pict : kecipir.com

NEWSWANTARA – Belakangan ini, gaya hidup back to nature seakan menjadi sebuah tren baru di kalangan masyarakat khusunya di Indonesia sendiri. Bahan pangan organik pun kini menjadi primadona baru dan menjadi pilihan utama dalam menerapkan suatu gaya hidup sehat back to nature.

Disisi lain bahan pangan organik hanya bisa dijangkau oleh orang-orang yang berkantong cukup tebal, sebab harga bahan pangan organik yang biasa dijual di pasar modern ini terbilang lumayan mahal dan bisa mencapai dua-tiga kali lipat dari harga bahan pangan non-organik.

Harga dari produk organik lebih mahal dikarenakan volume produksinya tak sebanyak produk non-organik. Proses produksinya dari tanam hingga panen, juga memakan waktu lebih lama dari bahan pangan non organik.

Proses distribusi yang panjang merupakan faktor utama yang membuat harga produk organik jauh lebih mahal. Sebelum sampai ke tangan konsumen, produk organik harus melalui banyak tangan, yakni dari pengepul ke pedagang, lalu ke pasar kulakan, pasar atau kios, baru ke tangan konsumen.

Persoalan itulah yang dilihat Kecipir.com sebagai peluang bisnis dalam memangkas rantai distribusi. Kecipir mampu merevisi rantai distribusi, sehingga petani dan konsumen bisa terhubung langsung lewat Kecipir.com.

Dengan rantai distribusi yang lebih pendek, baik petani maupun konsumen sama-sama mendapatkan keuntungan dari segi harga. Petani bisa mendapatkan harga yang lebih tinggi dibanding menjual produknya ke tengkulak. Sementara itu, konsumen bisa mendapatkan harga yang lebih rendah dari harga yang ada di supermarket.

Sistem yang dibangun Kecipir.com juga memungkinkan konsumen untuk menerima produk dalam kondisi segar, karena produk yang diambil adalah produk organik dari petani atau peternak lokal yang lokasinya tidak lebih dari 100 kilometer (km) dari lokasi konsumen.

Untuk menggunakan aplikasi Kecipir.com, konsumen harus terlebih dulu mendaftar ke situs Kecipir.com atau aplikasi mobile Kecipir yang dapat diunduh secara gratis di smartphone berbasis Android dan iOS. Setelah itu, konsumen bisa memesan produk kapan pun yang di kehendaki.

Kecipir.com membagi tujuh kategori produk organik, yakni sayur daun, sayur buah, buah, bumbu, herbal, extra, dan paket. Extra berisi produk organik di luar enam kategori lainnya, seperti madu, beras, dan telur.

Adapun paket berisi beberapa jenis sayur daun dan sayur buah yang dipaket menjadi satu penawaran. Di sini, konsumen tidak bisa memilih jenis sayur yang diinginkan, tapi harganya secara total akan lebih murah dibandingkan beli per jenis.

Setiap kali barang dipesan, jumlah produk yang tersedia otomatis akan berkurang. Ketersediaan beberapa jenis produk bisa habis dalam waktu beberapa jam. Jadi, berlaku prinsip, siapa cepat, dia dapat.

Kecipir menetapkan batas waktu pemesanan, dua hari sebelum waktu pengiriman yang dipilih. Namun aplikasi Kecipir.com masih memiliki kelemahan, yakni belum melayani pengiriman sampai ke depan pintu rumah si pemesan. Kecipir hanya mengirimkan barang pesanan ke host yang bekerjasama dengan Kecipir.

Host adalah sebutan untuk titik pengambilan barang. Jadi, konsumen bisa memilih host yang paling dekat dengan dirinya dan mengambil barang pesanannya di host ini pada hari pengiriman. Saat ini, Kecipir memiliki 40 host yang baru tersebar di Jakarta, Depok, dan Tangerang. Untuk distribusinya, Kecipir baru memiliki dua mobil.

Bagi petani, Kecipir.com tak cuma memberikan harga yang lebih baik. Tapi, sistem pemesanan yang dibangun memungkinkan petani menerima pendapatan secara langsung. Berbeda halnya jika memasok ke supermarket, petani baru menerima pembayaran bisa sebulan kemudian karena supermarket menerapkan sistem konsinyasi.

Kecipir juga memungkinkan petani kecil hidup dan berkembang karena Kecipir menerima produk organik yang belum bersertifikat. Sekedar untuk pengetahuan, bahwa pemerintah mewajibkan sertifikasi produk organik sejak 2010. Biaya sertifikasi yang mahal membuat petani kecil tak mampu untuk memasarkan produknya secara luas.

Dalam urusan sertifikasi Startup yang satu ini menggolongkan produk organik menjadi tiga, yakni Grade C untuk produk organik dari pertanian yang masih dalam proses konversi dari konvensional ke organik, Grade B untuk produk organik tak bersertifikat, dan Grade A untuk produk organik bersertifikat.

Meski begitu, Kecipir juga menuntut untuk bisa mengakses langsung dan setiap saat ke lahan pertanian rekanannya (petani) agar bisa menjamin kualitas produknya. Dengan sistem pemesanan langsung, Kecipir juga bisa menekan produk yang terbuang akibat busuk atau kadaluwarsa (waste). Selama ini, waste produk pertanian di supermarket bisa mencapai 30%.

Startup yang berdiri pada April 2015 ini melakukan pendekatan intensif ke para pemilik pertanian untuk memastikan kualitas produknya serta keterjangkauan dari area konsumen. Saat ini, Kecipir bekerjasama dengan 12 pertanian, besar dan kecil.

Pada semester pertama 2016, Kecipir berambisi untuk bisa melayani seluruh Jadebotabek. Selanjutnya pada semester kedua, Kecipir akan melebarkan sayapnya ke dua kota baru, yakni Surabaya dan Bandung.

Untuk mengimbangi rencana ekspansi itu, Kecipir juga akan mendorong pertanian organik agar pasokan terjamin. Rencananya, pada semester kedua, Kecipir akan memulai farmfunding platform, yakni platform pendanaan massal (crowdfunding) untuk pertanian organik, mengingat potensi dari pertanian organik yang sangat besar untuk dikembangkan.


Sumber : kontan.com

Berikan Komentar Anda

avatar