lasem
Lasem adalah harmoni kekompakan dan kerukunan hidup masyarakat multi etnis [Pict: Clara Indonesia]

NEWSWANTARA – Hidup Damai dalam keberagaman yang penuh toleransi telah menjadi warisan kebijaksanaan terpenting yang selalu dijunjung tinggi bangsa Indonesia. Dalam sejarah Indonesia budaya toleransi ini memiliki jejak panjang di banyak komunitas, salah satunya di Lasem, kota kecil di Kabupaten Rembang, Jawa Tengah yang ke kerap dijuluki sebagai Tiongkok kecil.

Di kota yang merupakan lokasi pertama kedatangan etnis Tionghoa di nusantara ini masyarakat yang berasal dari berbagai latar belakang etnis seperti Tionghoa, Jawa dan Arab hidup rukun dan membaur selama berabad-abad.

Pada abad ke-14, banyak masyarakat Tiongkok bermigrasi ke Asia Tenggara, mereka berasal dari provinsi Guangdong, Fujian dan Guangxi, dan Lasem merupakan salah satu tempat persinggahan orang-orang Tionghoa, sebab Lasem menjadi pusat perdagangan maritim kala itu.

Warga Tionghoa pun membangun permukiman di Lasem yang kini menjadi pecinan tua Lasem. Sejarah mencatat sudah ada permukiman warga Tiongkok di Lasem sejak abad ke-15. warga Tionghoa memilih tempat tinggal yang dianggap strategis seperti dekat pasar atau tempat pendaratan kapal.

Kota Lasem yang terletak di wilayah pantai utara Jawa Tengah telah menjadi salah satu kota penting di nusantara sejak masa kekuasaan Kerajaan Majapahit. Kota pelabuhan ini merupakan salah satu pintu masuk ke wilayah Kerajaan Majapahit, di kota inilah pada abad ke-14 penjelajah Tiongkok terkenal “Laksamana Cheng Ho” dan armadanya melabuhkan kapal-kapalnya.

Keberadaan warga etnis Tionghoa di Lasem tidak bisa dilepaskan dari sejarah kedatangan armada Tiongkok yang dipimpin Laksamana Cheng Ho kala itu. Cheng Ho mengunjungi beberapa kota di nusantara, salah satunya lasem untuk menjalin hubungan dagang dan mengemban misi diplomasi dengan beberapa penguasa di nusantara. Kedatangan Cheng Ho ini diterima dengan baik oleh banyak penguasa di nusantara.

Baca Juga:

Proses Kehadiran dan pembauran warga etnis Tionghoa dalam kehidupan masyarakat Lasem yang berlangsung alamiah ini membuat hubungan antar etnis di wilayah ini berlangsung cair dan harmonis dan hubungan yang saling menghormati ini tak pernah koyak meski berkali-kali dihadapkan pada berbagai ujian dan tantangan.

Salah satu ujian terhadap kehidupan penuh harmoni di Lasem terjadi pada tahun 1740. Saat itu di kota Batavia terjadi insiden kekerasan dan pembantaian warga etnis Tionghoa yang dilakukan VOC Belanda. Menyusul peristiwa berdarah yang kerap dikenang sebagai “Geger Pecinan” ini banyak warga Tionghoa yang lari mengungsi dari Batavia menuju kota-kota di pantai utara Jawa, diantaranya Semarang dan Lasem.

Kedatangan warga etnis Tionghoa di Lasem diterima dengan baik oleh Adipati Lasem pada masa itu yakni Tumenggung Widyaningrat yang juga keturunan Tionghoa dan memiliki nama asli Oe Ing Kiat.

Selain Peristiwa Geger Pecinan, lebih dari 2 abad kemudian kerukunan hidup warga Lasem juga kembali diuji saat terjadi kerusuhan rasial anti Tionghoa yang pecah di beberapa kota di Indonesia pada tahun 1980 dan tragedi 1998, namun meski berita dan provokasi kerusuhan tersebar hingga ke Lasem, harmoni kekompakan dan kerukunan hidup warga multi etnis di Lasem yang telah berlangsung berabad-abad tidak banyak terpengaruh.

Perjanjian damai yang terikrar antar warga multi etnis di wilayah ini membuat Lasem tetap aman dari dampak kerusuhan rasial anti Tionghoa dan jauh dari gejolak pertikaian. Jika di kota-kota lain terjadi banyak pengerusakan, di Lasem bangunan-bangunan atau rumah-rumah warga berarsitektur khas Tionghoa masih berdiri kokoh, se-kokoh hubungan multietnis yang terjalin sangat erat di wilayah ini.

Bagi warga Lasem, hidup rukun dan penuh toleransi bukan hanya sebuah jargon, namun adalah sebuah keniscayaan dalam kehidupan, karena sejarah dan jejak panjang kerukunan dan toleransi di kota mereka. Lasem adalah sebuah contoh bagi kita agar lebih membuka mata hati dan cakrawala kita untuk lebih menghargai perbedaan dan menghormati sesama saudara setanah air kita, karena kita adalah satu, satu Indonesia.

Dengan lorong-lorong yang sunyi, Lasem adalah sejarah yang tak pernah usai. Kenangkanlah tentang kota di tepian Jawa Tengah yang menjadi corong candu di masa silam. Kota yang menautkan pusaka pecinan, pesantren dan batik pesisir. Inilah langgam orang-orang Lasem. Bukan soal komunitas Tionghoa, bukan pula soal Jawa atau Muslim, Lasem adalah Harmoni dari keduanya.

Tidak penting apa latar belakangmu. Kalau kamu bisa melakukan sesuatu yang  lebih baik untuk semua orang, orang tidak akan pernah tanya apa agamamu, apa sukumu, apa latar belakangmu

~K.H. Abdurrahman Wahid (Gus Dur)~

Berikan Komentar Anda

avatar