Menjaga Harimau Sumatera Sebagai Warisan

[Pict. hariansinggalang.co.id]

NEWSWANTARA – Flora dan fauna di Indonesia memiliki keberagaman hingga  dijuluki sebagai negara megabiodiversitas di dunia. Keberagaman flora dan fauna tersebut juga meliputi spesies purba dan spesies langka. Salah satu yang membuat Indonesia memiliki keanekaragaman fauna dan flora dikarenakan dari letak geografis yang mendukung bagi perkembang biakan dan tempat tinggal para fauna dan flora.

Akan tetapi fauna yang ada di Indonesia saat ini mulai menurun akibat perburuan hingga rusaknya ekosistem dari kepentingan pribadi. Hal inilah yang memprihatinkan yang nantinya bisa membawa kepunahan bagi fauna di Indonesia. Satu diantaranya Harimau Sumatera (Panthera tigris sumatrae) yang merupakan enam sub-spesies harimau yang masih bertahan hidup hingga saat ini.

Harimau Sumatera  termasuk dalam klasifikasi satwa kritis yang terancam punah (critically endangered). Harimau Sumatera menghadapi dua jenis ancaman untuk bertahan hidup. kehilangan habitat dikarenakan tingginya laju deforestasi dan terancam oleh perdagangan illegal dimana bagian-bagian tubuhnya diperjualbelikan dengan harga tinggi di pasar gelap untuk obat-obatan tradisional, perhiasan, jimat hingga dekorasi.

Populasi Harimau Sumatera yang hanya sekitar 400 ekor saat ini tersisa di dalam blok-blok hutan dataran rendah, lahan gambut, dan hutan hujan pegunungan. Sebagian besar kawasan ini terancam pembukaan hutan untuk lahan pertanian dan perkebunan komersial, juga perambahan oleh aktivitas pembalakan dan pembangunan jalan.

Status harimau sumatera menurut International Union for Conservation of Nature (IUCN) adalah terancam punah. Data terbaru menyebut, populasi harimau itu hanya sekitar 441 – 679 di alam liar. Selain itu, Harimau Sumatera merupakan salah satu satwa yang permintaannya tinggi dalam perburuan dan perdagangan satwa ilegal yang dijadikan sebagai buruan oleh sekelompok orang yang tidak bertanggungjawab.

Bersamaan dengan hilangnya hutan habitatnya, harimau terpaksa memasuki wilayah yang lebih dekat dengan manusia.  Untuk meningkatkan kepedulian, dukungan dan partisipasi publik untuk kegiatan-kegiatan konservasi Harimau Sumatera, pada Hari Harimau Sedunia tahun 2016, WWF-Indonesia memulai rangkaian kegiatan kampanye publik yang bertajuk #DoubleTigers.

Propinsi Riau adalah rumah bagi sepertiga dari seluruh populasi harimau Sumatera. Sayangnya, sekalipun sudah dilindungi secara hukum, populasi harimau terus mengalami penurunan hingga 70% dalam seperempat abad terakhir. Pada tahun 2007, diperkirakan hanya tersisa 192 ekor harimau Sumatera di alam liar Propinsi Riau.

Harimau memiliki peran penting  sebagai predator tertinggi dalam ekosistem hutan untuk menjaga keseimbangan dan kesehatan hutan tropis sehingga keberlangsungannya bisa terjamin. Konservasi harimau menjadi penting karena juga akan berdampak terhadap penyelamatan jenis-jenis satwa lainnya di hutan yang sama.

Secara khusus, WWF-Indonesia akan mendorong pembentukan unit Kesatuan Pengelolaan Hutan Konservasi (KPHK) di kawasan Suaka Margasatwa Bukit Rimbang Bukit Baling (SMBRBB) di Provinsi Riau. SMBRBB diketahui sebagai salah satu kantung populasi penting Harimau Sumatera dan beberapa satwa langka lainnya juga memiliki nilai penting bagi masyarakat.

Sumber : www.wwf.or.id