Pict : getlostmagz.com

“Hey sampan laju”

“Sampan laju dari ilek sampai ke ulu”

“Sungai kapuas”

“Sunggoh panjang dari dulo membelah kote”

“Hey tak disangke”

“Tak disangke dulo utan menjadi kote”

“Ramai penduduknye”

“Pontianak name kotenye”

“Sungai kapuas punye cerite”

“Bile kite minom aeknye”  

“Biar pun pergi jaoh kemane”

“Sunggoh susah nak ngelupakannye”

“Hei kapuas”

“Hei kapuas”

NEWSWANTARA – Rangkaian kalimat diatas merupakan lirik sebuah lagu “aek kapuas” yang acap kali didendangkan oleh masyarakat Pontianak. Terlebih dalam setiap ajang perlombaan pentas seni. Itu dilakukan agar budak-budak maupun biak-biak (baca: anak-anak) tidak kehilangan jati diri dalam pergaulan hidupnya.

Pada dasarnya masih banyak lagi lagu-lagu daerah yang sering dilantunkan dan dipelajari di lingkungan masyarakat dan sekolah-sekolah. Misalnya lagu cik cik periook, masjid jami, alon-alon, kapal belon, sungai kapuas, antare kapuas-landak, alok gading, bantelan, bujang nadi, ca’ uncang, dare sibarang, darilah saing, di mane kucare, kaing lunggi, pasan dolo, ruwai, salah pengambean, salo’, simbe rapian, simirante, sungai sambas kebanjiran, tamasya ke danau sebedang, tamlalai, tikanang orang tue, ting kededai, tandak sambas, dan masih banyak lainnya. Tentu pada setiap lagu memiliki pesan yang tersebung. Baik itu pesan moral, agama, maupun sejarah yang sangatlah berguna untuk menjalani kehidupan.

Selain memiliki banyak lagu daerah, Pontianak khususnya dan Kalimantan Barat pada umumnya juga memiliki beragam agama, suku, dan bahasa. Dalam kesehariannya, perbedaan ini bukanlah menjadi sebab pertikaian. Akan tetapi menjadi simpul kekeluargaan. Masing-masing individu masyarakat sudah paham akan tabiatnya (baca: otomatis saling menghargai).

Hal diatas terbukti oleh lancarnya setiap acara keagamaan dan adat istiadat sesuai keyakinan yang dianut. Contohnya seperti sekarang ini dimana umat tionghoa tengah merayakan tahun baru imlek. Bagi mereka yang bukan termasuk umat tionghoa tidak akan mengacaukan setiap detik acara. Bahkan mereka secara tidak langsung turut memeriahkan acara tahun baru imlek dengan ikut menonton pesta kembang api saat detik-detik pergantian tahun (baca: dalam kalender Cina).

Acara demi acara sambung menyambung terus diselenggarakan oleh umat Tionghoa yang ada di Pontianak ini. Dan seperti biasanya puncak acara akan diselenggarakan pada 15 hari atau malam setelah imlek. Puncak dari acara perayaan tahun baru imlek itu bernama Cap Go Meh.

Cap Go Meh sendiri jika diartikan per kata membenarkan pernyataan diatas terkait waktu diselenggarakannya. Adapun arti itu ialah ‘Cap’ yang berarti sepuluh, ‘Go’ adalah lima, dan ‘Meh’ adalah malam.

Perayaan Cap Go Meh itu sendiri merupakan upaya masyarakat migran Tionghoa yang tinggal di luar Republik Rakyat China. Jadi dapat diketahui dengan mudah bahwa acara ini tidak hanya berlangsung di Indonesia apalagi di Pontianak saja. Beberapa negara tetangga seperti Malaysia dan Singapura juga memiliki acara seperti ini. Tentunya dibawa oleh dan dibawah naungan masyarakat Tionghoa yang ada disana.

Dilansir dari halaman tionghoa.info.com, di negara Tiongkok, festival Cap Go Meh ini dikenal dengan nama festival Yuanxiao atau festival Shangyuan. Perayaan ini awalnya dirayakan sebagai hari penghormatan kepada Dewa Thai Yi. Sang Dewa tersebut sendiri dianggap sebagai Dewa tertinggi di langit oleh dinasti Han yang berkuasa antara tahun 206 SM-221 M.

Pada mulanya perayaan ini hanya diselenggaran didalam dan untuk kalangan istana. Belum dikenal secara umum oleh masyarakat Tiongkok. Kala itu, perayaan itu dilakukan dengan upacara yang diadakan pada malam hari. Sebelumnya terlebih dulu disiapkan penerangan dengan lampion-lampion yang dipasang sejak senja hingga keesokan harinya.

Setelah Dinasti Han runtuh, barulah perayaan Cap Go Meh ini diketahui oleh masyarakat umum. Kejadian ini dianggap menjadi cikal bakal perayaan Cap Go Meh hingga saat ini.

Di Pontianak sendiri, setiap tahun baru China selalu diadakan yang namanya Cap Go Meh. Bahkan selalu menghadirkan kejutan-kejutan yang berbeda pada setiap tahunnya. Melansir berita yang tertuang di pontianakpost.com yang diunggah pada hari Senin (15/02/2016), di tahun 2016 ini, akan dihadirkan Naga Langit raksasa yang siap beraksi di tengah udara Pontianak dan daerah-daerah sekitar seperti Sungai Pinyuh.

Menurut berita tersebut, puncak perayaan Cap Go Meh di Kalimantan Barat khususnya Pontianak jatuh pada tanggal 22 Februari 2016. Kemudian juga perayaan kali ini digadang-gadangakan berlangsung meriah dan semarak. Ditambah Naga Langit akan tampil lebih besar daripada naga di tahun sebelum-sebelumnya.

Tidak hanya Naga Langit yang akan tampil. Barongsai, drumband, dan parade busana khas etnis Tionghoa juga turut hadir guna menciptakan suasana meriah yang diidamkan.

Berikan Komentar Anda

avatar