, Sampang, Pamekasan, Indramayu dan Cirebon. Jika bisa dimaksimalkan secara baik, kualitas garam lokal dari daerah-daerah tersebut dapat mengalahkan garam impor dari Australia, Mexico atau China yang dianggap sebagai negara produsen garam terbaik dunia.

Baca Juga : Memaksimalkan potensi yang dimiliki Indonesia

Saat ini Indonesia hanya memiliki ladang garam seluas 25.383 hektare dengan total produksi 1 juta ton, sementara kebutuhan nasional mulai 2010 mencapai 3,2 juta ton dengan total pertumbuhan kebutuhan 8,4 persen. Itu berarti Indonesia membutuhkan lahan minimal 75 ribu hektare, karena kemampuan produksi hanya 40 ton sampai 60 ton per hektar per tahun.

Terget yang ditentukan untuk kemampuan produksi sebesar 40 ton per hektar bukan tidak mungkin untuk digapai. Panjangnya garis pantai yang dimiliki Indonesia menjadi modal penting untuk mampu mewujudkan swasembada garam. Rencana pembukaan tambak di Kupang, Nusa Tenggara Timur (NTT) seluas 7 ribu hektare dan di Nagekeo, NTT sebesar seribu hektar, Bima, Nusa Tenggara Barat (NTB) seribu hektare dan di Sulawesi Selatan 500 hektare akan mendorong dalam pemenuhan garam nasional.

Upaya-upaya ini dilakukan semata-mata utnuk memenuhi kebutuhan garam nasional yang diprediksi mencapai 4,5 juta ton di 2017 yang terdiri dari 2,3 juta ton garam industri dan 2,2 juta ton garam konsumsi, sehingga dengan proyeksi produksi 4,6 juta ton di 2017, Indonesia akan surplus garam sebesar 100 ribu ton.

Kapasitas yang dimiliki oleh Indonesia pada pemenuhan garam nasional diharapkan mampu teroptimalkan hingga bisa menunjukan sebagai Poros Maritim Dunia mewakili visi nasional untuk mengembangkan identitas kekayaan maritim nasional secara berdaulat, mandiri dan berkelanjutan.


Sumber : Kemendag

Berikan Komentar Anda

avatar