NEWSWANTARA – Pembukaan jalur penerbangan untuk industri penerbangan Indonesia akan sangat membantu keterbukaan akses dalam menunjang mobilitas. Tingginya mobilitas masyarakat saat ini membuat rute penerbangan komersial menjadi semakin padat.

Kepadatan jalur lalu lintas udara memakasa pilot untuk mengambil resiko untuk tidak menepati jadwal perjalanan yang akan merugikan penumpang maupun maskapai. Kepadatan tersebut akibat dari perkembangan industri penerbangan di Indonesia yang melonjak tajam dalam satu dekade terakhir.

Maintenance, repair, and overhaul (MRO) menyebutkan, saat ini nilai dalam perawatan pesawat mencapai  920 juta dollar AS dan dalam empat tahun ke depan bisa naik menjadi  2 miliar dollar AS.

Berdasarkan laporan International Air Transport Association (IATA), jumlah penumpang udara nasional akan mencapai 270 juta penumpang pada 2034 atau naik lebih dari 300 persen dibanding pada tahun 2014 dengan jumlah sebanyak 90 juta penumpang.(kompas)

Pertumbuhan yang signifikan harus didukung dengan keterbukaan akses untuk dapat mengimbanginya. membuka akses-akses baru dalam jalur penerbangan di Indonesia setidaknya dapat membantu mengurai padatnya lalu lintas udara nasional.

Di tengah semakin kompetitifnya industri penerbangan Indonesia pada tahun 2016, rencana pembukaan jalur terbang melintasi sisi Selatan Pulau Jawa menjadi angin segar bagi seluruh pihak yang terkait dalam industri penerbangan di Indonesia.

Indonesia National Carriers Association (INACA) menilai secara positif rencana pemerintah membuka ruang udara di jalur selatan Jawa bagi penerbangan komersial. Dibukannya jalur selatan ini mampu menekan biaya operasional maskapai, sekaligus menaikkan tingkat keselamatan.

Jalur penerbangan menuju timur Indonesia selama ini harus melalui utara Jawa. Selama ini, jalur penerbangan di Pulau Jawa selalu melewati bagian utara, seperti Indramayu, Semarang, Blora, dan Surabaya. Hal itu dikarenakan wilayah selatan Jawa dipakai sebagai ruang udara oleh TNI AU.

Dibukanya jalur selatan diharapkan dapat membantu mengurai kepadatan udara selama ini, jalur penerbagan ini akan memberi pengaruh dalam industri penerbangan nasional. Selain bisa menekan biaya operasional, juga bisa mendorong majunya industri penerbangan nasional dalam ikut berartisipasi pada kompetisi secara global.

Terlebih dengan adanya ASEAN Open Sky, salah satu kesepakatan dalam persaingan bebas industri penerbangan dari maskapai hingga operator bandara yang dibuat para pemimpin ASEAN di Bali pada Oktober 2003 lalu.

Adanya persaingan dalam kompetisi industri penerbangan tidak untuk dilihat sebagai hambatan, melainkan dapat dimaknai sebagai tantangan untuk terus memperbaiki dan berinovasi pada sistem maupun pelayanan kepada masyarakat.

Tingginya tingkat persaingan menuntut pelaku industri penerbangan Indonesia bisa bersinergi khususnya bagi pemerintah untuk mensupport pertumbuhan industri penerbangan nasional.

Dengan dibukanya jalur selatan bagi industri penerbangan, kedepannya diharapkan akan lebih banyak direct fly untuk bisa menyatukan pulau-pulau yang ada di indonesia dalam mendukung pertumbuhan nasional.


Baca Juga : 

Berikan Komentar Anda

avatar