Pengrajin Tempe Desa Sanan Raih Pendapatan Hingga Rp 1 Miliar Sehari

pengrajin tempe desa sanan

NEWSWANTARA – Tempe, siapa yang tak mengenal panganan khas satu ini. Tempe merupakan panganan lokal yang mudah disulap menjadi berbagai menu menggoyang lidah, seperti mendoan, sambal goreng tempe, keripik tempe, sambal tempe, burger tempe, hingga olahan lainnya.

Di Malang, Jawa Timur tepatnya, ada sebuah desa yang mengukuhkan diri sebagai pusat pengrajin tempe, yakni Desa Sanan. Ada sekitar 400 pengrajin yang memproduksi tempe di desa ini.

Desa Sanan yang memiliki tiga RW ini setiap harinya tercatat menghabiskan sekitar 30 ton kedelai yang diolah untuk menghasilkan tempe. Perputaran uang di desa ini hanya dari memproduksi tempe saja telah mencapai Rp 1 miliar per harinya.

Baca Juga : Menikmati Kesejukan Wisata Alam Hutan Bambu di Boon Pring Malang

Satu hal yang cukup disayangkan adalah, produksi kedelai dari Indonesia yang masih kurang membuat para pengrajin tempe di desa ini baru bisa dipenuhi dengan cara impor. Kedelai-kedelai yang digunakan para pengrajin tempe di Desa Sanan berasal dari Amerika Serikat. Selain harganya yang lebih murah, dan ketersediaan bahan yang stabil menjadi alasan mengapa mereka memilih kedelai impor dibanding lokal.

Perbedaan harga antara kedelai impor dan lokal pun bisa dibilang cukup signifikan. Harga kedelai lokal, bisa mencapai Rp 15.000 hingga Rp 35.000 per kilogram. Sedangkan kedelai Amerika Serikat dibanderol hanya Rp 6.300 per kilogram.

Walaupun dari segi rasa kedelai lokal memang lebih enak akan tetapi bahan baku kedelai impor cenderung bisa menjanjikan keuntungan yang lebih besar bagi para pengrajin tempe di Desa Sanan.

Pengrajin tempe di Desa Sanan [Malangtimes/Rully]

Untuk mewadahi para pengrajin tempe, dibentuklah sebuah paguyuban yang menjadi wadah komunikasi para pengrajin sekaligus memudahkan akses para pengrajin memperoleh bantuan seperti alat-alat produksi tempe.

Awal 2017 yang lalu paguyuban pengrajin tempe Desa Sanan menerima bantuan dari Dinas Perindustrian Kota Malang berupa dana revitalisasi senilai Rp 1,9 Milliar. paguyuban ini diberi mesin pemecah kedelai, mesin pemotong, dan lainnya.

Proses pembuatan tempe di desa ini tak jauh berbeda dengan pembuatan tempe pada umumnya. Pertama, kedelai direbus setengah matang hingga mengembang. Setelah terasa agak lunak, kedelai-kedelai tersebut dipecah lalu dipisahkan kulit arinya.

Kedelai yang telah terpisah dengan kulitnya lalu direndam selama 18 jam. Kenapa lama?, karena butuh pH naik supaya proses tempe lebih sempurna. Tekstur air nantinya akan menjadi agak kental karena pH naik. Setelah kental baru diganti airnya. Setelah itu dilakukan perebusan kedua sampai air mendidih.

Kemudian, barulah kedelai ditiriskan dan dilanjutkan dengan proses peragian. Ada dua jenis ragi yang bisa digunakan untuk membuat tempe. Pertama ragi tradisional yang juga berasal kedelai dan kedua ragi tepung yang cocok bagi mereka yang membuat tempe dalam jumlah kecil. Setelah itu kedelai dicetak dan didiamkan hingga dua hari hingga jadi tempe.

Saat ini Desa Sanan juga dijadikan sebagai destinasi wisata bagi wisatawan lokal maupun mancanegara yang berkunjung ke kota Malang. Wisatawan bisa menengok langsung proses pembuatan tempe dan jenis olahan tempe lainnya sekaligus.

Berikan Komentar Anda

avatar
wpDiscuz