Coal Bed Methana
[tambang.co.id]

NEWSWANTARA – Gas metana batubara biasanya disebut dengan coal bed methana (CBM) adalah energi terbarukan yang sangat besar di miliki oleh Indonesia. Penggunaan gas metana batubara akan menjadi kebutuhan yang potensial seiring menipisnya ketersedia fosil dengan permintaan yang tinggi. Coal bed methana salah satu sumber energi yang terbarukan untuk bisa dimaksimalkan bagi kepentingan di masa yang akan datang.

Berdasarkan studi yang dilakukan oleh Advance Resources International Inc (ARI) dan Direktorat Jenderal Minyak dan Gas Bumi bahwa Indonesia memiliki potensi cadangan CBM sebesar 453 TCF (Triliun Cubic Feet) yang tersebar di 10 (sepuluh) cekungan dengan potensi utama berada di Sumatera Bagian Selatan dan Kalimantan yang nantinya bisa dioptimalkan dengan semakin majunya teknologi era sekarang.

Tambah Kapasitas PLTP, Indonesia Siap Ungguli Filipina

Indonesia sendiri memiliki potensi besar dalam pengembangan energi baru dan terbarukan. Ada beberapa energi terbarukan yang bisa dikembangkan di Indonesia seperti tenaga matahari (surya), angin, biomassa, gelombang laut, energi air (hidro) dan panas bumi (geotermal). Untuk pemanfaatannya masih sekitar 6,8% dari apa yang dimilki ole Indoensia sekarang ini.

Pada istilah pengeboran, Coal Bed Methana merupakan gas metana yang terjebak pada tambang batu bara. Potensi CBM di Indonesia memiliki keunggulan teknis untuk dikembangkan terutama di tempat yang dangkal (500 m – 1500 m di bawah permukaan). Sebagian besar potensi CBM dunia masih belum dikembangkan

Persebaran potensi Coal Bed Methana di Indonesia terdapat dari Kalimantan Timur mulai dari Kabupaten Berau dengan kandungan sekitar 8,4 TCS, Pasir/Asem (3 TCS), Tarakan (17,5 TCS), dan Kutai (80,4 TCS). Kabupaten Barito, Kalimantan Tengah (101,6 TCS). Sementara itu di Sumatera Tengah (52,5 TCS), Sumatera Selatan (183 TCS), dan Bengkulu 3,6 TCS, sisanya terletak di Jatibarang, Jawa Barat (0,8 TCS) dan Sulawesi (2 TCS).

Bentuk CBM sama halnya dengan gas alam lainnya. Pemanfaatannya dapat diaplikasikan di rumah tangga, industri kecil, hingga industri besar. Selain itu, pemanfaatan CBM sebagai energi terbarukan akan menciptakan lapangan pekerjaan dari eksplorasi yang nantinya akan dilakukan.

Sebagian besar potensi CBM dunia masih belum dikembangkan. Sumber daya global diperkirakan mencapai total 143 triliun meter kubik, dan baru 1 triliun meter kubik yang benar-benar telah diambil. Hal ini terjadi akibat masih kurangnya insentif di sejumlah negara untuk sepenuhnya mengeksploitasi sumber daya alam tersebut, terutama di sejumlah bagian bekas negara Uni Soviet, di mana gas alam konvensional sangat berlimpah.

Meski eksploitasi yang dilakukan di Kanada lebih lambat daripada AS, namun jumlahnya diperkirakan meningkat sejalan dengan perkembangan teknologi eksplorasi dan ekstraksi baru. Potensi peningkatan proporsi pasokan CBM yang signifikan juga terjadi di China. Permintaan akan gas alam telah melampaui produksi domestik pada 2010 dan CBM menawarkan pasokan alternatif.

Pertengahan tahun lalu, The International Energy Agency (IEA) merilis perkiraannya bahwa permintaan global akan gas alam kemungkinan tumbuh 17 persen dalam 5 tahun ke depan akibat melonjaknya konsumsi di China.

Permintaan di China dan AS diperkirakan naik 13 persen per tahun hingga 2017 sementara permintaan di Eropa akan naik 7,9 persen. Pemanfaatan Coal Bed Methana disamping sebagai pemenuhan kebutuhan energi sekaligus sebagai pengembangan usaha baru yang menarik secara ekonomi dan komersial bagi Indonesia.

Berikan Komentar Anda

avatar