Bermimpi, Implementasi dan Berbagi, Kunci Kesuksesan Edwin Witarsa

Sumber: Kompas

NEWSWANTARA – Anak muda selalu diidentikan dengan keberanian dan ambisi besar. Hal itulah yang ditunjukkan oleh Edwin Witarsa, CEO sekaligus pendiri Stareast Sejahtera Group ini mau mengambil risiko besar dengan melakukan ekspansi bisnis properti ke Bintan.

Kawasan yang merupakan bagian dari Kepulauan Riau ini dipandang terlalu mahal sehingga hanya menjadi destinasi wisata pilihan bagi segelintir kalangan. Hal ini ditandai dengan kehadiran merek-merek asing mewah sekaligus mahal seperti Banyan Tree Resort, Bintan Club Med, Bintan Ria, dan Nirwana Bintan.

Dengan masuknya merek-merek besar tersebut, Bintan menjadi kalah populer ketimbang Bali. Padahal, alam pulau ini tak kalah cantik dengan apa yang dimiliki Bali, tak kalah bagus infrastrukturnya, dan tak kalah menarik kemasan dan atraksi pariwisatanya.

Bintan merupakan salah satu destinasi pilihan warga Singapura karena lokasinya paling dekat. Selain itu, dibanding Johor-Malaysia, Bintan dianggap sebagai kawasan yang lebih aman dan nyaman. Selama ini, Bintan lebih didominasi oleh orang asing saja, jarang sekali wisatawaan domestik yang berkunjung kesana.

Atas dasar itulah, Edwin dan Stareast Sejahtera berusaha bergerak maju mematahkan stigma “mahal”, dan “eksklusif” tersebut dengan mengembangkan properti yang bisa diakses oleh semua lapisan masyarakat.

Bersama Stareast, Edwin mampu menciptakan sebuah konsep properti yang tidak sekadar berbeda, melainkan juga bisa mendatangkan jumlah kunjungan wisatawan dari berbagai kalangan.

Karena itu, Edwin mulai merintis divisi usaha entertainment, dan transportasi. Nantinya, divisi usaha ini akan bekerja mempromosikan Pulau Bintan, lengkap dengan atraksi pariwisatanya, dan hiburan-hiburannya.

Edwin Witarsa terlahir dari keluarga yang menggeluti usaha komoditas, hasil bumi, dan perdagangan umum. Sarjana manajemen informasi dari University of Southern California tahun 2002 dan Master Degree di University of Toronto tahun 2004 ini memulai debut bisnis profesionalnya sebagai distributor ban produksi Taiwan.

Untuk berkembang memaksimalkan kreativitas, dan inovasinya, dia pun mulai melakukan diversifikasi usaha di sektor bisnis lainnya. Hal ini dia jalani, karena jika hanya fokus pada satu bidang, tidak akan membuat usahanya berkembang seperti apa yang diharapkan.

Atas dasar itulah, sejak 2007 Edwin menggeluti dunia properti. Sejumlah properti telah dikembangkan di Medan, Sumatera Utara, dan Pekanbaru, Riau. Dalam menjalani bisnis propertinya, dia memiliki prinsip hanya membangun properti sesuai dengan kebutuhan pasar. Karena itu, sebelum merealisasikan seluruh rencananya, studi kelayakan atau feasibility study  dilakukan minimal enam bulan sebelumnya.

Di usianya yang belum genap 40 tahun, Edwin dan Stareast telah memiliki aset senilai lebih dari setengah triliun rupiah. Bagi Edwin, pencapaian tersebut merupakan hasil dari tiga kunci bermimpi, implementasi, dan berbagi yang dianut tidak hanya oleh dirinya juga seluruh karyawannya.

Edwin percaya bahwa semua karyawannya punya mimpi, itu harus diwujudkan. Mereka punya skill , dan dia selalu membangun kepercayaan dan mendelegasikan pekerjaan yang bisa mereka lakukan. Itu kuncinya.

Pria yang mengidolakan Soedono Salim, Bill Gates, dan Richard Branson ini memiliki harapan tak hanya sekedar membesarkan nama Stareast, melainkan juga membangun “monumen kehidupan” berupa Stareast Foundation.

Stareast Foundation ini semacam institusi untuk program-program berbagi atau give back kepada masyarakat yang merasakan manfaat dari pengembangan-pengembangan yang telah dilakukannya selama ini.


Sumber: Kompas

Berikan Komentar Anda

avatar
wpDiscuz