Sumsel Masih Menjadi Penyuplai Karet Nasional

[Republika]

NEWSWANTARA – Menduduki peringkat kedua sebagai daerah penghasil karet terbesar di dunia, produksi karet Indonesia masih di bawah Thailand dengan total produki mencapai 3,2 ton. Sebagian besar komoditi karet di Indonesia berasal dari Sumatera dan Kalimantan. Produki karet terbesar di Indonesia terdapat di daerah Sumatera Selatan.

Sebagai produsen karet terbesar kedua di dunia, jumlah suplai karet Indonesia penting untuk pasar global. Sejak tahun 1980an, industri karet Indonesia telah mengalami pertumbuhan produksi yang stabil. Produki karet Sumsel sendiri mencapai 1,2 juta ton, berkontribusi sekitar 35% dari total produksi nasional.

Persebaran daerah penghasil karet meliputi 7 kabupaten/kota yang ada di Sumsel. Mulai dari Kabupaten Banyuasin, Musi Rawas, Muara Enim, Ogan Komering Ulu (OKU), Ogan Timur dan Ogan Komering Ilir, dengan total luas lahan mencapai 1,2 juta Ha. Luas lahan karet Indonesia saat ini sebesar 3,4 juta hektar dan menjadi yang terbesar di dunia.

Sekitar 85% dari produksi karet Indonesia diekspor. Hampir setengah dari karet yang diekspor ini dikirimkan ke negara-negara Asia lain, diikuti oleh negara-negara di Amerika Utara dan Eropa. Lima negara yang paling banyak mengimpor karet dari Indonesia adalah Amerika Serikat (AS), Republik Rakyat Tiongkok (RRT), Jepang, Singapura, dan Brazil.

Dibandingkan dengan negara-negara kompetitor penghasil karet yang lain, Indonesia memiliki level produktivitas per hektar yang rendah. Hal ini ikut disebabkan oleh fakta bahwa usia pohon-pohon karet di Indonesia umumnya sudah tua dikombinasikan dengan kemampuan investasi yang rendah dari para petani kecil, sehingga mengurangi hasil panen.

Industri hilir karet Indonesia masih belum banyak dikembangkan. ketergantungan pada impor produk-produk karet olahan masih tinggi karena kurangnya fasilitas pengolahan domestik dan kurangnya industri manufaktur yang berkembang baik. Rendahnya konsumsi karet domestik menjadi penyebab mengapa Indonesia mengekspor sekitar 85% dari hasil produksi karetnya.

Kendati begitu, di beberapa tahun terakhir tampak ada perubahan (walaupun lambat) karena jumlah ekspor sedikit menurun akibat meningkatnya konsumsi domestik. Sekitar setengah dari karet alam yang diserap secara domestik digunakan oleh industri manufaktur ban, diikuti oleh sarung tangan karet, benang karet, alas kaki, ban vulkanisir, sarung tangan medis dan alat-alat lain.

Khususnya Sumatera Selatan, terealisasi Kawasan Ekonomi Khusus Tanjung Api-Api salah satu langkah untuk stimulasi komoditi karet. Adanya hilirisasi industri karet dalam mengolah bahan mentah menjadi bahan setengah jadi nantinya dapat meningkatkan nilai tambah dalam ekspor bahan karet.


Sumber : indonesia-investments.com

Berikan Komentar Anda

avatar
wpDiscuz