Dean Fanggohans, Pahlawan Muda Indonesia Pada Olimpiade Kimia Tingkat Dunia

Dean Fanggohans
Dean Fanggohans. juara Olimpiade Kimia Internasional [FB Anggoro/Antara Foto]

NEWSWANTARA – Berkat Keberhasilannya meraih medali emas pada olimpiade kimia tingkat dunia atau “International Chemistry Olympiad” (IChO) ke-49 di Thailand, 6-15 Juli 2017 membuat nama lelaki berusia 17 tahun ini menjadi buah bibir di kalangan masyarakat Indonesia.

Dialah Dean Fanggohans, siswa SMAN 8 Kota Pekanbaru, sang pahlawan muda bagi bangsa ini yang terlihat tetap “membumi” setelah ia berhasil¬†mengharumkan nama Indonesia diajang internasional.

Dean Fanggohans lahir disebuah keluarga biasa di Kota Pekanbaru pada 2 Mei 2000. Ia adalah anak sulung dari tiga bersaudara dari pasangan suami-isteri Joni yang hanya lulusan SMP dan Sumanti lulusan SMEA.

Dean sudah terlihat pandai sejak kecil dan akrab dengan kompetisi bidang sains. Olimpiade pertama yang diikutinya ketika ia masih duduk di bangku kelas 3 SD, yakni Olimpiade Sains Kuark (OSK) dan berhasil menjadi juara

Meski bukan dari keluarga berada, kedua orang tua Dean selalu berupaya memenuhi kebutuhan pendidikan anaknya. Dean dari kecil selalu “haus” membaca buku, dan mendapat kebebasan untuk membeli buku apapun.

Dean sudah punya ketekunan dalam belajar sejak kecil dan disiplin. Ia bisa tahan berjam-jam belajar dikamar demi mempersiapkan diri untuk lomba. Meski begitu, ketika disekolah dia tak lupa untuk tetap bergaul bersama teman-temannya.

Semenjak belia, Dean memang terus menorehkan prestasi nasional dan internasional bagi Indonesia. Sejak dibangku sekolah tingkat pertama di SMP Kalam Kudus, Pekanbaru, Dean sudah menyabet dua medali emas Olimpiade Sains Nasional (OSN). Pada saat itu, ia juga meraih satu medali emas bidang biologi pada “International Junior Sains Olympiad” tahun 2014 di Argentina.

Prestasinya terus berlanjut di SMAN 8 dengan meraih emas di OSN 2016 di Palembang, Sumatera Selatan, sebelum akhirnya terpilih mewakili Indonesia di ajang IChO. Keberhasilan Dean sekaligus mengakhiri “puasa” medali emas Indonesia pada ajang itu, setelah terakhir kali terjadi saat IChO ke-46 di Hanoi, Vietnam pada 2014.

Keberhasilan itu tidak diraihnya dengan mudah karena pesaing lainnya sangat kuat seperti dari Tiongkok dan Taiwan, yang selalu menyapu semua emas. Ajang IChO diikuti oleh pelajar dari 80 negara di dunia. Dalam kompetisi ini setiap siswa diuji kemampuan dalam teori dan keterampilan dalam melakukan praktik di laboratorium.

Dean mulai terlihat dewasa dengan menerima kekalahan dimasa lalunya sebagai pelajaran untuk memperbaiki diri. Lelaki berkacamata ini juga mengakui bahwa orang tuanya menjadi salah satu motivasi untuk bangkit dan membangkitkan mental juaranya.

“Saya gagal karena kurang persiapan, kurang mempelajari medan. Kalau saya tidak punya mental, saya tidak akan juara sekarang”
~Dean Fanggohans~

Lelaki yang bercita-cita saya menjadi pengusaha ini sepertinya sudah jatuh hati untuk mendalami bidang kimia. Ia berencana melanjutkan studinya di universitas di Singapura untuk mewujudkan cita-citanya dimasa depan.