Pict : hariandepok.com

NEWSWANTARA – Indonesia menjadi salah satu negara pengekspor rotan terbesar di dunia, mengalahkan eksportir lainnya seperti Malaysia, Filipina, dan beberapa negara di Asia lainnya.

Setiap tahunnya, Indonesia menyuplai 80% kebutuhan rotan dunia dan sekitar 90% rotan dihasilkan dari hutan tropis yang ada di pulau Sumatera, Kalimantan, dan Sulawesi. Sementara sisanya dihasilkan dari budidaya rotan.

Berdasarkan data dari departemen kehutanan, Provinsi Kalimantan Tengah merupakan daerah yang memiliki populasi rotan tertinggi di Indonesia dengan total populasi mencapai 75,86% dari total ±17,6 juta pohon rotan dan jumlah pohon yang siap tebang mencapai 81,10% dari total pohon ±14,7 juta pohon rotan.

Data sebaran potensi dan populasi pohon rotan tersebut diikuti oleh provinsi Kalimantan Timur dengan jumlah 13,69% dengan pohon rotan siap tebang sebesar 8,66%. Lalu untuk populasi terbesar ke tiga yaitu Kalimatan Selatan dengan jumlah 7,46% dengan jumlah pohon yang siap tebang sebesar 8,26%. Sedangkan sisanya tersebar dibawah porsentase 1% diseluruh wilayah provinsi lainnya.

Posisi Indonesia sebagai pemasok utama produk rotan ke seluruh dunia hingga saat ini belum tergantikan posisinya. Daerah pemasok rotan terbesar di Indonesia yaitu Provinsi Kalimantan Tengah tepatnya di Kabupaten Katingan.

Rotan merupakan salah satu penghasil devisa negara yang cukup besar. Indonesia dikenal sebagai negara pengekspor barang kerajinan berbahan dasar rotan dan sebagai pemasok bahan baku produk rotan terbesar di dunia.

Salah satu penghasil rotan terbesar di Indonesia adalah Kabupaten Katingan, Kalimantan Tengah. Dari 13 kecamatan di Katingan, tercatat 10 di antaranya merupakan wilayah penghasil rotan.

Berdasarkan data dari Kementerian Kehutanan, jenis rotan yang banyak diusahakan masyarakat Katingan meliputi rotan taman (sega dan irit), rotan marau/manau, dan rotan sabutan. Pemilihan jenis andalan rotan ini antara lain karena memiliki nilai ekonomi tinggi, menghasilkan batang berkualitas, dan banyak dimanfaatkan.

Negara China dan Vietnam masih jadi pesaing Indonesia dalam ekspor rotan furniture. Padahal bahan baku rotan di dunia sebagian besar berada di Indonesia. Pemanfaatan rotan yang kebanyakan dijadikan sebagai furniture untuk menambah nilai jual tumbuhan rotan.

Furniture Rotan diolah menjadi Meja Makan, Sofa, Kursi, Lounger, Ayunan dan masih banyak lagi. Melalui kementerian Perindustrian Republik Indonesia, Comfort School with Rattan (CSR) menjadi program yang diluncurkan oleh pemerintah guna menstimulasi pasar dalam negeri.

Program CSR Rotan tersebut diluncurkan Kementerian Perindustrian bertujuan agar perusahaan BUMN dan swasta menyalurkan dana CSR nya untuk membeli meja dan kursi rotan untuk kebutuhan sekolah di seluruh Indonesia.

Upaya pemerintah untuk meningkatkan perekonomian melalui kerajinan dari rotan menganjurkan agar pemenuhan kebutuhan mebel bagi setiap jajaran instansi baik di pusat maupun di daerah dengan mebel rotan.

Ekspor produk rotan ini disebabkan oleh penurunan produksi furnitur rotan Cina karena negara tersebut tidak lagi memiliki bahan baku. Beberapa negara kompetitor juga tidak dapat memenuhi pesanan furnitur rotan dan meminta produsen Indonesia memenuhi order tersebut. Kebijakan pemerintah yang menghentikan ekspor bahan baku rotan sejak awal 2012 memberikan dampak positif bagi industri rotan di Indonesia.

Dalam jangka panjang bisa mendorong hilirisasi industri rotan yang bisa menciptakan penyerapan tenaga kerja di daerah- daerah. Kementerian Perindustrian menilai industri rotan tanah air masih harus meningkatkan kualitas desain produk rotan serta branding agar produk rotan Indonesia semakin laku di pasar global.

Ekspor produk rotan Indonesia ke beberapa negara didunia seperti Jerman, Israel, Malaysia, Rusia, Turki, Amerika Serikat, Inggris, Belanda, dan Finlandia tidak serta merta menempatkan Indonesia sebagai leading country dalam perdagangan rotan internasional.

Saat ini Indonesia menempati posisi ketiga (7,68%) dalam perdagangan rotan di pasar global setelah China (20,72%) dan Italia (17,71%). Kementerian Perindustrian telah menetapkan peta panduan (roadmap) pengembangan kluster industri furnitur dari tahun 2012 hingga 2016.

Kreatifitas anak bangsa perlu ditingkatkan dalam mengaplikasikan bebagai macam produk rotan, serta diperlukan peran masyarakat untuk terus mendukung perkembangan industri kecil di Indonesia. Untuk mendukung hilirisasi rotan, harus lebih mengutamakan menggunakan hasil produk dalam negeri daripada produk import.

Berikan Komentar Anda

avatar