Kopi Indonesia
Kopi Indonesia Sebagai Sebuah Kearifan Lokal Dan Budaya [Istimewa]

NEWSWANTARA – Jika kita berbicara mengenagi Indonesia kita juga tahu bahwa Indonesia kaya akan produksi kopinya, dan kualitas kopi Indonesia juga tidak kalah dibandingkan kualitas kopi negara tetangga. Lantas bagaimanakah kualitas kopi di tanah Nusantara ini?

Topografi wilayah berbukit dengan gunung-gunung vulkanik membuat Indonesia diberkahi tanah yang subur dan cocok ditanami kopi. Dengan keuntungan ini tak heran jika Indonesia menjadi salah satu penghasil kopi terbesar di dunia setelah Brazil, Vietnam dan Kolombia.

Indonesia terkenal akan dua jenis kopi yakni, “robusta” yang menguasai hampir 70% produksi kopi Indonesia, lalu ada “arabika” hampir 30%, sementara sisanya ada liberika dan juga excelsa, namun dua jenis kopi terakhir ini jumlahnya cukup terbatas dan bisa dikatakan sulit ditemukan.

Kekhasan alam di setiap wilayah yang berbeda menghasilkan beragam varian kopi dengan keunggulannya masing-masing. Dengan luas perkebunan mencapai 1,2 juta hektar di tahun 2016, produksi kopi Indonesia mencapai 640.000 Ton dengan tingka produktivitas 707 kg per hektarnya.

Baca Juga:

Keberagaman kopi Indonesia pun mulai diakui dunia, mulai dari kopi Gayo di Aceh, kopi Solok di Sumatera Barat hingga kopi Wamena di Papua. Keberagaman kopi Indonesia inilah yang membuat citra kopi Indonesia harum di mata dunia, bahkan sejak tahun 2015 konsumsi kopi khas Indonesia mulai meningkat tajam. Kini semakin banyak kedai kopi yang menyajikan kopi lokal dengan rasa yang bervariasi.

Bahkan oleh majalah Forbes, salah satu varian kopi Indonesia yakni kopi luwak dinyatakan sebagai salah satu kopi termahal di dunia. Rasa kopi luwak yang khas dan proses mendapatkannya yang tidak biasa membuat kopi ini dijual hingga USD 100 per cangkirnya atau lebih dari satu juta rupiah. Kopi luwak didapat dari hasil fermentasi biji kopi di pencernaan hewan sejenis musang.

Jenis kopi baru pun mulai bermunculan dengan membawa identitas wilayahnya yang kental, salah satunya kopi Merapi. Kopi yang mulai dikenal pasca erupsi gunung Merapi ini bahkan masuk dalam kelas kopi speciality atau jenis premium dengan aroma buah-buahan yang khas. Meski harganya cukup mahal karena produksinya yang masih sedikit pasar Eropa ternyata menaruh minat besar terhadap kopi ini.

Setidaknya ada 100 jenis varian kopi baik arabika dan robusta yang tersebar dari Sabang hingga Merauke. ini merupakan sebuah modal penting bagi perekonomian kopi Indonesia sekaligus menjadi magnet bagi perusahaan kopi luar negeri untuk bisa memiliki bahkan menguasai varian-varian kopi dengan keunikan rasa dan aromanya ini. Seperti nama toraja yang sudah dipatenkan oleh perusahaan dari Jepang.

Sudah tugasnya pemerintah terutama Dirjen HAKI untuk bisa mematenkan kopi Indonesia sesuai dengan indeks geografisnya agar keuntungan-keuntungan ini bisa dimanfaatkan sepenuhnya untuk meningkatkan perekonomian Indonesia.

Berikan Komentar Anda

avatar