Mandiri Menyehatkan Negeri Melalui Industri Farmasi

industri farmasi
[Kompas/Heru Sri Kumoro]

NEWSWANTARA – Manusia yang sehat adalah manusia yang produKtif. Kesehatan menjadi penting dalam mewujudkan produktifitas. Produktifitas akan meningkatkan manusia Indonesia dalam mendorong peningkatan ekonomi Indonesia.

Industri farmasi yang menjadi penyokong kesehatan berperan penting agar bisa mandiri hingga mampu mewujudkan kesejahteraan bagi masyarakat. Tidak ingin menjadi pasar namun harus bisa bersaing di era global.

Kemandirian industri farmasi Indonesia menjadi kunci utama untuk bisa bersaing namun juga menjadi sehat dalam mensejahtrakan masyarakat. Penduduk di ASEAN mencapai 650 juta termasuk Indonesia di dalamnya.

Industri farmasi Indonesia tercatat sebagai penyumbang berkontribusi terbesar ± 27% dari total pangsa pasar farmasi ASEAN. Omset perdagangan dari industri farmasi di Indoesia mencapai 42 trilun.

Pasar farmasi Indonesia selalu meningkat. Saat ini ada 206 industri farmasi, 24 di antaranya penanaman modal asing (PMA), 4 BUMN dan 176 penanaman modal dalam negeri (PMDN). Tapi ini masih kurang untuk 257 juta jiwa penduduk Indonesia, jauh dibanding negara lain yang sudah ribuan industri farmasinya.

Penguasaan pasar farmasi nasional saat ini yang masih mendominasi dengan angka 70%, yang menjadikan Indonesia satu-satunya negara di ASEAN yang didominasi oleh industri lokal.

Walaupun demikian, kebutuhan bahan baku farmasi nasional masih bergantung pada hasil yang mencapai 95% masih di impor. Ini yang menjadi tantangan industri farmasi dalam negeri untuk bisa membuat bahan baku sendiri untuk bisa mandiri.

Selain ketergantungan pada bahan baku, kemampuan produksi masih terkendala oleh faktor teknologi. Meningkatkan penelitian-penelitian untuk temuan dalam alternatif bahan baku begitu sangat penting.

Jajaran akademisi harus bersinergi dalam mewujudkan kemandirian industri farmasi. Saat ini, industri farmasi Indonesia menempati peringkat 23 besar, dan diperkirakan meningkat jadi 20 besar pada 2017.