Toyoko, Si Bajaj Jepang Yang Pernah Menghiasi Jalanan Ibukota

Bajaj Toyoko
Toyoko, bajaj Jepang yang pernah menghiasi jalanan Jakarta [Istimewa]

NEWSWANTARA – Jalanan Ibukota Jakarta selalu menyimpan beragam cerita unik yang selalu berhubungan dengan kemacetan dan alat transportasi, dalam hal ini moda transportasi beroda tiga dengan deru bisingnya yang berseliweran di jalanan Jakarta, apalagi kalau bukan bajaj.

Selain bajaj buatan India yang kita kenal selama ini, ternyata terdapat sebuah alat transportasi lain yang serupa dengan bajaj yang pernah turut dalam meramaikan jalanan Jakarta, Toyoko namanya.

Toyoko merupakan kendaraan mirip dengan bajaj yang diimpor langsung dari Jepang. Bentuk dan ukurannya mirip seperti bajaj, hanya saja bagian belakangnya lebih besar daripada bagian depannya. Bajai menggunakan persneling yang berada di tangan, sedangkan Toyoko menggunakan persneling tongkat.

Toyoko sendiri merupakan kendaraan sitaan yang sudah ada di Indonesia sejak tahun 1970-an. Toyoko gencar diperkenalkan pemerintah DKI Jakarta sekitar tahun 1990-an sebagai langkah untuk mengurangi jumlah becak yang jumlahnya tak terkontrol. Saat itu, 500 unit Toyoko diperkenalkan sebagai pengganti becak.

Kehadiran becak yang cukup membludak saat itu lebih dianggap sebagai masalah ketimbang sebagai sarana transportasi jarak dekat yang membantu masyarakat. Hingga tahun 1985, jumlah becak yang beroperasi di Jakarta mendekati 40.000 unit, dan hanya 7.828 unit yang memiliki izin.

Keadaan tersebut merisaukan pemerintah daerah DKI Jakarta. Pada masa kepemimpinan Gubernur Wiyogo Atmodarminto, dibentuklah Tim Penyelesaian Masalah Becak. Tim ini menggagas ide mengganti becak dengan moda transportasi alternatif.

Baca Juga

Para pengemudi becak yang tak memiliki izin, ditertibkan melalui sejumlah razia, dan mereka diperkenankan untuk mengangkut penumpang dengan Toyoko. Saat itu, Toyoko ditawarkan dengan harga yang cukup murah. Toyoko dengan kapasitas mesin 100 cc dibandrol dengan harga Rp2,2 juta, sedangkan 165 cc seharga Rp2,7 juta.

Wacana untuk menghadirkan Toyoko sebagai pengganti becak menuai cukup banyak kontroversi. Kendaraan roda tiga harus berbahan bakar gas, sesuai kampanye udara bersih yang digalakkan gubernur DKI Jakarta. Selain itu, kendaraan roda tiga termasuk jenis kendaraan yang tidak dikembangkan di wilayah DKI Jakarta. Peruntukannya hanya boleh di lingkungan permukiman.

Meskipun demikian, pengoperasian Toyoko tetap diizinkan oleh pemerintah daerah DKI Jakarta. Uniknya, di belakang badan toyoko ditulis kata “sadar”. Kata ini ditujukan kepada mantan pengemudi becak yang telah insaf karena beralih ke Toyoko. Pemerintah daerah DKI Jakarta mengharapkan kehadiran Toyoko mampu memancing Bajaj pindah dari pusat kota dan berpindah wilayah operasi ke kompleks permukiman.

Namun, setelah setahun beroperasi, Toyoko tidak dapat menjawab persoalan lalu lintas kota Jakarta. Pengemudi Toyoko malah beroperasi di jalan-jalan pusat kota, berbaur dengan kawanan Bajaj. Tidak ada ubahnya Toyoko dan Bajaj. Mereka melintasi kawasan utama ibukota seperti Salemba, Tanah Abang, dan beberapa jalan di Jakarta Barat.

Di tahun berikutnya, jumlah pengemudi Toyoko semakin menyusut. Dari 500 unit Toyoko hanya 100 unit yang beroperasi. Hal ini karena sebagian besar pengemudi tidak memenuhi kewajiban kredit mereka. “Akibatnya, 342 unit Toyoko tidak mendapat perpanjangan izin usaha.

Memasuki era tahun 2000-an, deru bising Toyoko telah menghilang dari jalanan Jakarta. Pemutusan izin usaha, dampak polusif, dan kerusakan suku cadang menjadi penyebabnya. Hingga kini, becak masih ditemui mangkal di tiap sudut kota. Sedangkan Toyoko, hanya tinggal cerita saja.


Sumber : Historia

 

 

Berikan Komentar Anda

avatar
wpDiscuz