Melanjutkan Semangat Sumpah Pemuda

NEWSWANTARA – Setiap tahun pada tanggal 28 Oktober kita selalu memperingati sumpah pemuda. Entah, sudah ke-5 kali, ke-10 kali, ke-15 kali atau lebih dari itu kita merayakannya dengan berbagai cara mulai dari yang paling sederhana, berdoa dan mengenang peristiwa sumpah pemuda sampai pada perayaan yang paling meriah dengan berbagai pertunjukkan seni, teatrikal atau musik.

Namun lagi-lagi sering ada yang terlewat dari berbagai peringatan yang kita lakukan selama ini. Kita sampai hari ini masih belum mampu menghadirkan kembali spirit perjuangan mereka.

Selama ini yang kita hadirkan masih sekedar ceremonial tanpa penghayatan mendalam bahwa pemuda-pemuda di tahun 1928 kala itu berkumpul untuk membulatkan tekad, ada tantangan yang harus dihadapi bersama-sama, ada cita-cita dimana itu bisa diwujudkan bila dilakukan bersama-sama.

Sadar akan perlunya sebuah persatuan untuk menghadapi penjajahan. Sadar bahwa tanpa persatuan apa yang diperjuangkan para pemuda kala itu akan mudah patah. Pemuda kala itu berkumpul mewakili bangsanya masing-masing yang menyadari bahwa masih satu rumpun, yakni melayu-nusantara.

Ada Jong Java, Celebes, Batak, Ambon, dan lain-lain sepakat untuk bersatu dalam ikrar berbangsa, berbahasa dan bertanah-air satu: bangsa Indonesia. Mereka sepakat mengakui sebuah bangsa baru yang bernama Indonesia.

Bangsa yang lahir dari rahim bangsa-bangsa asli nusantara. Sebuah bangsa yang diharapkan mampu membawa bangsa-bangsa nusantara merdeka dan sekaligus menjadi penjaga persatuan nusantara.

Apa yang dilakukan oleh para pemuda 1928-an kala itu menunjukkan cerminan kesungguhan tekad jiwa raga mereka untuk mengambil satu sikap tegas, tindakan ingin mengakhiri penjajahan.

Sudah puluhan tahun bangsa-bangsa nusantara dijajah wilayahnya, dihisap sumber dayanya, dilemahkan jiwanya oleh penjajah, tetapi generasi pemuda kala itu berkumpul dan memilih mengambil jalan untuk menghentikan penjajahan, maka lahirlah sumpah pemuda.

Pemahaman lainnya terkait dengan sumpah pemuda yang seringkali terlewat adalah apa yang dilakukan pemuda 1928-an kala itu bukan serta merta berkumpul tanpa punya pemahaman yang utuh tentang sebuah penjajahan.

Pemuda di tahun 1928 saat itu sudah mampu mengenali tantangan zamannya sehingga punya cara pandang utuh tentang apa itu penjajahan, bagaimana cara kerjanya, hingga instrumen-instrumen apa saja yang melanggengkannya. Mereka mengenal betul apa yang sedang terjadi dan apa yang dihadapi.

Apabila kita mau menjadikan momen sumpah pemuda sebagai suatu kontinuitas sejarah, maka perlu mengambil kembali api sumpah pemuda 1928 dan menyusun kesadaran baru untuk menjawab tantangan masa kini.

Tantangan pemuda masa kini tentunya berbeda dengan tahun 1928-an. Sekalipun semangat api sumpah pemuda sudah dimiliki, tetapi kesadaran dan pemahaman menyeluruh akan kondisi nyata yang sedang berlangsung saat ini belum sepenuhnya muncul dalam pandangan pemuda masa kini.

Belum ada pemahaman bersama-sama tentang tantangan yang dihadapi. Selama ini yang terjadi adalah masing-masing pemuda punya pandangan sendiri-sendiri terkait dengan kondisi nyata hari ini, terkait dengan apa-apa yang sedang terjadi, dan terkait dengan apa-apa yang harus dihadapi. Maka menghadapinya pun sendiri-sendiri, bersatunya pun juga sendiri-sendiri sesuai kelompoknya masing-masing.

Belum lagi ada sebagian pemuda punya kesadaran begitu rendah untuk mau berubah. Begitu minim kemauan sunguh-sungguh untuk mengantisipasi ancaman hancurnya kedaulatan bangsa Indonesia.

Sebagian pemuda lagi ada yang sudah tidak percaya akan ada kemungkinan perubahan. Bahkan ada pemuda yang tidak mau berubah karna ketidakbenaran bangsa ini begitu cocok dengan kepentingan dan keuntungannya.

Melihat keadaan pemuda hari ini dengan berbagai kecenderungannya masing-masing dalam merespon tantangan zamannya. Maka tentunya ini sangat sulit bila saat ini masih mengharapkan momen sumpah pemuda dijadikan sebagai kontinuitas sejarah yang mampu menggerakkan pemuda untuk bersatu, mengambil sikap bulat mengarahkan bangsa Indonesia menuju kemerdekaan yang sesungguhnya.

Sebagai jalan kesana, para pemuda dari berbagai daerah atau berbagai kelompok perlu melakukan sebuah dialog dan diskusi, yang itu berulang kali dan terus menerus sampai menemukan titik kesadaran bersama atas apa-apa yang terjadi, atas apa-apa yang dihadapi dan itu bisa dilaksanakan melalui satu-satunya cara yaitu bersatu.

Berikan Komentar Anda

avatar
wpDiscuz