Menunggu Dentuman Meriam Karbit Pontianak

Salah seorang pemuda menyalkan meriam karbit di pinggir sungai Kapuas [Istimewa]

NEWSWANTARA – Moment yang ditunggu-tunggu seluruh umat mulism di dunia yaitu moment lebaran. Lebaran yang sebentar lagi tiba tidak lepas dari kata mudik. Kegiatan silaturahmi, berziarah, hingga menikmati ketupat dan opor ayam sebagai hidangan yang menjadi sesuatu yang dirindukan pemudik.

Menyambut Lebaran, warga Pontianak mengadakan suatu festival yang menarik. Namanya adalah festival meriam karbit. Biasanya festival ini dilakukan menjelang malam takbiran yang telah menjadi event tahunan.

Festival Meriam Karbit merupakan event tahunan yang digelar di Pontianak, Kalimantan Barat, di mana masyarakat berkumpul di sekitar jembatan Sungai Kapuas untuk menyalakan meriam. Berbagai meriam yang dimainkan pun tidak biasa, diameternya bisa mencapai 50 cm.

Baca juga : menjaga kelestarian pasar apung sungai barito

Meriam Karbit sebuah permainan tradisional rakyat di Kalimantan Barat, punya hubungan dengan kuntilanak dan Pontianak. Suguhan atraksi wisata yang dinantikan masyarakat sembari melewatkan malam takbiran. Pada umumnya, meriam karbit yang masih ada hingga saat ini rata-rata memiliki panjang 6 meter, dengan diameter d iatas 50 centimeter.

Memasuki awal bulan Ramadhan, setiap kelompok masyarakat yang memiliki meriam karbit sudah mulai mempersiapkan diri masing-masing. Setiap kelompok warga rata-rata memiliki 6 hingga 10 meriam karbit. Saat ini lebih dari 50 kelompok warga yang memiliki meriam karbit di tepian Kapuas.

Hiasan yang unik pada meria karbit serta ukuran besar yang mencapai 5 meter dengan diameter di atas [istimewa]
Persiapan dimulai dengan menaikkan meriam-meriam yang direndam di Sungai Kapuas usai digunakan pada tahun sebelumnya. Meriam itu sengaja direndam di dalam air dengan harapan bisa memperpanjang usia pakainya. Pengerjaan persiapan biasanya dilakukan pada malam hari usai salat tarawih.

Warga bergotong royong membenahi meriam milik mereka masing-masing. Setelah dinaikkan ke darat, meriam tersebut dibersihkan terlebih dahulu untuk membuang kotoran yang menempel selama direndam dalam air.

Festival meriam karbit digelar bukan hanya sebagai tradisi unik lebaran di Pontianak, tetapi juga untuk mengenang pendiri Kota Pontianak, Sultan Syarif Abdurahman Alkadri. Menurut penuturan masyarakat setempat Sultan Syarif Abdurahman Alkadri mempunyai kebiasaan mengusir kuntilanak dengan meriam.

Ajang perlombaan meriam karbit ini  pernah memecahkan rekor MURI pada tahun 2007 dengan predikat perlombaan meriam terbanyak mencapai 150 meriam. Mengualang kesuksesannya, festival ini kembali memecahkan rekor pada tahun 2009 dengan 198 dentuman sepanjang malam.

Festival Meriam Karbit selalu ditunggu-tunggu warga setempat dan wisatawan. Festival yang menjadi aset Pontianak harus dipertahankan keberadaan untuk bisa lestarikan. Menurunnya peserta yang ikut serta dari tahun bisa mengkhawatir akan keberlangsungan tradisi unik ini. Keikutsertaan pemerintah dibutuhkan untuk bisa dinikmati oleh generasi penerus.