Tahun Baru Imlek
Tahun Baru Imlek (Foto: Istimewa)

NEWSWANTARA – Indonesia merupakan sebuah negara dengan tingkat akulturasi budaya yang tinggi. Maka, tak heran jika sebagian masyarakatnya merayakan banyak hari raya besar. Salah satu hari raya yang menjadi momen khusus di antaranya ialah tahun baru Imlek.

Kita tentu tidak asing dengan warga keturunan Tionghoa yang tinggal di Indonesia dan telah menyatu dengan budaya Nusantara. Sin Cia adalah istilah lain dari perayaah tahun baru China yang biasanya kita sebut dengan tahun baru Imlek. Perayaan ini dilaksanakan mulai tanggal 30 di bulan ke 12 menurut penanggalan China hingga tanggal 15 di bulan pertama.

(Baca Juga: Keragaman Kuliner Nusantara Warisan Negeri Tirai Bambu)

Puncak perayaan tahun baru ini sering disebut dengan istilah Cap Go Meh. Kegiatan utama yang dilakukan di antaranya ialah melakukan sembahyang kepada Thian/Tuhan sebagai bentuk rasa syukur. Tradisi pergantian ini sering menjadi momen berkumpulnya kerabat dan keluarga.

Sejak masa orde lama, perayaan tahun baru Imlek telah mendapatkan ruang karena Presiden Soekarno memiliki hubungan baik dengan pemerintah Tiongkok. Bahkan, beliau mengeluarkan kebijakan berupa Ketetapan Pemerintah tentang Hari Raya Umat Beragama Nomor 2/OEM Tahun 1946 Pasal 4 mengenai Tahun Baru Imlek, Ceng Beng (ziarah dan pembersihan makam leluhur), dan menjadikan hari lahir serta wafatnya Khonghucu sebagai hari libur.

Namun, pada masa Orde Baru, etnis Tionghoa di Indonesia tidak lagi dapat bergerak bebas termasuk merayakan hari besar mereka berdasarkan Inpres Nomor 14 Tahun 1967 dimana Inpres tersebut menyatakan bahwa perayaan kegiatan agama dan adat istiadat etnis Tionghoa hanya dapat dirayakan dalam lingkungan keluarga secara tertutup.

(Baca Juga: Menyambut Imlek di Klenteng Tertua Kota Tangerang)

Hal itu terjadi akibat timbulnya kekhawatiran pemerintah masa Orde Baru akan munculnya benih-benih komunis melalui etnis Tionghoa. Aturan tersebut juga didukung oleh aturan lainnya yang mendiskriminasi etnis Tionghoa untuk tidak memunculkan identitas asli mereka seperti nama, bahasa hingga agama dan kepercayaan serta adat istiadat mereka.

Sedangkan di masa pemerintahan Gus Dur, masyarakat Tionghoa di Indonesia kembali mendapatkan ruang untuk merayakan tahun baru Imlek dengan terbitnya Kepres Nomor 19 Tahun 2001 yang meresmikan tahun baru Imlek sebagai hari libur bagi mereka yang merayakannya.

Pada tahun 2002 tepatnya di bulan Februari, Presiden Megawati Soekarnoputri mengumumkan bahwa perayaan tahun baru Imlek akan menjadi hari Libur Nasional mulai tahun 2003.

(Baca Juga: Ber-Imlek di Kota Khatulistiwa)

Setelah sekian lama terkekang, masyarakat etnis Tionghoa di Indonesia akhirnya kembali dapat merayakan tahun baru Imlek. Kebebasan pluralisme menjadi semakin nyata. Kini, kita bisa menyaksikan berbagai macam pertunjukan digelar dalam rangka perayaan tahun baru Imlek di Indonesia.

Beberapa tradisi unik juga dapat ditemui, biasanya para etnis Tionghoa akan membersihkan rumahnya sebelum menggelar acara perayaan. Berbagai macam ornamen bernuansa merah akan bertebaran, tak lupa angpao selalu disediakan, kita akan mudah menemukan kue keranjang di pasar-pasar, dan menyaksikan pesta kembang api di puncak perayaan.