Bersinergi Menggarap Bioteknologi Kelautan Indonesia

spirulina
Bentuk sel spirulina atau lebih dikenal dengan ganggang hijau yang biasa digunakan sebagai bahan dasar suplemen atau bahan makanan. Spirulina salah produk biotek yang menunggu untuk di optimalkan [Istimewa]

NEWSWANTARA – Indonesia memiliki sebelas sektor ekonomi kelautan yang terdiri dari perikanan tangkap, perikanan budidaya, industri pengolahan hasil perikanan, industri bioteknologi kelautan, ESDM, pariwisata bahari, perhubungan laut, sumber daya wilayah pulau-pulau kecil, garam, industri dan jasa maritim, serta sumber daya non-konvensional.

Dari sebelas sektor industri yang ada, bioteknologi kelautan merupakan sektor yang potensinya sangat besar, bisa dikatakan belum tersentuh pembangunan. Produk bioteknologi kelautan Indonesia saat ini sebagian besar masih dimpor dari luar negeri seperti spirulina, viagra, chitin, chitosan, dan produk lainnya.

Baca juga : Tebu Transgenik Untuk Kesejahteraan Petani

Kementerian Kelautan dan Perikanan Republik Indonesia (KKP) bertekad untuk menjadikan sektor maritim sebagai sektor andalan yang memberikan sumbangsih positif terhadap pembangunan di Indonesia. Momentum ini cukup tepat dalam mengoptimalkan potensi maritim Indonesia.

Bioteknologi kelautan merupakan teknik penggunaan biota laut atau bagian dari biota laut (seperti sel atau enzim) untuk dimodifikasi menjadi produk. Kemasan produk bila dikelola akan menghasilkan produk baru yang lebih baik dan bernilai tinggi. Hal ini mampu mendongkrak pertumbuhan ekonomi.

Produk Alginat misalnya, berdasarkan data Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) kebutuhan Alginat dalam negeri mencapai 2000 ton setiap tahunnya dan seluruhnya diimpor dari AS, China, Jepang dan Perancis. Produk alginat banyak digunakan untuk industri tekstil yaitu sekitar 50%, industri pangan 30%, Industri kertas 6%, welding rods 5%, dan farmasi 5%.

Baca juga : Industri Makanan dan Minuman Sebagai Penopang Ekonomi Nasional

Besarnya produk bioteknologi kelautan yang diimpor, Menurut mantan Menteri Kelautan dan Perikanan Prof Rokhmin Dahuri, setiap tahunnya Indonesia harus kehilangan potensi devisa sebesar USS 4 Milyar atau sekitar 52 triliyun rupiah.

Sebagai langkah dalam mengoptimalkan potensi maritim yang ada di Indonesia diperlukan sinergi yang erat mulai dari Lembaga Penelitian, Perguruan Tinggi, Pelaku usaha, Industri hingga pemerintah. Sebagai negara maritim terbesar, sudah sepantasnya untuk setara dengan negara maju lainnya dengan mampu mengoptimalkan potensi yang dimiliki Indonesia saat ini. (©nws)


Diolah dari berbagai sumber 

Berikan Komentar Anda

avatar
wpDiscuz