Stadion Gelora Bung Karno
Wajah Baru Stadion Gelora Bung Karno (GBK) yang menjadi kebanggaan bangsa Indonesia [Pict: Instagram@luckyajipramono]

NEWSWANTARA – Renovasi yang dilakukan untuk mempercantik Stadion Utama Gelora Bung Karno (SUGBK) telah berhasil mencatatkan rekor dunia. Perhelatan Asian Games 2018 menjadikan SUGBK menjadi stadion utama dalam upacara pembukaan kontes olahraga bergengsi se-Asia. Stadion yang menjadi kebanggaan bangsa Indonesia dari rekam jejaknya.

Memiliki daya lampu 3.500 lux, stadion kebanggaan Indonesia ini menempati peringkat keempat stadion paling terang di dunia, mengalahkan Stadion Wembley di Inggris. Sistem pencahayaan yang terintegrasi dengan sistem tata suara yang berkekuatan hingga 80 ribu watt PMPO (peak music power output) patut menjadi kebanggaan bangsa Indonesia.

Gelora Bung Karno dibangun saat perhelatan Asian Games ke IV Tahun 1962. Seusainya penyelenggaraan Asean Games III Tahun 1958 di Tokyo, Asian Games Federation menunjuk Indonesia untuk menjadi penyelenggara Asian Games ke IV Tahun 1962. Presiden R.I. Pertama Ir. Soekarno segera menjawab tantangan itu dengan menentukan lokasinya.

Melihat letak geografis dan pengembangan kota Jakarta di kemudian hari, maka pilihan jatuh di kawasan senayan dengan luas area 300 ha yang merupakan batas antara Jakarta Kota dan Satelit Kebayoran Baru pilihan ini tentunya berdasarkan kesepakatan Soekarno, Menteri Olahraga saat itu Maladi, dan sang arsitektur Fredik Silaban.

Baca Juga: Cerita Tentang Kesederhanaan dan Kejujuran Mohammad Hatta

Pembangunannya didanai dengan kredit lunak dari Uni Soviet sebesar 12,5 juta dollar AS yang kepastiannya diperoleh pada 23 Desember 1958. Pemancangan tiang keseratus SUGBK disaksikan langsung secara simbolis oleh Perdana Menteri Uni Soviet, Nikita Kruschev mengingat pembangunannya didanai dengan kredit lunak dari Uni Soviet sebesar 12,5 juta dollar AS pada 23 Desember 1958.

Stadion Gelora Bung Karno
Stadion GBK pada masa awal pembangunannya [Pict: Istimewa]

Hal yang istimewa tentang Stadion Utama ini terletak ‘atap temu gelang’ berbentuk oval. Sumbu panjang bangunan (utara-selatan) sepanjang 354 meter, sumbu pendek (timur-barat) sepanjang 325 meter. Stadion ini dikelilingi oleh jalan lingkar luar (athletic tracks) sepanjang 920 meter.

Dengan kapasitas sekitar 100.000 orang, stadion yang mulai dibangun pada pertengahan tahun 1958 dan penyelesaian fase pertama-nya pada kuartal ketiga 1962 ini merupakan salah satu yang terbesar di dunia. Menjelang Piala Asia 2007, dilakukan renovasi pada stadion dan mengurangi kapasitas stadion menjadi 88.083 penonton.

Stadion Utama Gelora Bung Karno diresmikan pada 24 Agustus 1962 yang juga berbarengan dengan tayangan perdana Televisi Republik Indonesia (TVRI). Keberhasilan Indonesia menjadi tuan rumah Asian Games IV telah menjadi bukti bahwa Indonesia sudah menjadi negara yang berdaulat.

Dalam rangka de-Soekarnoisasi, pada masa Orde Baru, nama Stadion ini diubah menjadi Stadion Utama Senayan. Setelah bergulirnya gelombang reformasi pada 1998, nama Stadion ini dikembalikan kepada namanya semula melalui Surat Keputusan Presiden No. 7/2001.  Yaitu Stadion Gelora Bung Karno.

Meski GBK kemudian “dikepung” berbagai gedung yang bukan untuk olahraga, fungsinya sebagai ruang terbuka hijau tetap dipertahankan. Melalui kerja sama dengan Pemda DKI Jakarta yang disusun melalui Rencana Induk Kawasan Gelora Senayan yang menetapkan Koefisien Dasar Bangunan maksimum 20 persen.

Ini berarti 80 persen dari luas kawasan dipertahankan tetap terbuka. Ruang terbuka itu kemudian menjadi 84 persen setelah peningkatan dan penataan Parkir Timur menjadi Taman Parkir, pembangunan gerbang di Plasa Selatan (menghadap ke Jalan Jenderal Sudirman), dan penggantian pagar lingkungan pada pertengahan 2004.

Berikan Komentar Anda

avatar