Kapur Barus, Getah Wangi Khas Nusantara Yang Keberadaannya Nyaris Punah

Pohon Kapur Barus
Pohon Kapur Barus (Dryobalanops aromatica) [Wikipedia]

NEWSWANTARA – Kapur barus atau yang bisa disebut dengan kamper, merupakan rempah berbentuk zat padat kristal putih dan agak transparan dengan aromanya yang khas dan kuat. Kristal putih tersebut diperoleh dari batang pohon kapur (Dryobalanops aromatica) dan Cinnamomum camphora.

Nama kapur barus bermula pada Kota Barus yang merupakan sebuah kecamatan di Kabupaten Tapanuli Tengah, Sumatera Utara. Dari kota inilah awal mula nama “kapur barus”, atau yang lebih dikenal orang dengan kamper, berasal dan tersohor sejak dahulu kala.

Kapur barus ini oleh masyarakat digunakan sebagai pengharum pakaian, pengusir rengat dan bahan pengawet non makanan. Sejak dulu, kapur barus telah menjadi komoditas perdagangan yang cukup penting, sehingga menarik perhatian para saudagar Timur Tengah yang dibuktikan dengan situs pemakaman Mahligai dan Papan Tinggi yang bertuliskan Arab Kuno (Persia) yang diperkirakan pada abad VII atau sekitar tahun 661 masehi.

Khasiat kapur barus sebagai obat pernah disebut beberapa kali dalam naskah Ramayana versi Jawa yang ditulis pada abad ke-9. Kapur barus dapat diminum untuk mengobati gangguan asam lambung, usus halus, dan perut besar, jika dijilat dan ditelan sedikit dapat menghangatkan badan serta dipercaya mampu mencegah kehadiran serangga di lingkungan tempat tinggal.

Kapur barus jika digunakan dalam dosis tertentu dapat menghilangkan bau jenazah. Berdasarkan sejarah, kapur barus dari Desa Barus ini terkenal hingga Mesir karena digunakan sebagai pengawet mumi-mumi Firaun

Selain itu, kapur barus dengan jenis Dryobalanops juga dapat mencairkan darah beku pada kasus pembekuan darah atau penyumbatan pembuluh darah pada jantung maupun otak manusia.

Dalam laporan penelitian yang dilakukan di bawah naungan Balai Penelitian Pengembangan Lingkungan Hidup dan Kehutanan Aek Nauli, Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan tahun 2017 yang bertajuk Kamper: Hasil Hutan Bukan Kayu yang Semakin Hilang, hasil penelitian tersebut menyebutkan bahwa di pantai barat Sumatera, saat ini pohon kapur hanya dijumpai pada beberapa spot hutan yang tersisa di Subulussalam, Aceh Singkil dan Barus.

Di Indonesia sendiri, kamper dengan jenis D. aromatica kini sudah jarang ditemukan keberadaanya dan saat ini hanya dijumpai di Kepulauan Riau dan ketiga lokasi yang disebut sebelumnya.

Kelangkaan dan semakin terancam punahnya spesies tanaman ini diakibatkan oleh ekspoitasi penebangan yang tidak terkendali untuk mendapatkan kristal kapur di dalamnya.

Kandungan kapur dalam setiap pohon tidaklah sama, bahkan terkadang sangat kurang atau tidak ada. Ancaman lainnya diakibatkan oleh kerusakan hutan dan kebakaran hutan serta konversi lahan menjadi perkebunan kelapa sawit.

Penurunan populasi pada habitat alaminya mengakibatkan D. aromatica dimasukkan dalam daftar merah spesies terancam punah IUCN dengan status Kritis (Critically Endangered). Status ini merupakan status keterancaman dengan tingkatan paling tinggi sebelum status punah.

Sekedar infomasi, kapur barus yang saat ini digunakan oleh masyarakat merupakan kapur barus tiruan (sintetis) dan aslinya berasal dari getah pohon yang umurnya beratus-ratus tahun yang ada di hutan.

Berikan Komentar Anda

avatar
wpDiscuz