Bahasa Sasak Sebagai Sebuah Penopang Kekuatan Suku Sasak

suku sasak

“tempil buaq leq repoq daye

repok daye te bait tikel.

Ku ceritaq sopok cerite

cerite godeq dait tetuntel”

NEWSWANTARA – Iya, ini sebuah pantun atau syair yang sangat asli dari Lombok, ciptaan suku sasak asli atau dalam bahasa yang sering digunakan oleh orang Eropa maupun Amerika untuk memuji kekhasan suku sasak adalah “created by sasak”.

Menurut hasil kajian dari Pusat Studi Kajian Budaya Universitas Gadjah Mada, sembilan dari sepuluh anak-anak suku sasak lebih memilih cerita/dongeng/legenda yang berasal dari Eropa daripada dongeng asli dari sasak sebagai pengantar tidur.

Hal ini merupakan tamparan keras bagi para akademisi, aktivis, dan para penggiat pelestari budaya sasak yang semua dari mereka mengaku ingin melestarikan budaya sasak yang ada. Ditambah lagi, menurut Dr. Phil Hermin salah satu dosen Ilmu Komunikasi Universitas Gadjah Mada mengatakan dalam salah satu seminarnya “the threat of the most dangerous for an area is when culture start studied by Europian and American”.

Dari penjelasan yang diutarakan oleh Dr Phil Hermin merupakan pekerjaan rumah yang besar bagi para akademisi, aktivis, komunitas-komunitas sasak untuk memulai meningkatkan ketertarikan semua hal yang berkaitan dengan suku sasak, khusus dalam bahasa sasak yang merupakan pondasi utama kekuatan bagi bangsa sasak.

Bangsa yang kuat berasal dari bahasa yang kuat. Analogi ini tidak sebatas hanya sebagai “meme” atau juga bahan candaan dalam sosial media tetapi analogi ini menggambarkan bahwa suatu bangsa yang kuat memang benar lahir dari bahasa yang kuat.

Hal ini juga berlaku kepada bangsa sasak yang memiliki bahasa sasak. Tidak hanya itu, bahasa juga merupakan suatu keterampilan atau seni dalam berkomunikasi. Pernyataan ini dipertegas oleh Gorys Keraf (1997) yang merupakan seorang ahli komunikasi yang memandang bahwa bahasa merupakan alat dan juga seni dalam berkomunikasi antara anggota masyarakat berupa simbol bunyi yang dihasilkan melalui indra pengucap manusia.

Bahasa yang merupakan seni atau keterampilan berkomunikasi ini sangat jarang diperhatikan oleh bajang dan dedare Lombok, bahkan dalam pendidikan formal di sekolah- sekolah mulai dari pendidikan dasar sampai dengan pendidikan menengah atas tidak menjadi suatu hal yang ditekankan oleh penyelanggara pendidikan, dalam hal ini adalah pemerintah dan lebih khusus lagi adalah dinas-dinas yang terkait dalam penyusunan sistem pembelajaran yang ada di Lombok.

Hal ini sangat disayangkan karena bahasa menujukkan bangsa, bahasa merupakan akar dan pondasi sebagai penopang bangsa itu sendiri, dan juga merupakan bahasa sebagai identitas bangsa.

Sebagai identitas bangsa, pertanyaan besar bagi seluruh masyarakat Lombok sebagai penutur bahasa sasak. Apakah semua dari masyarakat tersebut memainkan perannya sebagai penutur bahasa sasak?

Tantangan terbesar bagi seluruh suku yang ada di Indonesia tidak hanya suku sasak dalam melestarikan bahasa lokalnya masing-masing adalah adanya kesadaran berbangsa satu dan berbahasa satu, maka dari itu muncul lah bahasa nasional yang digadang-gadang sebagai bahasa pemersatu yang asal usul bahasa nasional tersebut adalah campuran dari bahasa lokal dan bahasa asing.

Adanya unsur pemersatuan bahasa tersebut menjadikan bahasa nasional menjadi bahasa buatan yang sangat terkenal dengan Bahasa Indonesia. Bahasa Indonesia sebagai bahasa nasional menjadi sangat termasyhur atas kepiawaian para ahlinya dalam menyusun dan merangkai katra-kata dan pola komunikasi yang diakibatkan oleh penutur bahasa tersebut.

Selama delapan dekade Bahasa Indonesia menjadi bahasa yang memiliki perkembangan yang sangat luar biasa pesat, hal ini ditunjukkan dari lebih 250 juta penuturnya.

Pada dasarnya dalam perkembangan Bahasa Indonesia, bahasa ini menjadi salah satu bahasa terbesar di dunia dengan menduduki peringkat keenam dalam bahasa yang paling banyak penuturnya di Indonesia.

Namun, walaupun banyak penuturnya pengaruh Bahasa Indonesia masih sangat lemah. Hal ini diperkuat dari jarangnya pusat studi yang mempelajari Bahasa Indonesia di level internasional. Hal ini juga diprediksi disebabkan oleh lemahnya pengaruh bangsa Indonesia dalam dunia global dari segi politik, ekonomi dan budaya.

Berbeda dengan Bahasa Indonesia, bahasa-bahasa yang dipakai dalam Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) merupakan bahasa yang memiliki pengaruh yang sangat kuat, tidak hanya dalam satu bidang teteapi bahasa yang digunakan dalam PBB merupakan bahasa yang sangat berpengaruh dalam berbagai bidang, baik itu bidang ekonomi, politik, maupun budaya.

Namun, bahasa yang memiliki pengaruh yang kuat terhadap dunia global namun tidak digunakan dalam PBB bisa jadi disebabkan oleh pengaruh negara tersebut dalam bidang ekonomi dan teknologi yang sangat berpengaruh dalam dunia internasional. Seperti contohnya Jepang dan Tiongkok.

Bahasa sasak yang merupakan bahasa lokal yang ada di bumi nusantara ini muncul dengan bahasa dan tutur pitutur yang belum kompak dan belum solid. Para penuturnya yang ada di Lombok yang merupakan suku sasak, saat ini jumlahnya lebih dari tiga juta penutur.

Bahasa sasak yang dimiliki oleh suku sasak tidak memiliki gramatika yang sempurna dan juga kosa-katanya yang banyak tidak dikenal secara menyeluruh bahkan oleh penuturnya sendiri. Kosa kata yang tidak lebih dari 1000 kata membuat level para penuturnya was-was apabila menggunakannya dan tidak dimengerti oleh lawan komunikasinya.

Hal ini yang menjadikan para penutur bahasa sasak minder dalam berkomunikasi dengan bahasa sasak dan lebih memilih untuk berkomunikai dengen menggunakan bahasa asing. Akibat dari ini adalah komunikasi antara penutur tidak berjalan dengan lancar.

Dengan adanya komunikasi yang tidak lancar di antara para penutur bahasa sasak berimplikasi ke setiap sudut yang ada di kalangan para penutur bahasa sasak, sebagai contohnya kasus TKI yang berasal dari Lombok, kasusnya sangat tragis.

Banyak dari TKI yang berasal dari Lombok merupakan TKI yang ilegal, banyak di antara mereka hanya terdiam, terpaku dan merenung atau hanya momot meco ndeq keruan karena mereka tidak dapat menggambarkan atau melukiskan emosi mereka dengan bahasa yang tepat, bahkan dengan bahasa Indonesia sekalipun mereka masih begaqgaq. Akibatnya, sekali memulangkan TKI ilegal, terdapat 100 ribu TKI yang dipulangkan dan hampir 50% dari TKI yang dipulangkan tersebut merupakan TKI yang berasal dari tanah sasak.

Pada dasarnya, kesadaraan untuk mencintai bahasa sasak namun tetap membutuhkan bahasa nasional maupun bahasa internasional harus ditanamkan sejak dini kepada para penutur bahasa sasak. Perlu untuk disadari bahwa, suku sasak memiliki Sumber Daya Alam (SDA) yang sangat melimpah.

Tidak hanya SDA saja yang melimpah tetapi juga Sumber Daya Manusia (SDM) sangat berjejal. Namun, kembali diingatkan bahwa para penutur bahasanya belum solid sehingga bisa berakibat kepada lemahnya komunikasi yang terjadi di antara mereka.

Kalimat yang sering muncul dari bajang dan dedare Lombok adalah “ndeq ku semel plok” dan untuk mengintimidasi lawan komunikasinya digunakan kalimat yang hampir sama namun memiliki nada yang pasif yakni “sang semelan mek/bi plok”.

Kebanggaan berbahasa sasak akan meningkatkan kepercayaan diri para penuturnya serta bisa membangun karakter dan identitas yang kuat bagi suku sasak sendiri. Namun, perlu untuk diperhatikan kebanggaan tersebut jika tidak diimbangi dengan bahasa layaknya sebuah gertakan namun tidak disandingkan dengan aksi, bisa juga dianalogikan dengan kalimat seperti ini “ndaraq aksi ne plok, sok sok ne muni”.

Berdasarkan penuturan di atas, mari kita sebagai anggota SAJ yang merupakan komunitas kecil yang bermimpi menjadi organisasi besar mulai meningkatkan kepercayaan diri dan ketertarikan akan bahasa sasak. Mulai dari hal yang kecil seperti dengan meningkatkan kosa kata sederhana menjadi level 1000 kata. Hal ini sangat membantu suku sasak menjadi kuat dan bermartabat melalui bahasa.

~Semangat, ndaq ilak-ilak plook !! ingat, harga diri terletak pada sebuah karya, cocok te ilak lamun te ngeraos doang, ndarak siq bau te lakuang~

Berikan Komentar Anda

avatar
wpDiscuz