Pict : thebridedept.com

NEWSWANTARA – Kain dengan berbagai motif unik atau batik selalu diidentikkan dengan masyarakat Jawa, namun jika kita berpindah ke Tanah Batak, kain atau selendang lengan dengan berbagai motif, ukuran maupun fungsi yang menjadi primadona masyarakat Suku Batak tersebut biasa disebut dengan ulos.

Ulos merupakan kain tenun tradisonal khas Suku Batak Toba. Bagi Suku Batak, ulos lebih dari sekedar kain. Ada makna tersendiri dalam kehidupan bermasyarakat dan memiliki nilai filosofis yang sakral di balik setiap benang yang membentuknya.

Ulos dapat diartikan sebagai serat kehidupan orang Batak, metafora kreasi dan kesuburan, juga pemberi kehangatan. Oleh karena itu, ulos selalu hadir dalam setiap momen kehidupan masyarakat Batak.

Dibandingkan dengan kain tenun lainnya, ulos memiliki ciri khas tersendiri. Warnanya selalu terdiri dari 3 rona, merah, hitam dan putih. Agar terlihat semakin indah, ulos juga kerap dihiasi dengan berbagai macam manik-manik.

Ulos tak pernah terpisahkan dari kehidupan masyarakat Batak, pict : indonesia-tourism.com
Ulos tak pernah terpisahkan dari kehidupan masyarakat Batak, pict : indonesia-tourism.com

Berdasarkan hasil studi yang dilakukan oleh Miyara Sumatera Foundation, ditemukan fakta bahwa ulos merupakan produk peninggalan peradaban tertua di Asia. Ulos diperkirakan usianya sudah lebih dari empat ribu tahun. Ulos bahkan disebut-sebut telah ada jauh sebelum bangsa Eropa mengenal tekstil.

Ulos tidak hanya menyimpan tradisi Batak yang kental dan sarat makna, tapi juga prestise akan moderenisasi dari proses akulturasi. Kekayaan dan kedalaman makna ulos tersebut membuat kain tradisional Batak ini tak hanya banyak dikaji di Indonesia, tapi juga di mancanegara.

Berbagai Museum dan universitas di Singapura, Amerika Serikat, Inggris dan Belanda juga turur ikut serta dalam menyimpan kajian tentang ulos lantaran dianggap sebagai peninggalan dari sebuah tradisi yang unik dan sangat tua.

Soal usianya yang tua, berdasarkan hasil pengamat dari budayawan Batak Jamaludin S Hasibuan, teknik ikat dalam tenun Batak berasal dari kebudayaan Dongson yang berkembang di kawasan Indocina, pada akhir zaman Perunggu sekitar 1000 SM.

Kekhasan warna merah, hitam dan putih pada ulos memiliki makna tersendiri didalamnya. Warna merah melambangkan keberanian, warna putih adalah kesucian, dan hitam berarti kekuatan. Kain tenun ulos juga merupakan ‘selimut’ pemberi kehangatan.

Ada tiga unsur pemberi kehangatan dalam kehidupan orang Batak zaman dahulu, yakni matahari, api, dan ulos yang dikenakan sebagai penjaga keselamatan tubuh dan jiwa pemakainya.

Namun di era sekarang ini , ulos tak lagi berfungsi sebagai penjaga jiwa, tetapi sebagai penjaga identitas budaya. Di dalam setiap helai benangnya termuat sejarah yang menjadikan identitas Suku Batak.

Berikan Komentar Anda

avatar