“Jancuk” Sebagai Sebuah Identitas

Jancuk
Jancuk

“Jancuk yo’opo kabarmu cuk?”

“Apik Apik ae cuk”

Bagi anda yang berasal dari Provinsi Jawa Timur pasti tak asing dengan kata-kata dalam percakapan tersebut. Jancuk, jancok atau dancok? kata itu merupakan sebuah kata khas dari Surabaya yang biasanya digunakan dalam berkomunikasi sehari hari bagi arek-arek Suroboyo atau arek Jawa Timur, namun seiring berjalannya waktu, kata jancok kini telah menyebar luas dan menjadi tren baru di kalangan masyarakat Indonesia khususnya anak muda. 

Jancuk digunakan masyarakat Jawa Timur khususnya Surabaya sebagai suatu proses interaksi sosial mereka. Bahwa pada hakikatnya jancuk hanyalah merupakan ungkapan yang menandakan suasana keakraban internal kelompok masyarakat Surabaya sendiri.

Baca Juga : Tekad Srikandi untuk Perubahan Nyata 

Pada dasarnya jancuk merupakan penanda masyarakat Surabaya yang berwatak keras, bahkan terkesan ‘kasar’. Pernyataan tersebut tidaklah salah, sebab memang secara harfiah, jancuk sendiri berasal dari kata ngencuk yang berarti bersetubuh, namun seiring berjalannya waktu, kata jancuk sendiri kini mengalami berbagai macam perluasan makna.

Disisi lain masyarakat Surabaya dikenal sebagai masyarakat yang dalam proses interaksi sosial menganut sistem masyarakat yang bersifat egaliter. Sistem masyarakat yang bersifat egaliter adalah sebuah perilaku sosial dalam sebuah proses interaksi sosial yang tidak membeda-bedakan manusia, terutama dalam ruang lingkup kelompok sosialnya sendiri, dalam hal status dan derajat sosialnya (Kellner, 2003: 215)

Baca Juga: Mengenal Singkat Perkembangan Peradaban di Surabaya

Selama ini sebagian besar orang menganggap kata jancuk merupakan suatu kata-kata yang berkonotasi negatif, kata kotor yang tidak pantas untuk diucapkan. Namun hal tersebut sangatlah kurang tepat, karena arti dan makna dari kata jancuk bisa juga dimaknai sebagai ekspresi marah, benci, sedih sampai ekspresi bahagia. Namun sejatinya jancuk merupakan suatu bentuk reaksi protes seseorang terhadapan perbuatan jahat atau perbuatan yang tidak baik.

JANCUK ATAU JANCOK?

kalau dilihat dari kata dasarnya “Ngencuk” maka kata yang pas untuk digunakan adalah “Jancuk” berhubung lidah orang jawa apalagi orang Jawa Timur khususnya Surabaya yang biasa mengucapkan huruf “U” menjadi “O” maka kata jancuk berubah menjadi jancok. Perbedaan kata tersebut tidak menjadi masalah, hanya sebuah perbedaan pelafalan saja yang pada dasarnya tetap memiliki maksud yang sama.

Presiden jancukers, pict : youtube.com
Presiden jancukers, pict : youtube.com

“Jancuk” itu ibarat sebilah pisau, bila diucapkan dengan niat tak tulus, penuh amarah, dan penuh dendam maka akan dapat menyakiti. Tetapi bila diucapkan dengan kehendak untuk akrab, kehendak untuk hangat sekaligus cair dalam menggalang pergaulan, “jancuk” laksana pisau bagi orang yang sedang memasak. “Jancuk” dapat mengolah bahan-bahan menjadi jamuan pengantar perbincangan dan tawa-tiwi di meja makan. Simbol keakraban. Simbol kehangatan. Simbol kesantaian. Lebih-lebih di tengah khalayak ramai yang kian munafik, keakraban dan kehangatan serta santainya “jancuk” kian diperlukan untuk menggeledah sekaligus membongkar kemunafikan itu. (Sujiwo Tejo)