Simulasi saat aspal geopori disiram air akan langsung menyerap. [Pict : istimewa]

NEWSWANTARA – Penemuan teknologi geopri sedikit mengurangi permasalahan genangan pada jalan raya di Indonesia. Tingginya intensitas hujan banyak ditemukan genangan yang disebabkan dari saluran drainase yang tidak berfungsi. Inovasi yang lahir dari Institut Teknologi Bandung (ITB) ini diprakarsai oleh Profesor Bambang Sunendar Purwasasmita.

Kontruksi dengan teknologi geopori atau geopolimer ini yang merupakan hasil eksperimen guru besar dari ITB yang disebut memiliki daya serap air yang tinggi, ampuh mencegah banjir, dan diprediksi tahan hingga 40 tahun. Itulah sebabnya, jalanan selama ini banyak rusak karena genangan air hingga banjir dari konstruksi jalan tergerus air.

Baca juga : Corrugated Mortar Busa Pusjatan (CMPJ) : Inovasi Penunjang Pembangunan Infrastruktur di Indonesia 

Adanya temuan geopori akan membuat air di permukaan jalan akan langsung terserap ke tanah, sementara jalan konvensional tidak. Menggunakan bahan baku seperti kerikil hingga limbah batu bara, konstruksi jalan berteknologi geopori bahkan diyakini memiliki daya tahan lebih lama dibanding jalan aspal atau beton.

Harga pembuatan konstruksi pun secara umum tidak beda jauh dengan konstruksi pembangunan jalan konvensional. Tapi dari segi ketahanan, penggunaan konstruksi geopori jauh lebih awet dan efisen. Sementara jika produksinya dilakukan secara industri, harganya bisa lebih murah dikarenakan bahan-bahan yang dipakai untuk pembuatannya dari lokal.

Profesor Bambang Sunendar Purwasasmita yang merupakan menemu kontruksi dengan teknologi geopori atau geopolimer. [Pict : istimewa]
Dalam pengembangan, Profesor Bambang menemui kendala mengingat penggunaan limbah industri sebagai bagian dari pembuatan geopori masih dilarang. Limbah industri yang dipakai sebagai bahan baku termasuk dalam kategori barang beracun berbahaya (B3) yang penggunaannya tidak bisa dilakukan secara bebas.

Baca juga : Bus Air Inovasi Anak Bangsa 

Menurutnya, penggunaan limbah industri dalam pembuatan konstruksi jalan tersebut sudah melalui berbagai tahapan. Padahal memanfaatkan limbah industri jadi bahan baku pembuatan konstruksi memiliki nilai lebih. Bahkan memanfaatkan limbah termasuk dalam suatu gerakan green environmental, green process, dan yang penting green product.

Harapannya, penggunaan limbah B3 bisa dikaji kembali dalam undang-undang jika pemanfaat untuk kepentingan lingkungan. Karena menurut Prof. Bambang bukan dilihat sebagai limbah, melainkan sumber (yang bisa dimanfaatkan) untuk menyelsei segelintir masalah untuk kebaikan masyarakat dalam pengembangan inovasi geopori. (©nws)


Dikelolah dari berbagai sumber 

Berikan Komentar Anda

avatar