sektor ekonomi kreatif
Ekonomi kreatif akan menjadi tulang punggung perekonomian nasional. (Foto: Istimewa)

NEWSWANTARA – Kreativitas manusia kini semakin diperhitungkan dalam perkembangan industri di dunia, geliat ekonomi kreatif seperti film, musik, fashion, kuliner hingga pembuatan perangkat lunak kini telah menjadi gaya hidup yang tak bisa dilepaskan dari kebutuhan manusia, hal ini membuat potensi berkembangnya sektor ekonomi kreatif semakin menjanjikan.

Baca Juga:

Ekonomi kreatif kini menjelma menjadi sektor ekonomi yang semakin gemilang di Indonesia. Kontribusinya terhadap perekonomian negara makin signifikan. Menariknya, ekonomi kreatif di Indonesia bertumbuh secara unik.

Ekonomi kreatif tumbuh kuat ditopang oleh kehadiran kelas menengah. Pelaku ekonomi ini juga mampu memahami dan selalu adaptif terhadap minat dan perubahan selera pasar. Hasilnya, produk-produk ekonomi kreatif yang hadir ke pasar selalu inovatif, segar dan disukai oleh konsumennya.

Maraknya para pelaku ekonomi kreatif juga terbukti mampu menciptakan lapangan kerja baru sekaligus membantu meningkatkan kesejahteraan keluarga di tengah berbagai ancaman pemutusan hubungan kerja (PHK) di berbagai sektor industri saat ini.

Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) di tahun 2015, ekonomi kreatif menyerap sebanyak 15,9 juta tenaga kerja Indonesia dan menyumbang Rp 852 triliun atau setara 7,3% PDB.

Kontribusi ekonomi kreatif terhadap produk domestik bruto atau PDB Indonesia dalam 7 tahun terakhir terus mengalami kenaikan. Pada 2012 sektor ekonomi kreatif menyumbang 7,4% PDB sebesar Rp 638,4 triliun. Pada 2016 secara persentase sama di angka 7,4% namun meningkat secara angka yaitu Rp 922,6 triliun.

Meski persentase kontribusinya belum beranjak dari kisaran 7% Dalam 7 tahun terakhir, jika dibandingkan dengan negara lain, ekonomi kreatif Indonesia ada di posisi 3 besar. Sektor ekonomi kreatif memberikan kontribusi terbesar terhadap PDB ada di Amerika Serikat yaitu 11,1% diikuti Korea Selatan sebesar 8,7% sementara di belakang Indonesia ada Rusia Singapura dan juga Filipina.

Sementara dari 16 subsektor ekonomi kreatif, subsektor yang paling besar kontribusinya adalah kuliner sebesar 41,4% dengan pendapatan Rp 382 triliun pada 2017, fashion 18% dengan pendapatan Rp 166.000 triliun, kriya 15,4%, TV dan radio 8,3% dan penerbitan 6,3%. Sementara subsektor sisanya masih di bawah 3%.

Lebih lanjut untuk mendorong perkembangan sektor ekonomi kreatif pemerintah juga menggelontorkan bantuan kepada pihak-pihak yang memiliki potensi, mereka adalah komunitas kreatif, lembaga adat, keraton, pemerintah daerah, perguruan tinggi dan koperasi.

Berdasarkan tujuan ekspornya pada tahun 2017, ekonomi kreatif Indonesia paling diminati di Amerika Serikat yang menghasilkan 6.044,6 juta dolar AS, diikuti Swiss 2.088,6 juta dolar AS, di posisi ketiga Jepang 1.357,4 juta dolar AS, diikuti Singapura dan juga Jerman.

Gagasan kreatif tidak akan pernah habis, karenanya tidak berlebihan jika pemerintah berharap kontribusi yang lebih besar dari sektor ekonomi kreatif dan tidak tertutup kemungkinan ke depan sektor ini bisa menjadi tulang punggung perekonomian nasional.


Sumber data: Badan Ekonomi Kreatif, Badan Pusat Statistik

Berikan Komentar Anda

avatar