Olah Limbah Ikan Nila Jadi Camilan, Omzet Ratusan Juta Perbulan

ikan nila
Siapa yang menyangka, ternyata hasil olahan dari limbah ikan nila memiliki nilai ekonomi yang cukup tinggi.

NEWSWANTARA – Duri ikan nila yang awalnya hanya sebuah limbah dari proses pembuatan daging fillet (daging yang dipisahkan dari tulang) ternyata bisa diolah kembali menjadi beraneka macam camilan yang bernilai ekonomi tinggi.

Ratnasari Irawati Sugiyarto, Ketua Pembinaan Kesejahteraan Keluarga (PKK) Desa Ponggok, Kecamatan Polanharjo, Kabupaten Klaten ini telah berhasil mengolah duri ikan nila sebagai camilan bernilai ekonomis.

Inovasinya tersebut bermula dari kebosanannya dengan kegiatan PKK yang sangat konvensional, maka pada tahun 2015, Ratnasari Irawati menginisiasi sebuah gerakan diversifikasi bahan pangan dari limbah ikan nila.

Baca Juga : Semanggi Suroboyo, Sajian Kuliner Khas Kota Pahlawan Yang Mulai Langka

Sejak itu, Ratnasari meminta pertemuan bulanan PKK dilaksanakan bergilir di tiap RW. Ada lima RW di Desa Ponggok. Alumnus Fakultas Peternakan Universitas Gadjah Mada Yogyakarta itu juga mewajibkan anggota PKK menciptakan kreasi makanan berbahan dasar nila. Nila dipilih karena Ponggok adalah salah satu sentra nila di Jawa Tengah.

Walhasil, muncullah sejumlah variasi camilan serba nila seperti nugget, otak-otak, pangsit, prastel, abon, kerupuk kulit, eggroll, kecipir, rengginan, dan stik duri ikan. Dari sepuluh jenis camilan itu, hanya nugget nila yang bahan bakunya dari daging. Adapun sembilan camilan lainnya dari hasil olahan duri ikan nila.

Cara mengolah duri ikan nila cukuplah mudah. Setelah melalui proses fillet, duri ikan nila langsung dipresto dan diblender. Setelah menyerupai bubur, duri ikan dicampur dengan tepung dan bumbu.

Agar cita rasa nila tetap terjaga, komposisi adonannya 25 persen duri ikan dan 75 persen tepung. Walaupun kelihatannya cukup mudah, tetapi resep pengolahan duri ikan menjadi bermacam camilan ini membutuhkan proses selama dua tahun.

Sepuluh jenis camilan nila itu bisa dijumpai di toko dan pusat oleh-oleh di Desa Ponggok. Harganya bervariasi tergantung jenis dan beratnya, mulai Rp 3.000 sampai Rp 17.500 per bungkus. Adapun harga per kilogramnya berkisar Rp 60.000 – Rp 70.000.

Untuk mendongkrak penjualan produk camilan nila, sejak September 2016, PKK Desa Ponggok bekerja sama dengan BUMDes Tirta Mandiri yang mengelola obyek wisata Umbul Ponggok. Dengan membayar tiket seharga Rp 15.000, pengunjung Umbul Ponggok akan mendapat satu kemasan camilan.

Sejak bekerja sama dengan BUMDes Tirta Mandiri, PKK Desa Ponggok yang terdiri dari lima kelompok bisa mengolah sekitar 25 kilogram ikan nila per hari. Omzet yang didapat dari penjualan camilan ini berkisar Rp 100 – 125 juta per bulan. Sebagian keuntungannya untuk membayar gaji para anggota PKK.