Komoditi Bernilai Ekonomis ditengah Isu Pengendalian Tembakau

Pict : energitoday.com

NEWSWANTARA – Desakan dari berbagai kalangan agar pemerintah Indonesia secepatnya untuk meratifikasi Framework Convention on Tobacco Control (FCTC) terus mencuat. FCTC tersebut menegasakan pentingnya strategi untuk pengurangan permintaan terhadap produk tembakau serta memiliki kecenderungan mencegah orang untuk merokok.

Dengan diratifikasinya FCTC secara tidak langsung akan berdampak buruk bagi kelangsungan hidup petani tembakau di Indonesia serta berpotensi untuk membunuh kretek di negeri sendiri dengan melarang penggunaan cengkeh sebagai bahan baku, seperti yang terjadi di USA dan Brazil.

Sampai saat ini pemerintah Indonesia belum meratifikasi FCTC yang diinisiasi oleh World Health Organization (WHO). FCTC diarahkan untuk mengurangi permintaan (demand reduction) yang pada akhirnya akan mempengaruhi produksi rokok secara signifikan baik secara global maupun lokal.

Menurut Ketua Umum Kontak Tani Nelayan Andalan (KTNA) Winarno Tohir, FCTC bukan suatu kebutuhan menjawab aspek tembakau dan kesehatan karena sesungguhnya pertembakauan sudah banyak diatur, baik dari hulu ke hilir. Masyarakat juga sudah berpikir maju dan bisa memilah mana yang baik bagi dirinya.

Berdasarkan data analisa ekonomi KTNA menunjukkan bahwa, tembakau mempunyai Nilai Tukar Petani (NTP) lebih tinggi dibandingkan dengan tebu. Di sisi lain, konsentrasi pemerintah dalam mencapai target penerimaan negara perlu dijaga, pasalnya industri tembakau merupakan salah satu industri penyumbang devisa negara terbesar.

Untuk pindah komoditi (subtitusi) dari tanaman tembakau ke komoditi apapun tidaklah segampang apa yang dibayangkan. Karena ilmu bertani tembakau merupakan ilmu turun-menurun. Oleh karenanya substitusi tanaman tembakau merupakan suatu aspek penting yang harus diperhatikan dalam isu tembakau.

Pengetahuan petani tembakau rata-rata berasal dari turun-temurun. Belum lagi latar belakang pendidikan petani tembakau yang sebagian besar masih rendah dengan tingkat pendidikan sekitar 87 persen adalah tamatan SD, sehingga membutuhkan pendekatan dan pemahaman yang komprehensif.

Tembakau Indonesia tidak hanya bernilai ekonomis, namun juga memiliki nilai sejarah. Oleh sebab itu, tembakau merupakan komoditi yang harus diperhatikan secara seksama agar pemerintah mampu menghasilkan kebijakan yang mengakomodir kepentingan semua pihak secara berkeadilan.

Sebagaimana halnya yang bisa kita lihat dari negara Kuba, bagaimana mereka bangga dengan produk cerutunya yang mendunia. Kita semestinya menghargai sejarah bangsa ini. Petani tembakau punya andil besar dalam perjalanan pembangunan, karena tidak semua negara di dunia tanahnya dapat ditanami tembakau.


Sumber : Kompas

Berikan Komentar Anda

avatar
wpDiscuz