Barapan Ayam
Sepasang ayam yang digiring oleh joki untuk berusaha menyentuh saka' (titik tujuan dalam aturan perlombaan). Bagi ayam bisa menyentuh saka', maka akan lolos ke babak selanjutnya. [Pict : Disparekraf.sumbawabaratkab.go.id]

NEWSWANTARA – Karapan menjadi budaya beberapa daerah di Indonesia, termasuk juga karapan sapi seperti di Madura. Di Sumbawa terdapat juga karapan kerbau yang hampir menyerupai karapan sapi. Namun yang belum dikenal oleh masyarakat yaitu karapan ayam. Budaya inilah yang terjadi di Sumbawa yang menjadi tradisi masyarakat Sumbawa.

Pemilik akan menghiasi ayamnya dengan pernak-pernik, seperti Jambo. Jambo akan diikatkan dada ayam dan melewati bagian bawah kemudian diikat pada punggungnya. Jambo juga berfungsi sebagai tempat untuk memasang Noga, atau alat yang terbuat dari kayu atau rotan berukuran 50-80 cm.

Baca Juga : 

Sehari sebelum berlomba, biasanya kedua ayam akan menjalani ritual mandi khusus oleh sandro (orang pintar) dengan air beras disertai mantera. Pemilik juga menambahkan pil tradisional yang terbuat dari ramuan berkhasiat.

Barapan Ayam/karapan ayam sudah menjadi kebiasaan yang telah dilestarikan secara turun-temurun dari masyarakat Sumbawa.

Berbeda dengan karapan kerbau, dimana joki menunggang dibelakang dua ekor kerbau, joki pada karapan ayam menggunakan lontar sebagai alat penggiring ayam agar sampai ke tujuan dan ikut berlari bersama ayam aduannya. Karapan ayam merupakan perpaduan sepasang ayam dengan keterampilan joki untuk bisa menjadi pemenang.

Barapan Ayam menjadi salah satu permainan yang telah menjadi tradisi masyarakat Kabupaten Sumbawa Besar dan Sumbawa Barat. Permainan yang dilakukan menggunakan dua ekor ayam ini semata-mata untuk melestarikan budaya setempat dan juga untuk mempererat tali silaturahmi dikalangan masyarakat.

Masyarakat Sumbawa umumnya masih memegang teguh tradisi leluhur dan selalu berusaha untuk melestarikannya. Tradisi karapan ayam atau biasa disebut dengan dialek lokal ‘sampo’ ayam menjadi tradisi untuk menjaga warisan leluhur untuk terus dilestarikan hingga sampai saat ini untuk dinikmati oleh anak cucunya.

Barapan ayam ini bermanfaat untuk mencari ayam terbaik. Penilaian khusus terdiri dari kecepatan berlari, fisik yang prima dan juga sekaligus mencari joki yang terampil menggiring ayamnya. Keterampilan yang jarang dimiliki kebanyakan orang untuk bisa mengikuti irama ayam yang berpacu dalam lintasan. Pemenang yang keluar biasanya akan meningkatkan harga ayam hingga mencapai puluhan juta. (©nws)


Diolah dari berbagai sumber 

Berikan Komentar Anda

avatar