Mengoptimalkan Potensi Kakao Di Indonesia

seraong peti yang sedang memanen buah kakao [pict. kaltimpost.com]

NEWSWANTARA – Indonesia sebagai produsen kakao terbesar di dunia setelah Ghana memiliki potensi untuk memaksimalkan sektor agribisnis yang ada. Indonesia mempunyai potensi yang sangat besar dalam pengembangan agribisnis bahkan dimungkinkan akan menjadi leading sector dalam pembangunan nasional.

Sulawesi menyumbang hampir 60% produksi kakao Indonesia (Nielson, 2007). Sebagian besar produksi kakao diekspor dalam bentuk biji (bahan baku) sedangkan ekspor dalam bentuk olahan baru mencapai 17-20% (Dirjen Bina Produksi Perkebunan, 2012).

Untuk daerah kedua terbesar produksi kakao ditempati oleh Pulau Sumatera dengan luas areal mendekati 300 ribu ha yang terpusat di Propinsi Nangroh Aceh Darussalam. Selebihnya tersebar di Pulau Kalimantan, Bali, Maluku hingga Papua.

Peluang pasar kakao Indonesia relatif masih terbuka khususnya biji kakao masih baik sehingga masih mempunyai peluang untuk meningkatkan ekspor. Perlunya pengembangan pasar domestik bertujuan untuk meningkatkan industri hilir kakao dalam negeri.

Kakao telah menjadi bahan yang penting dalam industri makanan seperti roti, biskuit, permen, dan lain sebagainya. Tidak hanyak mengekspor dalam bentuk biji akan memberi nilai tambah yang dapat di peroleh sebagai produsen kakao.

Untuk menghasilkan produk kakao yang berkualitas, tidak hanya tergantung pada varietas dan lingkungan pertumbuhan tanaman kakao, tetapi juga pada tahapan pengolahan. Salah satu proses pengolahan utama adalah proses fermentasi untuk dapat dijadikan evaluasi.

Kakao Indonesia masih dihargai paling rendah di pasaran Internasional karena didominasi oleh biji-biji non fermentasi. Dalam peningkatan produktivitas Penerapan pola dan manajemen budidaya yang benar tentu memerlukan ilmu yang memadai dapal pengoptimalannya.

Proses pengolahan kakao meliputi pemanenan, pengupasan, pembersihan dan fermentasi biji, pencucian biji, pengeringan biji, sehingga dihasilkan biji kakao yang siap diolah kembali menjadi berbagai produk makanan dan minuman. Komoditi kakao yang tergolong dalam agribisnis memiliki peluang besar.

Meningkat potensi agribisnis akan membawa indonesia dengan ketergantungan dari luar. Alam indonesia yang subur menjadi faktor kunci untuk bisa keluar dari produk-produk impor. Pengembangan agribisnis di Indonesia mempunyai potensi besar dan bahkan dimungkinkan dapat menjadi sektor unggulan dalam pembangunan nasional.

Berikan Komentar Anda

avatar
wpDiscuz