Pict : Helmy R/Newswantara

NEWSWANTARA – Tradisi yang digelar hanya pada musim kemarau, konon katanya memainkan suling dewa dapat mengundang datangnya hujan. Tiupan seruling dewa ini diyakini masyarakat adat Bayan mampu menurunkan air langit untuk memberikan babak kehidupan yang baru di atas bumi.

Suling Dewa, kesenian tradisional asal Bayan, Lombok Utara, Nusa Tenggara Barat (NTB) ini hanya digelar ketika musim kemarau melanda. Tradisi ini dihelat untuk memohon turunya hujan kepada Sang Maha Kuasa.

Seiring perkembangan jaman, tradisi seruling dewa dijadikan sebagai seni pertunjukan dalam pengenalan budaya kepada generasi muda. Kesenian ini lahir ketika wilayah Bayan dilanda musim kemarau yang berkepanjangan.

Suara-suara bijka dari langit pun memberikan petunjuk demi kelangsungan hidup umat manusia. Salah seorang pemangku (tokoh yang dituakan), diberikan petunjuk melalui suara, bukan petunjuk dari mimpi.

Sang pemangku pun berkomunikasi tanpa bisa mengetahui siapa si pemilik suara itu datang. Dalam komunikasi yang terjalin antara pemangku dengan suara tersebut, sang pemangku kebingungan.

Dalam kebingungannya, pemangku adat tadi diarahkan kembali untuk melakukan sebuah prosesi adat yang dinamakan mendewa. Maksudnya, untuk mengakhiri musim kemarau panjang ini. Hanya saja persoalan tidak bisa selesai sampai disana saja.

Sang pemangku kebingungan mencari bahan-bahan untuk melakukan prosesi adat Mendewa. Karena keperluan ritual mendewa harus dilengkapi dengan sirih, pinang, lekoq buak (penginang), sementara kala itu musim kemarau tengah melanda.

Melokak memainkan suling dewa didampingi dua wanita pendamping setianya. Wangsit itu kemudian mengarahkan agar pemangku bergegas menuju ke suatu tempat di tengah hutan Gunung Rinjani.

Disana sudah tersedia keperluan yang dibutuhkan untuk melakukan prosesi ritual mendewa tersebut. Dalam dialog tersebut, ditegaskan segala prosesi tersebut harus dilaksanakan di Bale Beleq pada malam senin dan malam jumat.

Selain itu, pemangku juga diperintahkan untuk membuat suling dari bambu. Sebuah alat musik tiup yang merupakan satu-satunya alat yang dipakai untuk menghibur diri. Prosesi ini diawali dengan ditiupkannya seruling oleh Jero Gamel atau peniup suling.

Ia lantas memainkan komposisi atau Gending Bao Daya. Bila diartikan, dalam bahasa Indonesia bao daya ini bermakna mendung di selatan. Akhirnya rintik hujan yang dinanti turun dari langit dengan derasnya pada pelaksanaan ketiga, atau tepatnya di malam senin.

Tetesan air tercurah ke bumi terjadi sesaat setelah alunan Gending Bao Daya dimainkan Jero Gamel dengan tiupan serulingnya. Kehidupan pun kembali pulih. Semua orang tersenyum menatap datangnya hujan yang membawa pengharapan baru diatas muka bumi.

Cerita tersebut kemudian dipentaskan menjadi sebuah kesenian tradisional yang patut untuk di lestarikan. Warisan budaya yang harus dijaga untuk dilestarikan oleh generasi muda saat ini.

Berikan Komentar Anda

avatar