Revolusi Industri 4.0
Revolusi industri 4.0 telah mengubah banyak bidang kehidupan manusia, termasuk ekonomi, dunia kerja, bahkan gaya hidup manusia itu sendiri. Singkatnya, revolusi 4.0 menanamkan teknologi cerdas yang dapat terhubung dengan berbagai bidang kehidupan manusia. (Ilustrasi)

NEWSWANTARA –  Indonesia seperti halnya negara lain di dunia sedang bersiap untuk menghadapi arus globalisasi yang disertai dengan pesatnya perkembangan teknologi. Setelah sebelumnya menghadapi industri 3.0, Indonesia sekarang sedang bersiap untuk menghadapi era industri 4.0.

Apa Yang Dimaksud Industri 4.0?

Industri 4.0 adalah revolusi industri yang banyak mengintegrasikan antara dunia internet dengan dunia perusahaan atau pabrik industri. Proses pengembangan yang banyak terjadi dibidang manufaktur terutama managemennya. Perubahan ketingkat otomatisasi proses manufaktur ke tingkat produksi massal yang lebih disesuaikan dan fleksibel dicetuskan pada 2011.

(Baca Juga: Kesiapan Indonesia Menghadapi Industri 4.0)

Revolusi ini banyak menggabungkan antara teknologi yang otomatis dengan kecerdasan teknologi cyber merupakan salah satu tren yang hampir mengotomatisasikan semua. Dan pertukaran data dalam industri manufaktur termasuk didalamnya sistem cyber fisik, Internet of Things (IoT) serta komputasi awan (cloud computing) dan sistem komputasi kognitif mempermudah pekerjaan manusia ke depannya.

Revolusi Industri Sebelum 4.0

Dunia mengenal beberapa revolusi mulai dari revolusi industri 1.0 sebelum akhirnya mengenal revolusi industri 4.0. Ada beberapa revolusi industri, yang pertama disebut dengan revolusi industri 1.0 yang terjadi pada 1760-1840 di mulai oleh Inggris yang mengenalkan dan menggunakan mesin sebagai tenaga pengganti produksi manual menggantikan manusia atau hewan. Revolusi pertama ini juga mengenalkan mesin bertenaga uap dan air sebagai tenaga yang membantu manusia dalam industri terutama pabrik.

(Baca Juga: Generasi Milenial Indonesia di Era Industri 4.0)

Dunia kemudian mengenal revolusi industri 2.0 yang terjadi pada 1870 hingga 1914, di era ini mulai digunakan sistem listrik dan jalur perakitan yang diperkenalkan dalam dunia industri. Di era industri 2.0 ini produsen mulai memproduksi baja secara massal untuk mendukung jalur perakitan. Revolusi ketiga disebut dengan 3.0 yang terjadi antara 1950 dan 1970, yang paling kentara dari revolusi ini adalah perubahan sistem analog dan mekanis ke digital.

Revolusi ini hasil dari perkembangan teknologi komputer hingga terjadi otomatisasi dalam kegiatan industri. Dan revolusi terakhir adalah 4.0 yang salah satu cirinya adalah konektivitas, interaksi dan batas antara mesin dan manusia yang semakin konvergen terutama melalui teknologi informasi dan komunikasi.

Dasar Industri 4.0

Dunia industri sebelum era 4.0 ini mempunyai tiga pondasi atau dasar antara lain konektivitas internet yang terhubung secara permanen atau IoT, teknik penyimpanan data atau cloud computing dan data skala besar.

(Baca Juga: Menerawang Kesiapan Industri Kreatif Digital di Indonesia)

Industri akan terintegrasi antara dunia nyata menjadi virtual dan sangat memungkinkan pengumpulan data langsung dilakukan oleh mesin lalu menganalisisnya dan bahkan membuat keputusan berdasarkan data yang telah dibuat dapat dilakukan oleh mesin. Dengan demikian tujuan utama dari industri 4.0 ini yaitu kestabilan distribusi barang dan kebutuhan konsumen akan tercapai dan terpenuhi.

Revolusi industri ini juga memungkinkan untuk menghitung kerugian perusahaan atau pabrik karena pendataan kebutuhan konsumen atau masyarakat dilakukan secara tepat atau real time untuk kemudian data tersebut dikirimkan ke produsen. Hal tersebut memungkinkan produsen hanya memproduksi sesuai dengan jumlah kebutuhan. Industri ini juga bertujuan untuk menjaga kestabilan ekonomi di masa yang akan datang.

Dunia sekarang sedang bersiap untuk bersaing secara profesional mempersiapkan diri menghadapi revolusi industri 4.0 yang sudah mulai pelan-pelan dirasakan terutama oleh kaum milineal ataupun generasi Z.