Komoditas Jagung
Ilustrasi

NEWSWANTARA – Komoditas Jagung sudah familiar bagi masyarakat Indonesia yang mempunyai nilai nutrisi yang hampir sama dengan beras. Jagung sering kali dijadikan sebagai makanan pengganti beras yang menjadi kebutuhan pokok masyarakat Indonesia. Keberadaan komoditas jagung di Indonesia cukup potensial untuk dapat swasembada.

Dilihat dari data BPS mengenai produksi jagung yang terus meningkat dari tahun ke tahun. Tercaat tahun 2017 angkanya mencapai  26 juta ton yang naik 10,31 persen dari dari tahun 2016 sebesar 23,58 juta ton. Peningkatan produksi ini memberikan signal positif dari pengembangan potensial komoditi jagung.

Banyak program prioritas yang telah dilakukan oleh pemerintah dalam upaya mendorong produksi mewujudkan swasembada jagung. Peningkatan produksi yang terjadi berkat adanya sinergi antara pemerintah dengan pihak swasta guna untuk pengoptimalkan potensial komoditas jagung.

Baca Juga : 

 

Indonesia yang memiliki lahan pertanian yang sangat luas dan berpotensi untuk bersaing dalam bisnis domestik dan luar negeri dalam komoditas jagung. Faktor pendukung dalam meningkatan produksi jagung nasional terletak pada sumber daya alam, atau ketersediaan lahan yang semuanya dimiliki oleh Indonesia.

Dilihat dari parameter pemenuhan kebutuhan jagung domestik. Produksi jagung ini dipastikan mencukupi kebutuhan untuk konsumsi langsung, pakan ternak, bahan baku industri makanan dan lainnya. Kebutuhan ini masih dibisa kontrol untuk produksi lokal dan bahkan sanggup untuk menyuplai untuk kebutuhan ekspor.

Persentase penggunaan jagung di Indonesia berada pada 71,7% untuk bahan makanan manusia, 15,5% untuk pakan ternak, 0,8% untuk industri, 0,1% untuk diekspor, dan 11,9% untuk lainnya. Pemerintah bahkan menjadikan jagung sebagai satu komoditas pangan strategis nasional.

Daerah penghasil jagung nasional terdiri dari provinsi Jawa Timur dan Jawa Tengah dengan share 45 persen, serata delapan provinsi lainnnya seperti Lampung, Sulawesi Selatan, Sumatera Utara, NTT, Sulawesi Utara, Gorontalo, NTB dan Jawa Barat memiliki share 41 persen untuk produksi nasional.

Kebutuhan jagung untuk industri pakan ternak sekitar 8,5 juta ton per tahun dan kebutuhan pakan unggas rakyat 6 juta ton dapat dipenuhi dari jagung lokal. Kondisi tata niaga jagung masih dirasakan belum efisien karena rantai pasok terlalu panjang dan hasil jagung petani sebagian besar (86 persen) masih dijual ke pedagang.

Kementerian Pertanian (Kementan) menargetkan Indonesia masuk negara eksportir terbesar jagung pada 2020 setelah tidak mengimpor jagung pada 2017. Produksi jagung 2016 sebanyak 23,5 juta ton dan ditargetkan akhir 2017 sebanyak 24,5 juta ton dengan melibatkan 67 juta kepala keluarga petani.

Untuk kebijakan jangka menengah dan panjang, pemerintah juga mendorong investasi pada lahan hutan 500 ribu ha dan lahan Perhutani 265 ribu ha serta memberi kemudahan bagi industri membangun agribisnis jagung skala luas. Sinergitas antara pemerintah dan swasta sangat mendukung dalam meningkatkan taraf hidup petani jagung. (©nws)


Diolah dari berbagai sumber 

Berikan Komentar Anda

avatar