Sabang Dalam Geliat Kawasan Perdagangan Bebas

Pict : sabangpesona.com

NEWSWANTARA – Terletak di ujung barat indonesia, Kota Sabang dijadikan sebagai titik nol Indonesia, yang merupakan bagian dari provinsi yang terletak di wilayah paling barat Indonesia, yakni Provinsi Aceh. Provinsi yang kaya akan hasil alam ini memiliki potensi yang cukup besar dalam menunjang perekonomian nasional.

Sabang atau yang lebih dikenal dengan Pulau weh mendapat julukan The Golden Island, memiliki lokasi yang sangat strategis di Selat Malaka yang merupakan jalur transportasi laut tersibuk di dunia sebelum kapal laut beralih ke tenaga diesel.

Sabang berasal dari bahasa Aceh yakni Saban yang berarti, ‘sama hak dan kedudukan dalam segala hal’. Hal ini dikaitkan dengan keberadaan Sabang yang dulunya banyak didatangi pendatang dari luar untuk membuka kebun atau usaha lainnya.

Regulasi untuk membuat Kawasan Perdagangan Bebas dan Pelabuhan Bebas Sabang, ditetapkan dengan Undang-undang No 37 Tahun 2000 yang terdiri dari Kota Sabang (Pulau Weh, Pulau Klah, Pulau Rubiah, Pulau Seulako & Pulau Rondo) dan Kecamatan Pulau Aceh, Aceh Besar (Pulau Breuh, Pulau Nasi dan Pulau Teunom) yang meliputi luas wilayah 394 km2.

Kawasan Sabang memiliki posisi geografis yang strategis bagi jalur perdagangan dan pelayaran dunia karena karena terletak pada jalur masuk bagian barat antara Kawasan Asia Pasifik dan Asia Barat Daya.

Sebagai pintu masuk Selat Malaka, Sabang dilalui rata-rata 50,000 kapal kontainer setiap tahunnya. Kedalaman laut secara alami di Pelabuhan Sabang yang mencapai 22 meter membuat kawasan ini siap untuk menerima kedatangan kapal raksasa generasi masa akan datang (beacukai.go.id).

pict : beacukai.go.id
pict : beacukai.go.id

Potensi yang dimiliki sabang tidak hanya mencakup sektor industri dan pertanian saja, tetapi juga meliputi sektor-sektor yang lain. Salah satu sektor tersebut adalah sektor pariwisata. Potensi geografis yang dimiliki Sabang harus mampu digarap maksimal oleh Badan Pengusahaan Kawasan Sabang (BPKS) sehingga kawasan ini dapat berkembang dan mampu meningkatkan pertumbuhan perekonomian di Aceh.

BPKS bersama pemerintah daerah harus mampu bersinergi dalam membangun berbagai infrastruktur pendukung seperti galangan kapal sehingga kapal-kapal dalam dan luar negeri yang melintas di perairan Sabang dapat singgah dan menggunakan berbagai jasa yang ditawarkan.

Majunya industri pariwisata Sabang akan memberikan efek ganda (multiflyer effect) pada berbagai sektor lain seperti jasa perhotelan, jasa transportasi dan penerbangan, rumah makan, jasa tour dan biro perjalanan dan lain-lain. Bahkan majunya industri ini diprediksikan akan membawa pengaruh yang sangat cepat terhadap ekonomi masyarakat Sabang dan Aceh.

Daratan lainnya seperti yang ditunjukkan beberapa daerah lainnya di Indonesia seperti Bali, toraja, Minahasa dan beberapa negara yang fokus mengembangkan sektor ini secara serius seperti malaysia, Singapura, thailand, korea Selatan dan beberapa negara lain di dunia seperti negara-negara di eropa.

Pulau Weh memiliki ikon wisata yang lumayan banyak dan bagus, mulai dari Tugu KM 0 Sabang, Pantai Iboeh, taman laut Pulau rubiah, Pantai gapang, Gua Sarang, danau Aneuk Laot, hingga panaroma Teluk Sabang dan Ujong Seukundo. Potensi yang cukup besar yang dimiliki Sabang dan adanya kenyamanan serta iklim investasi yang kondusif akan menjadi penarik bagi investor dalam dan luar negeri untuk menanam modalnya di Aceh.

BPKS mengharapkan untuk menempatkan figur yang memiliki kamampuan menejerial, visioner, ulet dalam bekerja dan mudah beradaptasi dengan berbagai komponen untuk memajukan kawasan Sabang dan kepulauan aceh lainnya. Sabang telah terkenal sebagai bagian paling Barat dari Indonesia dengan kata-kata “Dari Sabang sampai Merauke” dalam sebuah lagu nasional populer. Pada kenyataannya titik paling barat Indonesia adalah di Pulau Breuh, sebuah pulau dalam kelompok Kepulauan Aceh sekitar 20 km di sebelah barat Pulau Weh.

Titik barat sebenarnya merupakan titik yang terisolasi di sebelah barat Desa Meulingge yang sangat sulit dijangkau. Titik paling utara dari Indonesia juga terdapat pada Pulau Rondo, sebuah pulau terisolasi tak berpenghuni di kelompok Kepulauan Weh sekitar 10 km utara dari Titik Ba’u yang terletak tepatnya di Desa Iboih Ujong Ba’u, Kecamatan Sukakarya, Sabang. Monumen Nol Kilometer di Titik Ba’U  berbentuk silinder, dengan tinggi sekitar 22 meter dan diameter sekitar 15 meter.

Titik 0 Km Indonesia, pict : pegipegi.com
Titik 0 Km Indonesia, pict : pegipegi.com

Berada di Pulau Weh, kota Sabang seolah dianugerahi kemolekan alam yang melimpah. Sejarah sabang adalah sejarah bagi Indonesia. Pada masa sebelum kemerdekaan, Kota Sabang menjadi tempat singgah Belanda sebelum menuju Jakarta.

Pada era tahun 1920-an, Kota Sabang sudah menjadi kota moderen dengan fasilitas pergudangan dan toko kelontong. Sebutan serambi Mekah melekat kuat pada masa lampau, jemaah haji Indonesia berangkat menuju Mekah dengan kapal, mereka singgah di Pulau Sabang untuk pemeriksaan kesehatan sebum berlayar jauh ke Timur Tengah. Pulau weh juga dimasukkan dalam buku pulau yang harus dikunjungi di dunia Must Visit Islands’ terbitan Britain Publishing company London (2008)

Berikan Komentar Anda

avatar
wpDiscuz