Bandung Miliki Microlibrary Pertama di Dunia dari Ribuan Ember Es Krim Bekas

Perpustakaan unik
Perpustakaan unik pertaman di dunia dari ember bekas es krim [Istimewa]

NEWSWANTARA – “Buku adalah jendela dunia” sebuah kode binari yang tersusun rapi dari ribuan ember es krim bekas yang sekaligus berfungsi sebagai penutup ruangan tingkat dua dari gedung Microlibrary (Microlib), sebuah perpustakaan Kelurahan yang terletak di Taman Bima, Kelurahan Arjuna, Kecamatan Cicendo, Bandung, Jawa Barat.

Microlibrary dibangun menjadi awal misi Bandung sebagai kota buku. Microlibrary ini dirancang oleh Daliana Suryawinata dari SHAU Architecture. Gagasan arsitektur perpustakaan untuk komunitas ini digadang sebagai yang pertama di dunia.

Penggunaan ember es krim bekas untuk dekorasi dinding perpustakan berfungsi sebagai ventilasi, sehingga udara dari luar dapat masuk langsung tanpa memasang AC (Air Conditioner) lagi. Pengunjung pun juga dapat melihat isi perpustakaan dari luar.

Baca Juga : Bike Sharing Wujud Nyata Mengurangi Permasalahan Di Perkotaan

Dengan menggunakan ribuan ember es krim bekas tersebut secara tidak langsung menawarkan konsep ramah lingkungan. Sebab, sumber pencahayaan di siang hari berasal dari sinar matahari dapat masuk kedalam area microlibrary.

Selain ramah lingkungan, pemilihan desain dari ember es krim ini juga ramah penggunaan listrik. Konsep ember es krim tersebut juga dapat menunjukan bahwa barang-barang bekas pun dapat memiliki sebuah nilai seni tinggi yang mendorong generasi muda untuk berpikir secara kreatif.

Proses pembangunan Microlibrary dengan luas 160 meter persegi ini memerlukan waktu 3 bulan den memakan total biaya sebesar Rp 520 juta yang berasal dari sumbangan Yayasan Dompet Duafa.

Di lantai dasar, terdapat semacam aula mini yang bisa digunakan sebagai tempat pertemuan, diskusi, dan acara lainnya. Sedangkan pada lantai dua berisi rak yang berisi ratusan buku.

Selain membaca buku, di perpustakaan bisa juga memainkan permainan tradisional. [Istimewa]

Karya SHAU Architecture & Urbanism yang berkantor di Bandung, juga di Jerman dan Belanda, itu berhasil memenangi The Architizer A+Awards 2017 untuk kategori Concepts-Architecture +Community. Architizer A+Awards adalah program tahunan untuk mempromosikan karya arsitektur dan desain produk terbaik.

Microlib Bandung terpilih menjadi yang terbaik, oleh juri maupun pengunjung situs Architizer A+Awards yang beralamat Architizer.com. Situs ini merupakan komunitas daring arsitektur terbesar di dunia, dengan 3 jutaan pengunjung per bulan. Adapun 400 juri dari berbagai disiplin ilmu yang relevan, maupun para praktisi di bidang fesyen, penerbitan, desain produk, atau para pengembang.

Gedung perpustakaan ini merupakan hasil kerja sama Pusat Sumber Belajar (PSB), Makmal Pendidikan Dompet Dhuafa, dengan SHAU Architecture & Urbanism, Dompet Dhuafa Jawa Barat, dan Pemerintah Kota Bandung.

Selain ruang perpustakaan, terdapat aula mini yang dapat dijadikan tempat untuk diskusi, arisan, atau acara komunitas lainnya. Ember es krim bekas dijadikan dinding sekaligus fasad pada lantai dua. Kode binari “Buku adalah jendela dunia”, merespons rendahnya minat baca: Dari seribu penduduk, hanya satu yang memiliki minat baca tinggi.

Pada saat diresmikan oleh Wali Kota Bandung, Ridwan Kamil, perpustakaan itu punya koleksi 537 buku. Dompet Dhuafa menyumbang 150 buku, sisanya dari Kantor Perpustakaan Arsip Daerah Kota Bandung sebanyak 387 buku.

Berikan Komentar Anda

avatar
wpDiscuz