Perjalanan Panjang Dinasti Keluarga Pencipta Lumpia Semarang

Lumpia
Lumpia

NEWSWANTARA – Jika kita berkunjung ke Semarang tak lengkap rasanya jika belum mencicipi kudapan khas kota yang mendapat julukan sebagai Venetië van Java ini. Makanan Lumpia sudah sangat melekat dengan Kota Semarang sebagai makanan khas atau oleh-oleh.

Lumpia Semarang adalah sejenis makanan rollade yang berisi udang, rebung, ayam, atau telur. Jika melihat sejarah Lumpia sendiri, jenis makanan ini bisa ditemukan di beberapa negara di Asia seperti Tiongkok, Vietnam, dan Filipina, tentunya dengan nama dan adonan yang berbeda-beda.

Lumpia Semarang sendiri konon merupakan kuliner perpaduan antara Tiongkok dan Indonesia, yang awalnya dibuat oleh pasangan Tjoa Thay Yoe dari Tiongkok dan Mbok Wasih yang menghasilkan cita rasa manis yang digemari masyarakat Semarang.

Orang Semarang sendiri ada yang menyebutnya Lunpia dan ada juga yang menyebutnya lumpia, keduanya tidaklah salah. Lun atau lum berarti lunak atau lembut, tergantung pada dialek pengucapnya. Pia sendiri berasal dari dialek Hokkian yang berarti kue. Pada awal mulanya memang lumpia Semarang ini tidak digoreng.

Lalu bagaimana sejarah kehadiran lumpia di kota Semarang? Berikut ini ulasan dari perjalanan panjang dinasti keluarga pencipta lumpia Semarang mulai dari tahun 1870 hingga saat ini.

GENERASI 1: TJOA THAY JOE DAN MBOK WASIH (1870)

pencipta lumpia Semarang

Tjoa Thay Yoe dan Mbok Wasih menciptakan jajanan khas Semarang ketika zaman kolonial Belanda sekitar tahun 1870. Keduanya menggabungkan akulturasi budaya antara Tionghoa dan Jawa pada racikan lunpianya. Lumpia yang awalnya hanya berisi potongan rebung atau bambu muda kemudian ditambahkan juga telur ayam serta bumbu rempah lainnya agar rasanya semakin nikmat.

GENERASI KE-2: SIEM GWAN SING & TJOA PO NIO (1930)

Sepeninggal Tjoa Thay Joe, resep lunpia khas Semarang diwariskan kepada putranya yaitu Siem Gwan Sing yang menikah dengan Tjoa Po Nio. Kala itu jajanan lumpia menjadi primadona di kalangan warga Semarang baik keturunan Tiongkok maupun penduduk asli Semarang.

Halaman Selanjutnya→

Berikan Komentar Anda

avatar